“Peran Pemuda Dalam Menangkal Radikalisme Guna Menunjang Wilayah Sumsel yang Kondusif”

0
119

Reporter : Anang

PALEMBANG, Mattanews.co – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Palembang menggelar Focus Group Discussion¬†(FGD) dengan tema “Peran Pemuda Dalam Menangkal Radikalisme Guna Menunjang Wilayah Sumsel Yang Kondusif”, Rabu (18/09/2019).

Acara sendiri mengundang pembicara yakni Dandim 0418/Palembang, Letkol Arm Widodo Noercahyo, Abdul Rahman Tayib (Mantan Ketua Eks Napiter Kelompok Palembang), Dr. Mohammad Syawaludin, M.Ag (Dosen UIN Raden Fatah Palembang). Acara juga dihadiri oleh Eza Try Yandi (Pembina PMII Kota Palembang), Ferdinan, SH. (Ketua PC PMII Kota Palembang) dan Silva Marcelina, S.Sos. (Ketua PC Kopri Kota Palembang), serta diikuti sekitar 100 orang dari pengurus dan anggota PMII Kota Palembang serta Organisasi Kepemudaan (OKP) Kota Palembang.

Dalam kesempatan itu Ketua PMII Palembang Ferdinan mengatakan, FGD yang mereka laksanakan ini mengusung tema “Peran pemuda dalam menangkal radikalisme guna menunjang wilayah Sumsel yang kondusif” dimana peran dapat terbuka dalam menagkal radikalisme dan melakukan hal-hal positif untuk mendorong kemajuan Negara Indonesia, khususnya di Wilayah Provinsi Sumsel.

“Mengapa pada FGD ini kita mengambil tema tersebut, karena Negara Indonesia telah banyak dilanda isu-isu negatif yang berkembang yang dapat memecah belah persatuan Indonsia, terutama pergerakan kelompok-kelompok radikalisme,” ucapnya.

Dilanjutkannya, dalam hal ini menurut PMII peran pemuda dalam menangkal radikalisme tersebut lebih baik dari pada penindakan.

Ditempat yang sama, Dr. Mohammad Syawaludin mengatakan jika prgerakan teroris hanya memuncukan pada gangguan keamanan saja, tetapi pergerakan radikalisme dapat menghancurkan dan ini sangat mengerikan sekali, dimana gerakan radikalisme tersebut tidak akan pernah mati.

“Kenapa gerekan radikalisme diterima oleh masyarakat, ditangkap disana muncul yang baru disini. Hal tersebut disebabkan adanya cuci otak yag dilakukan oleh kelompok kelompok radukalime. Semua Agama yang ada mereka memiliki paham radikalisme dan bukan hanya terjadi pada agama islam saja. Kelompok – kelompok radikalisme saat ini mereka tidak lagi membuat petir dan Boom, tetapi mereka akan masuk dalam konteks politik,” bebernya.

Sementara, Abdul Rahman Tayib mengatakan jika besic kita dalam mendalami ilmu Agama tidak ikut dalam pendidikan formal dan juga tidak memondok di pesantren, sebelumnya kita pernah terlibat kedalam jaringan teroris karena pada waktu itu kita tidak tahu bahwa kelompok tersebut adalah teroris.

“Jika kita mendapatkan suatu hidayah kita menjadi semangat untuk menekuni Agama Allah, lalu pada saat itu kita ikut pengajian – pengajian pada kelompok kelompok pengajian, serta mengikuti organisasi FAKTA dan mendalami Ilmu Jihad dibidang Jihad Isabillah, karena jihad tersebut merupakan puncaknya Jihad islam,” jelas dia.

“Kemudian kita bertemu dengan Noerdin M Top (Buronan Teroris) di Cilacap, disanalah kita diajarkan untuk merakit Boom dan belajar jihad Amalia. Kenapa kita menggunakan Boom. Kerena gaungnya sangat begitu besar, dengan tujuan untuk memerangi Amerika dan Sekutuhnya, yang berada di Indonesia maupun dinegara lainnya,” tambahnya.

Dilanjutkannya, kemudian kita menyiapkan Boom Taperwar. Untuk diledakan di sebuah caffe di Bukit Tinggi dengan target sudah tepat. Tombol Boom sudah di On-kan dan satunya lagi tinggal dipencet. Pada saat kita ingin meledakan Boom tersebut kita melihat ada seorang perempuan muslim yang masuk caffe tersebut, lalu peledakan Boom tidak jadi kita ledakan dilaksanakan. “Gerakan kita telah dibaca oleh Tim Densus 88 Mabes Polri, kemudian pada tahun 2008 kita ditangkap dan diponis 12 Tahun penjara, yang semestinya saat ini belum keluar, tetap di Negara kita ini mempunyai pembebasan bersyarat jadi kita haya menjalani hukuman 7 tahun penjara. ” Saya menyarankan kepada para pemuda yang ingin melakukan jihad isabibillah harus, pinter-pinter dalam memahami ilmu jihad isabibilan dengan jalur yang tepat,” imbau dia.

Sementara itu, Letkol Arm Widodo Noercahyo mengatakan, peran pemuda dalam menangkal radikalisme itu ada banyak sekali. Namun yang terpenting adalah peran pemuda yakni, agar dapat kembali kejalan yang benar. NKRI mempunyai luas wilayah dan jumlah penduduk yang sangat begitu besar, yakni lebih kurang sekitar 200 Jt penduduk dan memiliki pulau – pulau yang menghasilkan berbagai potensi alam.

“Melihat potensi yang melimpah di Indonesia negara luar dengan berbagai upaya untuk merebut wilayah Indonesia dengan memperpecah belah rakyat Indonesia dengan menanamkan ideologi radikalisme. Jika kita ingin belajar agama, jangan setengah – setenah, sehingga kita terjebak kedalam kelompok radikalisme. Karena jihad bukan hanya berperang dan membunuh orang, tetapi jihad juga dapat diartikan ke dalam menanamkan kebaikan,” paparnya.

“Islam kita adalah Islam Rahmatan Iilaamaiin. Kita tidak diajarkan untuk membunuh dan berbuat jahat kepada sesama umat manusia. Saat ini kelompok radikal kiri di Kota Palembang sudah tidak ada lagi, jajaran TNI telah bekerja keras dengan melakukan diteksi dini, cegah dini dalam upaya untuk mengantisipasi munculnya gerakan kelompok radikalisme dan terorisme di Wilayah Provinsi Sumsel,” tutupnya.

Editor : Anang

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY