Tanggal 17 April Jadi Hari Demokrasi?

0
248

Oleh : Andrei Utama,SIP

PALEMBANG, Mattanews.co – Aktivis Andrei Utama menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus bertanggung jawab terhadap korban pesta Demokrasi yang terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia, sepertinya tidak lucu jika korban meninggal karena menjadi anggota KPPS, Panwaslu, Kepolisian, dan juga TNI jumlahnya bisa menyaingi korban bencana alam. Ini adalah kegagalan dilihat dari segi apapun terlepas dari hasilnya nanti.

Menurut Andrei, berdasarkan data KPU mengatakan jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia pada saat proses rekapitulasi hasil Pemilu 2019 kembali bertambah. Saat ini tercatat sebanyak lebih kurang ratusan orang meninggal dunia dan yang sakit berdasarkan update terbaru Selasa pukul 16.30 WIB.

Mereka semua Pejuang dan pahlawan Demokrasi yang harus di catat dalam torehan tinta hitam sejarah bangsa ini.

Dan menurut Andrei tanggal 17 April 2019 harus jadi Hari Demokrasi bangsa ini dan apapun bentuk nya mereka korban dalam bertugas dan gugur sebagai kesuma bangsa, negara harus memberikan penghargaaan sebesar besarnya bagi mereka yang telah gugur, setidaknya dalam sehari kita harus coling down untuk menghormati mereka dan mengurangi tensi politik yang tinggi elit2 politik yang mengejar kekuasaan tanpa mengabaikan rasa kemanusiaan. ini bencana politik.

Menurut Andrei, Pemilu tahun 2019 adalah pertama kalinya pemilihan presiden, DPD, dan anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kota/Kabupaten dilakukan secara serentak. Ada lima lembar surat suara yang harus diisi yang artinya ada lima kotak suara. Jika tiap TPS (Tempat Pemungutan Suara) memiliki DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang berjumlah 300 orang, maka akan ada 1500 surat suara yang harus dihitung. Ini belum termasuk dengan mereka yang memakai form A5. Begitu banyaknya dokumen yang harus diisi dan ditandatangani. Saksi dari masing-masing capres dan partai pun membutuhkan Begitu juga sebaliknya. Syarat ini harus terpenuhi. Dan dalam membubuhkan ratusan tanda tangan malam itu. Ditambah tujuh anggota KPPS dan saksi-saksi, ada ribuan tanda tangan di dokumen di tiap TPS.

Beban psikologis, menurut Andrei memegang peran yang penting kenapa begitu banyaknya korban yang meninggal. Pemilu tahun ini adalah pemilu yang paling ditunggu. Sebegitu hebatnya tekanan yang ada. Setidaknya itu yang terjadi.

Kondisi fisik dan mental anggota KPPS. Ini juga mungkin yang menjadi masalah. Hujan masih terus mengguyur banyak kota di Indonesia. Tanpa Pemilu pun banyak orang yang jatuh sakit. Ditambah dengan menjadi anggota KPPS yang bekerja tanpa henti di bawah tekanan tinggi bisa memicu penyakit datang jika kondisi kita tidak fit. Mungkin banyak yang tidak siap secara fisik. Banyak yang bertanya ataupun skeptis koq bisa sih ada yang meninggal sampai puluhan orang. Fisik yang tidak siap dan mental yang terkuras.

Pemilu serentak 2019 menyisakan duka.Menanggapi hal itu, andrei menyampaikan pendapatnya.
Ia setuju jika pemilu serentak dievaluasi atau dikaji ulang. Jangan sampai pemilu ini tidak menjadi daftar baru setelah Piramida dan Tembok Cina yang juga menelan banyak korban.

Janganlah Pemilu menjadi daftar baru setelah Piramida & Tembok Cina, tentang banyaknya pekerja yg tewas untuk itu.

Dan bagi pemerintah dan DPR kedepan agar mengevaluasi secara utuh sistim penyelenggaraan pemilu yang masih amburadul dan selalu menyisakan masalah besar bagi bangsa ini.

Editor : Anang

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY