Masih Trauma, Warga Memilih Bertahan Di Tenda Pengungsian

0
63

Reporter : Fitrah

MALUKU, Mattanews.co – Pasca gempa yang mengguncang Ambon, Seram Bagian Barat (SBB) dan Malteng dengan kekuatan 6,8 SR sampai saat ini para pengungsi mengaku masih trauma dan masih memilih bertahan di tenda – tenda pengungsian.

Pantauan media ini Jumat 4-10 – 2019, sudah memasuki hari ke – 9 pasca gempa bumi di titik lokasi pengungsian baik di rindam maupun kawatu masih terlihat warga Waimital, Kairatu ,Waitasi, Waipirit, Hatusua yang masih bertahan di tenda tenda pengungsian mereka.

Bukan hanya di lokasi Rindam dan Kawatu sebaliknya juga warga pengungsian asal dusun waitasi pun masih bertahan di tenda – tenda pengungsian sampai saat ini.

Yathi, warga dusun Waitasi Desa Kairatu Kecamatan Kairatu Kabupaten SBB saat diwawancarai media ini mengaku sampai saat ini warga Waitasi masih memilih menetap di tenda pengungsian.

Diakuinya, warga masih trauma, untuk itu warga masih memilih menetap di tempat yang tinggi dan belum mau untuk kembali ke rumah masing masing.

“Memang ada warga yang pulang, tapi kembali lagi ke tenda untuk bermalam, pulang ke rumah hanya mandi,dan melihat rumah mereka saja,” jelasnya.

Hal yang sama pula di sampaikan Ibrahim salah satu pengungsi yang berlokasi di rindam dikatakannya. Kami masih memilih betah di tenda – tenda pengungsian karena masih trauma, dan katanya masih ada gempa susulan, sehingga masih membuat mereka bertahan di tenda pengungsian dari pada memilih pulang ke rumah.

“Kami masih bertahan di tenda dan belum kembali ke rumah, rasa trauma ini masih ada, apalagi masih ada gempa susulan walaupun tidak kuat seperti sebelumnya,” ungkapnya.

Dikatakannya, bukan mereka saja yang rasa trauma, mungkin saja warga yang masih memilih bertahan di tenda pengungsi rasakan hal yang sama pula dengan apa yang kita rasakan.

“Bukan itu saja, pada siang hari kami kembali melihat rumah dan itu pun tidak bertahan lama dan kembali lagi ke tenda – tenda untuk nginap lagi,” ucapnya.

“Dan mungkin ada juga pengungsi yang hanya pulang masak dan melihat rumah mereka, dan kembali lagi bermalam di masing – masing tenda, dan itu yang membuat mereka tidak bertahan lama di rumah masing – masing lantaran masih trauma,” tutupnya.

Editor : Anang

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY