Reporter : Poppy Setiawan

‎JAKARTA, Mattanews.co– Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri akhirnya menjebloskan tiga tersangka Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap 14 Anak Buah Kapal (ABK) Long Xing 629 ke penjara.

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo menjelaskan, ketiga tersangka yang ditangkap itu adalah, William Gozaly, Joni Kasiyanto dan Ki Agus Muhammad Firdaus

Ketiganya merupakan penyalur tenaga kerja dari tiga perusahaan berbeda.Tersangka W merupakan penyalur tenaga kerja dari PT APJ di Bekasi, F dari PT LPB di Tegal dan J dari PT SMG di Pemalang. Satgas TPPO Bareskrim Polri resmi menetapkan menjadi tersangka, pada Minggu (17/5/2020) lalu.

“Penangkapan dilakukan pada tanggal 16 Mei 2020,” kata Brigjen Pol Ferdy dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2020) kemarin.

Brigjen Pol Ferdy mengungkapkan bahwa, untuk tersangka William Gozaly berperan sebagai melakukan pendaftaran para ABK, memproses keberangkatan dan melaporkan proses perekrutan.

Kemudian, tersangka Ki Agus Muhammad Firdaus berperan sebagai mengirim ABK untuk mengikuti pelatihan dasar dan menjelaskan soal maksud dan tujuan dari perjanjian kerjasama laut (PKL) atau kontrak kerja.

Lalu, Joni Kasiyanto bertugas sebagai perekrut Anak Buah Kapal (ABK), menyiapkan tempat penampung dan memberangkatkan Ahmad Buah Kapal (ABK) ke Busan, Korea Selatan.

“Dijanjikan bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) Kapal dengan gaji sebesar 300 hingga 400 USD,” tutur Brigjen Pol Ferdy.

Sementara Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, penetapan tersangka dari hasil pemeriksaan 14 Anak Buah Kapal (ABK), kemudian keterangan Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, ‎Imigrasi Pemalang, Imigrasi Tanjung Priok hingga Syahbandar Tanjung Priok.

“Sesuai keterangan para Anak Buah Kapal (ABK), mereka mengaku direkrut melalui sponsor perorangan untuk diberangkatkan ke luar negeri. Para sponsor inilah yang membawa mereka ke tiga perusahaan penyalur tenaga kerja,” kata Kombes Pol Ahmad Ramadhan, Rabu (20/5/2020) kemarin.

Dikatakan, selanjutnya para Anak Buah Kapal (ABK) itu berangkat ke Busan, Korea Selatan menggunakan maskapai penerbangan internasional pada 13-14 Februari 2019.

“Dalam proses pemberangkatannya, penyidik menemukan ada unprosedural sehingga kasus dinaikkan dari penyelidikan ke penyidikan dan ditetapkan tiga tersangka,”kata Kombes Pol Ahmad Ramadhan.

Direktur Perlindungan warga negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), Judha Nugraha mengatakan surat kematian, H, Anak Buah Kapal (ABK) Liquing Yuan Yu 623 yang dilarung ke laut lepas Somalia tidak pernah dilaporkan.

“Kami sudah melakukan pengecekan ternyata surat tersebut tidak pernah dikirimkan, baik itu melalui Kemenlu, Kemenaker, maupun kepada BNP2TKI,” kata Judha.

Dikatakan, berdasarkan surat kematian, almarhum H meninggal pada tanggal 16 Januari 2020. PT MTB sebagai manning agency memberangkatkan para ABK Indonesia itu membuat surat keterangan kematian sejak tanggal 23 Januari 2020.

Namun, Kemlu RI baru menerima infomasi terkait peristiwa pelarungan pada tanggal 8 Mei 2020, dan pihaknya mendapatkan informasi itu hanya dari pengaduan.

Judha menjelaskan, kasus itu diketahui dari rekan sesama Anak Buah Kapal (ABK) almarhum di kapal Liquing Yuan Yu 623, pada saat dibangunkan yang bersangkutan sudah meninggal dunia tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai apa penyebab kematian.

Kemlu RI bersama kementerian lembaga terkait akan berupaya untuk memperjuangkan pemenuhan dan hak-hak Ketenagakerjaan almarhum H, diantaranya pemenuhan hak gaji, santunan, dan asuransi yang bersangkutan.

“Informasi terakhir dari PT MTB hak gaji sudah dibayarkan, santunan sebagian sudah dibayarkan. Sedangkan asuransi dalam proses administrasi. Kami akan melakukan kroscek mengenai kebenaran itu,” pungkasnya.

Selain itu, Judha mengaku pihaknya sedang berkordinasi dengan KBRI Beijing untuk mengirimkan nota diplomatik, agar pihak China melakukan penyelidikan lebih lanjut dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dialami Anak Buah Kapal (ABK) di kapal tersebut.

Atas perbuatannya, tiga tersangka dijerat  Pasal 4 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, 14 Anak Buah Kapal (ABK) WNI yang pulang ke Tanah Air, pada Jumat 8 Mei 2020. Mereka adalah awak kapal penangkap ikan berbendera China, Long Xin 629 yang tiba di Busan, Korea Selatan dengan kapal penangkap ikan Tiongkok, Tian Yu 8 pada bulan lalu.

Mereka melaporkan telah menerima perlakuan tidak manusiawi dan diskriminasi selama bekerja di kapal Long Xin 629.

Seorang awak kapal WNI lain yang tiba bersama mereka di Busan telah meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit di kota itu. Penyebab kematian Anak Buah Kapal (ABK) WNI, yang diketahui berinisial E, dikarenakan penyakit pneumonia, yang diduga berkaitan dengan kondisi hidup dan kerja di atas kapal tersebut.

Selama berada di Busan, para Anak Buah Kapal (ABK) WNI menjalani karantina selama 14 hari dan dimintai keterangan mengenai kondisi mereka saat bekerja di kapal Long Xin 629 oleh aparat penegak hukum Korea Selatan untuk ditindaklanjuti dengan penyelidikan.

Editor : Poppy Setiawan

Print Friendly, PDF & Email
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here