Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gelar Pelatihan Tata Kelola Destinasi Pariwisata

0
96

Reporter : Mokhsen

FAKFAK, PAPUA, Mattanews.co – Hari ketiga Pemerintah Kabupaten Fakfak melului Dinas pariwisata dan kebudayaan melakukan pelatihan tata kelola destinasi pariwisata di Hotel Fakfak, Sabtu (27/09/2019).

Kegiatan pelatihan dilaksanakan mulai dari tanggal 26 hingga 28 September 2019 dengan melibatkan peserta dari Aliansi pemuda Mbaham Matta, Jelajah Fakfak, Palapa Adventure, Fakfak mengajar, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Fakfak serta kampung kampung di Kabupaten Fakfak yang daerahnya berpotensi kedepan sebagai tempat Pariwisata.

Paulus Sauyai, salah satu Narasumber asal Raja Ampat yang hadir dalam pelatihan tersebut mengungkapkan, sesuai pengalamannya di Raja Ampat terkait pariwisata lebih mengedepankan adat istiadat.

Dikesempatan itu materi yang diangkat Paulus adalah menjadi pelaku pariwisata berkelanjutan berbasis adat. “Sehingga kedepan kepada kampung kampung yang daerahnya menjadi tempat pariwisata agar bisa diterapkan adat istiadatnya,” harapnya.

“Kita di Papua itu adatnya masih sangat kental, sehingga perlu kesepakatan bersama dalam menerapkan aturan adat di kampung masing masing agar dapat mengingatkan para wisatawan dalam melakukan sesutu yang melenceng dari adat istiadat kita,” tuturnya.

Paulus mencontohkan, ketika wisatawan hadir di tengah tengah kita di wilayah yang menjadi tujuan tempat wisata dengan cara berpakaian yang menurut mereka biasa biasa saja, tetapi bagi kita di Papua hal itu sudah melanggar adat, artinya hal itu perlu di buat aturan adat agar mereka bisa dapat menyesuaikannya.

Paulus sauyai yang yang juga kepala kampung Sawingray Distrik Miyosmansar Kabupaten Raja Ampat itu juga mengungkapkan kepada kampung kampung yang ada di Fakfak, bagi daerah nantinya dijadikan tempat wisata agar dapat lebih kreatif dalam membangun honai honai bagi wisatawan yang berciri khas kepapuan. “Hal itu bagian dari menarik perhatian wisatawan,” imbaunya.

Di dampingi Baharudin Herembah, kepala kampung itu berharap agar masyarakat setempat dapat membuat selebaran selebaran yang isinya terkait aturan aturan adat yang ada di daerah setempat, baik menggunakan bahasa Indonesia maupaun bahasa Inggris untuk dapat di tempelkan di honai honai maupun di penginapan panginapan lokal milik masyarakat. “Hal itu bertujuan agar saling mengingatkan para wisatawan terkait adat istiadat di daerah setempat,” tutupnya.

Editor : Anang

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY