Media Harus Berbadan Hukum Serta Miliki SDM Unggul

0
97

Reporter : Adi

PALEMBANG, Mattanews.co – Tantangan media saat ini cukup kompleks maka dari itu disisi lain media harus bertahan untuk menjadi salah satu pilar pembangunan bangsa. Media dan wartawan harus berfungsi sebagai edukatif bagi masyarakat serta memberikan pengetahuan dan pendidikan.

Wakil Ketua Dewan Pers, Hendri CH Bangun saat sharing dengan media dan wartawan di Diskusi Ngobrol Pintar (Ngopi) di PWI Sumsel di Gedung PWI Sumsel Jalan Supeno Palembang Minggu (10/11/2019). Ia mengungkapkan bahwa tidak dapat di pungkirkan bahwa banyak media-media yang tutup karena terempas dari persaingan, sebab media tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dan SDM yang baik.

“Kami di dewan pers banyak sekali tantangan untuk kedepan, dan harus di pilah-pilah. Sekarang ini pertanyaan besar apakah dunia pers akan tetap hidup, media cetak katanya sudah mendekati ajal, tinggal kapan matinya, sedangkan Media Siber, media siber juga sebetulnya hidup setengah mati, tidak seperti di bayangkan,” kata dia.

Dikatakannya, itu semua karena terjadi era disruption, yang diketahui discraustion itu, tapi tidak menyadari apa yang kan menjadi akibat yang akan terjadi pada era disruption.

Inovasi disruptif adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru. Serta mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada. Kemudian pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut dengan era yang lebih baru lagi.

“Contoh di Amerika pada Juni tahun ini saja sudah 3000 wartawan yang jadi pengangguran, pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2009 ada 7.900 wartawan di PHK. Penyebabnya apa?, penyebabnya media-media utama tidak mampu menghidupi dirinya, bangkrut, kita sudah pernah dengar tinggal googling saja,” ungkapnya

Sebelumnya, sambungnya, mereka media itu dapat kue iklan mahal wajar kalau bisa mensejahterakan wartawan, tapi sekarang media media utama itu tidak sanggup untuk menggaji wartawan karena kue iklan tidak semahal seperti dulu.

“Karena era discrustion ini membuat media media cetak mendekati mati. walaupun masih ada yang bertahan namun saat ini orang tinggal digemgaman, sekarang tantangan lain media siber, media siber mau ngapain, karena media siber di Indonesia hidup tanggung-tanggung, kapasitas hidup media media siber hidupnya kurang gizi, atau stunting,” ungkapnya.

Jika mengandalkan hidup dengan kerjasama dengan pemerintah seberapa besar untuk menghidupkan wartawan namun jika ingin berbeda dengan media lain harua meningkatkan kualitas dan ekslusif.

“Media siber bisa hidup Apabila memiliki liputan ekslusif, memiliki liputan investigatif, yang berbeda dengan yang lain, tapi untuk mencapai hal itu perlu SDM yang mumpuni, namun hal itu perlu biaya, jika pendapatan media tersebut hanya 30 juta mau gaji wartawan berapa, inilah masalahnya,” ucap dia.

Untuk saat ini tantangan media dan pers harus mengubah isi yang lebih mengunakan pola pendekatan ekspersif dan mengunakan hal yang berbeda.

Seperti saat ini masih banyak media yang belum berbadan hukum. Apalagi memiliki SDM yang unggul hal inilah membuat media siber di indonesia memiliki perkembangan yang lambat. Sedangkan dewa Pers berkali-kali mengajak media untuk melakukan verifikasi hal ini bertujuan agar nantinya berita yang disajikan bisa dipertanggungjawabkan. Media yang tidak memiliki badan hukum serta tidak terverifikasi merupakan media sosmed biasa

“Kami tidak akan mau menolong jika media yang tidak memiliki badan hukum terkait kasus pemberitan. Sebab kami menganggap media ini bukan bagian dari karya jurnalistik yang benar,” terangnya.

Sementara itu, dosen Fisip Unsri, Dr Andreas Lionardo MSi mengatakan, pentingnya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini kualitas seorang wartawan.

Menurut Andreas, sudah saatnya wartawan harus beralih menulis berita berdasarkan data yang valid. Hal ini penting agar media massa baik cetak, elektronik, dan media online tetap hidup.

“Wartawan harus memiliki kemampuan statistik dan memiliki big data. Ini penting agar pembaca disuguhi berita yang benar-benar memiliki data. Jadi bukan sekedar berita saja tapi pembaca bisa menjadikan berita sebagai referensi dari ilmu. Pembaca juga mendapatkan edukasi serta lebih cerdas lagi dalam membaca. Apalagi yang ditampilkan berita hoaks semata,” katanya.

Selain itu hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PWI Sumsel Firdaus Qomar mengatakan, kegiatan ini untuk memberikan wawasan bagi para wartawan demi peningkatkan kualitas wartawan di Sumsel

“Dalam rangka pencerahan bagi wartawan untuk membahas isu isu seputar dunia, baik Nasional dan internasiona, kali ini kita membahas soal Tantangan dan Peluang pers Indonesia,” kata dia.

Editor : Anang

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY