Harimau Turun ke Jalan, Benarkah Karena Keserakahan Manusia?

0
76

Reporter: Agustoni

LAHAT, Mattanews.co – Warga Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat dan Muara Enim merasa khawatir terkait serangan Harimau.

Kecemasan warga bukan tanpa sebab, karena hewan itu sudah menimbulkan korban jiwa hingga meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan.

Kembali, Jum’at (12/12/2019), di Hutan Ataran Seribu wilayah perbatasan Kabupaten Lahat dan Muara Enim kembali korban meninggal dunia.

Wakil Bupati Lahat, H. Hariyanto mengatakan, Harimau turun dan masuk ke pemukiman warga bukan tanpa sebab. Adanya perambahan hutan yang dilakukan tangan-tangan tak bertanggung jawab juga merupakan penyebab Harimau bebas berkeliaran.

“Pemerintah bersama KSDA, Polres Lahat dan TNI telah melakukan upaya dengan memasang jerat. Kita juga menghimbau kepada warga agar saat ini jangan dulu berada di daerah yang berdekatan dengan kawasan hutan lindung,” katanya, usai mengikuti Vidcon bersama Kapolri di ruangan rudal Polres Lahat.

Kapolres Lahat AKBP Ferry Harahap menjelaskan, kronologis kejadian semuanya dimulai dari ketidakpatuhan warga terhadap aturan, dan ketidakpedulian terhadap alam dengan merusak habitat satwa Harimau.

“Kejadian yang telah mengakibatkan jatuhnya korban semua terjadi di hutan lindung yang merupakan habitat Harimau, ada masyarakat yang merusak hutan lindung dengan merambah hutan untuk dijadikan kebun kopi, seemuanya merupakan hasil dari pemeriksaan di TKP yang dilakukan Polri bersama BKSDA,” jelasnya.

Kapolres juga menghimbau kepada pengguna Medsos, untuk tidak menyebarkan foto korban Harimau. Tujuannya untuk menghargai keluarga korban dan juga untuk tidak menyebarkan rasa ketakutan pada masyarakat. Permasalahan ini terus dipantau Polres lahat bersama pihak terkait lainnya.

“Kami bersama KSDA terus mengawasi harimau ini dan perlu diketahui masyarakat bahwa harimau adalah hewan yg dilindungi kita tidak dapat melumpuhkan harimau ketika berada dalam hutan lindung yang merupakan habitatnya dan apabila terpaksapun untuk melumpuhkan hanya dengan kondisi yang betul betul mengancam kalo tidak kitapun melanggar hukum dan dapat dituntut sanksi pidana,” tegasnya.

Terkait isu, adanya perusahan besar nakal yang berdekatan dengan wilayah hutan lindung dicurigai telah merusak habitat hingga si raja hutan turun dan sebabkan korban berjatuhan, Ferry mengatakan memang ada PT Supreme dan PT PN VII yang berdekatan. Namun pihaknya belum menemukan kalau kedua perusahaan tersebut juga ikut merusak hutan lindung dan melanggar undang undang yang ada.

“Memang ada dua perusahaan yakni PT. PN VII dan PT. Supreme hingga sekarang kita belum menemui adanya pelanggaran dimaksud, namun kita minta bersama sama untuk ikut peduli dengan habitat harimau ini dan soaialisasi tetap kita lakukan agar masyarakat tidak merambah hutan apalagi membuk kebon di hutan lindung,” terangnya.

Editor: Arie Perdana Putra

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY