Dedek Chaniago dan Petani

0
331

Dari Walhi, Dedek Chaniago Kini Pimpin Komite Reforma Agraria Sumsel (KRASS)

PALEMBANG, Mattanews.co – Simposium Reforma Agraria Sumatera Selatan yang di gagas oleh panitia persiapan Komite Reforma Agraria Sumatera Selatan di singkat KRASS, dengan salah satu itemnya adalah Musyawarah Besar KRASS, untuk menghasilkan dan merumuskan Manifesto, Statuta, Program kerja dan kepengurusan, bertujuan untuk percepatan terwujudnya Reforma Agraria di Sumatera Selatan, sesuai dengan mandat UUD 1945 pasal 33 ayat 3, UUPA.No5 1960, Tap MPR No.9 2001 tentang pembaharuan agraria, Nawacita distribusi lahan, PP.86 2018, tentang Reforma Agraria dan pancasila No.2 dan 5.

Hasil musyawarah Komite Reforma Agraria Sumatera Selatan yang di hadiri oleh Serikat Petani Indonesia SumSel beserta basis taninya, Serikat Tani Nasional SumSel beserta basis taninya, Serikat Petani Sriwijaya beserta basisnya, Gerakan Tani SumSel beserta basis taninya, Serikat Petani Pejuang Sriwijaya beserta basis taninya, Garda Sriwijaya Indonesia beserta basis taninya dan Organisasi Tani local, Serta Gerakan Mahasiswa Pembaharuan Agraria. Kesemuanya yang berjumlah 500 Petani, bersepakat berhimpun diri menjadi anggota Organisasi Forum (Komite Reforma Agraria Sumatera Selatan). Dan menyepakati secara musyawarah menunjuk Dedek Chaniago sebagai Sekjen untuk memimpin KRASS kedepan selama 3 tahun, untuk mengawal manifesto dan menjalankan program kerja demi terwujudnya Reforma Agraria di Sumatera Selatan.

Dedek Chaniago lahir di Palembang 27 September 1984, dari keluarga berdarah minang dengan 6 bersaudara. Berorganisasi sejak SMP dan mendirikan Solidaritas Pelajar Cinta Damai yang beranggotakan seluruh sekolah SMP di kota Palembang, dan melanjutkan berorganisasi Pramuka.

Dedek panggilan akrabnya juga hobi mendaki gunung dan tergabung di Organisasi Kelompok Pecinta Alam Restoe Boemi. Karir gerakannya tumbuh ketika di didik oleh aktivis 98 yang bernaung di Pusat Informa Jaringan Aksi Reformasi disingkat PIJAR, kemudian tumbuh dan berkembang mendalami kasus-kasus rakyat dan bergabung ke WALHI Sumsel, terakhir menjabat Maneger Advokasi Hutan dan Perkebunan.

Pria yang terpenjara tahun 2013 itu ketika mendampingi kasus konflik Agraria di PTPN 7 Cinta Manis bersama temannya Anwar Sadat dan Kamaludin, terus konsisten menyuarakan ketidakadilan soal ketimpangan penguasaan hak atas tanah dan memperjuangkan Reforma Agraria.

Paska selesai kepengurusan di Walhi Sumsel tahun 2014, dia membentuk Ormas Tani yang di sebut Gerakan Tani SumSel, sudah tersebar di beberapa kabupaten dan desa-desa membangun Organisasi Tani Lokal. Terakhir kasus yang di damping di lahat konflik agraria dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit seluas 180,36 hektar dan terbentuk Gerakan Tani Pagar Batu di desa itu, dan rakyat desa pagar batu memenangkan lahan itu salah satu perwujudtan dari Reforma Agraria.

Kini Dedek Chaniago mendapat amanah dari beberapa Organisasi Tani menjadi Sekjen Komite Reforma Agraria Sumatera Selatan untuk tujuan percepatan Reforma Agraria di Sumatera Selatan.

Editor : Anang

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY