Tetap Aman dan Nyaman Menengok Koleksi di Museum Negeri Sumsel Saat Pandemi Covid-19

  • Whatsapp

Reporter : Anang

PALEMBANG, Mattanews.co – Sambil mengenakan masker berwarna hitam, Herlina, 16 tahun, siswa SMA Negeri 6 Palembang melangkah santai ke halaman Museum Negeri Sumatra Selatan. Ia bersama dua temannya, Herlina langsung menuju tempat pencucian tangan yang terletak di sisi kiri pintu masuk museum tersebut.

Bacaan Lainnya

Kemudian, petugas museum mengecek suhu tubuhnya dengan menembakkan thermogun ke lengan kanan Herlina. Ia pun membeli tiket masuk museum seharga Rp1.000. Herlina tidak merasa cemas ataupun kuatir mendatangi museum meski ditengah pandemi Covid-19.

“Saya termasuk orang sangat kuatir dengan pandemi ini, karenanya kemanapun saya selalu terapkan protokol kesehatan. Saya datang ke museum ini dan melihat bahwa disini protokol kesehatan ketat jadi sangat merasa nyaman dan aman,” ujarnya.

Kedatangannya ke museum tak lain untuk meningkatkan pengetahuannya tentang sejarah sekaligus untuk bahan materi pembelajaran. “Di sekolah kan ada mata pelajaran sejarah, selama ini kan selalu baca buku, kalau datang langsung kesini jadi belajarnya seperti langsung melihat koleksi sejarah,” ujar Herlina.

Selain itu, dengan ke museum bisa menghilangkan rasa bosan selama pandemi ini. “Selama ini kan belajar daring, ke museum ini setidaknya mengurangi rasa bosan dirumah. Manalagi tiket masuk kan murah, jadi beredukasi sekaligus berwisata,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Museum Negeri Sumatra Selatan, H Chandra Amprayadi SH mengatakan, selama pandemi Covid-19 museum ini ditutup sejak Maret hingga Juni lalu sesuai dengan arahan dari Kemendikbud RI. Namun di pertengahan Juni, pihaknya mulai membuka museum namun dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Bahkan pihaknya menyediakan fasilitas pendukung protokol kesehatan, seperti alat mencuci tangan, sabun, thermogun dan pengaturan jarak antara pengunjung. “Alhamdulillah, pengunjung museum tetap banyak, dan meski pandemi Covid-19 para pengunjung tetap nyaman berada di museum ini,” terang dia.

Para pengunjung museum, rata-rata datang untuk belajar, penelitian, rekreasi hingga mengikuti pameran atau kegiatan-kegiatan yang rutin digelar pihak museum. “Kita memperbanyak kegiatan di museum, seperti pameran, lomba-lomba, dan penelitian agar pengunjung tetap ada meski ditengah pandemi Covid-19. Namun pengunjung tetap harus wajib bermasker selama berada di museum sebagai upaya antisipasi penyebaran Covid-19 lebih meluas,” jelasnya.

Chandra menjelaskan, di museum yang berada di Jalan Srijaya I, Kecamatan Sukarami Palembang itu memiliki 8.994 koleksi yang dibagi menjadi 10 kategori koleksi. Mulai dari koleksi di masa prasejarah, kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, hingga masa revolusi fisik dan perjuangan Kemerdekaan.

“Tidak semua koleksi kita pamerkan, ada yang masih disimpan,” ucapnya. Dengan adanya koleksi inilah yang memberikan daya tarik kepada pengunjung. “Karena itu juga museum ini bisa menjadi tempat belajar, dan berkembang menjadi tempat pelestarian, penelitian dan wisata,” tambah Chandra.

Dijelaskannya, museum ini memiliki luasan 23,5 meter persegi dan sudah berdiri selama 36 tahun. Semula museum ini bernama Balaputra Dewa yang merupakan seorang raja yang membawa kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan. Namun kini dikenal dengan museum Negeri Sumsel yang memiliki taman megalith, gedung pameran I, II, dan III, bangsal arca, rumah limas dan rumah ulu.

“Memang yang menjadi koleksi unggulan kita adalah koleksi prasasti swarnapatra, arca megalith batu gajah ibu mendukung anak, kitab Undang-Undang Simbur Cahaya dan sebagainya,” ucapnya.

Chandra mengatakan, pihaknya baru-baru ini menyediakan ruang pameran hibah yang lokasinya berada di lobi depan museum. “Jika ada yang mau menghibahkan koleksi sejarah, akan kita pamerkan di lobi depan. Jadi semua anak cucu bisa melihat koleksi hibah tersebut,” ucapnya.

Diakui Chandra, untuk bisa menikmati kunjungan ke museum tersebut, para pengunjung hanya cukup membayar Rp1.000 untuk anak-anak dan Rp2.000 untuk dewasa. Untuk jam kunjungan dari Selasa-Jumat mulai pukul 08.30-15.30 WIB dan Sabtu-Minggu mulai pukul 09.00-14.00 WIB.

“Khusus untuk Senin dan hari libur nasional, kita tidak melayani dan tidak buka,” jelasnya. Chandra membeberkan, secara detail saat masuk ke halaman museum, pengunjung sudah mendapat pemandangan berupa patung-patung yang berhubungan dengan sejarah Indonesia.

Melangkah masuk ke dalam museum, pengunjung disambut dengan relief selamat datang. Relief ini tergambar tari sambut Sumsel, yakni relief tari Gending Sriwijaya.

Kemudian, pengunjung akan menemukan taman megalith. Diantaranya ada arca ibu mendukung anak yang merupakan salah satu peninggalan masa megalitik yang mengambarkan seorang perempuan sedang jongkok dan mendukung anak dipunggungnya yang melambangkan kesuburan.

“Arca ibu menggendong anak ini pernah kita pamerkan di festival seni dan budaya Europalia 2017 di Belgia. Arca ini ditemukan di Pagaralam oleh orang Perancis pada 1920,” jelasnya.

Kemudian diruang Pameran I ada koleksi pra sejarah Sumsel. Dimana di gedung ini semua kegiatan di masa prasejarah ditampilkan seperti alat-alat perburuan, alat bercocok tanam dan sebagainya. Juga ada bangsal arkeologi dimana ada 12 koleksi baik di masa prasejarah hingga masa kerajaan Sriwijaya.

“Disini para pengunjung bisa melihat arca Hindu dan Budha,” kata dia. Kemudian, di gedung pameran II memperlihatkan semua koleksi di masa Kerajaan Sriwijaya, salah satunya ada Prasasti Kedukan Bukit.

Juga ada koleksi di masa Kesultanan Palembang dan kolonialisme Belanda. Koleksinya seperti Kitab Undang-Undang Simbur Cahaya, mata uang belanda, senjata belanda. Selanjutnya juga ditampilkan koleksi di masa kependudukan Jepang hingga revolusi kemerdekaan RI.

“Jadi pengunjung bisa melihat langsung mengenai mata uang yang dipakai pada masa itu hingga pakaian pejuang kemerdekaan,” kata Chandra.

Di gedung pameran III, lanjut Chandra, pengunjung bisa melihat kerajinan tradisional. Sebab di Sumsel itu sangat terkenal kaya akan kerajinan tradisional, baik ukiran, tenun, anyaman dan lainnya.

Semua benda yang di tampilkan itu dapat berfungsi sebagai benda sakral bagi masyarakat di masa dahulu. Salah satunya songket, yang merupakan produk unggulan Sumsel. Juga ada jumputan, batik, dan gebeng.

“Karena kekayaan kerajinan tradisional inilah, membawa nama Sumsel menjadi harum,” kata dia.

Selain itu, di bagian belakang gedung museum juga ada koleksi rumah limas dan rumah ulu. Chandra menjelaskan, rumah limas merupakan rumah tradisional Sumsel. Rumah limas ini biasa ditemukan di Palembang hingga Musi Rawas.

“Rumah limas di museum Negeri Sumsel ini sudah banyak mendapat kunjungan dari pejabat luar negeri, seperti Kepala Negara Belanda, Ratu Beatrix, Pangeran Clans dan sebagainya. Bahkan kita bisa melihat koleksi rumah limas ini di pecahan uang Rp10.000 yang dikeluarkan Bank Indonesia,” jelasnya.

Untuk rumah ulu, Chandra mengatakan, rumah ini merupakan rumah tradisional yang masih bisa ditemuka di Ogan Ilir, Lahat, Pagaralam. “Bedanya rumah ulu ini tiangnya tidak ditancap ke tanah namun ditempatkan diatas batu. Karena biasanya di daerah itu rawan gempa, jadi jika gempa tidak roboh bangunannya. Kalau rumah limas, ditancapkan di tanah, dan bangunan lebih tinggi,” kata Chandra.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel, Aufa Syahrizal mengatakan, museum Negeri Sumsel sangat tepat untuk dijadikan tempat belajar, penelitian ataupun untuk rekreasi.

“Jadi jangan nilai bahwa ke museum itu tidak ada manfaatnya, malah dengan ke museum kita bisa mendapat banyak pelajaran berharga, mengenai sejarah kita,” ujarnya.

Dijelaskan Aufa, generasi penerus wajib mengetahui perkembangan sejarah bangsanya. Maka untuk lebih mengenalkan museum kepada generasi maka konsep wisata edukasi dengan berbagai aktivitas pendidikan seperti lomba sang juara atau cerdas cermat yang bertemakan museum sangat tepat dilakukan di museum.

Sumsel ini memiliki berbagai adat  istiadat dan budaya yang tersebar di 17 Kabupaten dan Kota. Dan semua cerita tentang adat dan budaya Sumsel bahkan Indonesia ada di museum.

“Karenanya memanfaatkan waktu luang atau waktu libur memang sangat tepat jika ke museum. Orang luar negeri itu sangat menjunjung tinggi museum, dan harapan kita generasi muda bisa memanfaatkan museum ini sebagai tempat menggali informasi dan edukasi,” pungkasnya.

Editor : Chitet

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *