Cerpen: Senandung Sunyi untuk Sri

  • Whatsapp

Karya : Pinasti S Zuhri

Gerimis mengguyur bumi, Sri menggigil, menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajah ayu itu terlihat pucat di bawah atap warung tempatnya berteduh. Dia tersenyum dan menyandarkan kepala di dadaku. Aku memeluknya erat, kuharap dingin tak menyentuh kulitnya lagi.

Bacaan Lainnya

Sri memandangku, keteduhan yang hanya kulihat di binar matanya terpancar seketika menyelusup ke dalam aliran darahku. “Langit, hentikan hujanmu. Aku ingin menatap matanya dalam-dalam agar aku tahu, cintakah yang telah membuat kami selalu bersama?” batinku.

“Hey, ada apa?” ucap Sri lembut, membangunkanku dari lamunan. Mungkin dia risih kutatap begitu. Aku hanya tersenyum. “Dapatkah kita selalu bersama Sri? menjalani hidup ini,” bisikku sambil membelai rambutnya yang basah.

Hujan semakin deras, rintiknya jatuh menghempas di seng warung itu. Sri menunduk dan semakin membenamkan wajahnya di dadaku. Aku masih menunggu bibirnya berkata-kata namun hanya sesegukan yang kudengar. Kuangkat wajahnya, air mata pun perlahan mengalir di sana.

“Sri, maafkan aku,” kataku cemas. Sri tak menjawab, kini ia memelukku.

“Apa kau telah mempunyai pilihan lain Sri,” tanyaku lagi. Sri menatapku, aku semakin berdebar. Dia menggeleng. Aku bernafas lega tapi, dia belum menjawab pintaku.

“Aku mencintaimu Sri, dengan segala kesungguhanku. Seperti Adam yang meminta Hawa begitulah doa yang selalu kupanjatkan?”

Angin kencang mengantarkan hujan ke tubuh kami. Kugenggam tangannya, lembut sekali bahkan, semilirnya angin tak mampu menjadi duanya. Perlahan bibir itu bergerak, namun masih satu katapun tak terucap, hanya helaan nafas panjang dan gelengan kepalanya yang tak kumengerti.

“Kau tak mencintaiku Sri?” kataku dalam hati.

Satu bulan aku mencoba menepikan Sri dari hatiku. Seperti menapak di jalan yang penuh duri disaat aku harus melupakannya. Kakiku ini gemetar, terseok-seok melangkah menuju sunyi. Tampaknya Sri pun tak mempedulikan aku, tak pernah menelpon, tak pernah berkirim kabar. Marah dan kesalku semua bercampur aduk bersama rindu. Di halaman rumahku tak ada Sri di sini, hanya bunga-bunga yang bermekaran dan langit yang menggantung awan hitam tampak di mataku.

“Awan hitam, jangan kau turunkan lagi hujan. Aku akan teringat lagi padanya,” batinku.

Aku menghembuskan nafas panjang, entah kemana gundah ini kan kualamatkan, pada sekawanan burung madukah atau pada awan.

“Bob, telepon untukmu,” ibuku berkata, malas-malasan aku menyambutnya karena paling-paling Rendi temanku yang menelepon.

“Hallo…” kataku, ketika speaker telepon menempel di telinga. “Bob…” suara itu begitu aku kenal, dugaanku tak salah memang Rendi yang menelepon.

“Kamu gila Bob, kamu tak punya perasaan, aku mencarimu dua minggu ini. Kau tak pernah ada di rumah, ditelepon tak pernah mengangkat. Sri! Bob.” Cerosos Rendi. Aku tersentak ketika nama itu di sebut Rendi

“Ada apa dengan Sri, kamu di mana?”

“Aku di rumah sakit Bob, Sri sakit parah.”

“Kamu jangan becanda Ren,” dadaku berdenyut lebih keras, jantungku memompa darah ke mukaku lebih deras. Kabar itu, benarkah.

“Kau cepat ke sini. Nanti kau bisa lihat semuannya. Sri sangat mencintaimu Bob, kau tahu itu, tak harus diucap dengan kata kan?”

Aku hempaskan gagang telepon setelah Rendi menyebut nama rumah sakit itu. “Sri maafkan aku.”

Dari balik kaca itu kulihat rembulanku tertidur, wajahnya pucat dan sayu. Aku mendekatinya. Selang infus dan aroma ruangan ini membuatku semakin merasa bersalah. Seharusnya aku tak membiarkan Sri sendirian menghadapi semua ini. Seharusnya aku berada di sampingnya

Kucium keningnya, aku ingin tegar tapi aku adalah laki-laki yang tak kuasa menahan air mata bila melihatnya begini.

“Bolehkan Sri, aku meneteskan air mata ini di hadapanmu?” bisikku lirih. Sedetikpun aku tak ingin melepaskan tatapku dari wajahnya. Sri terbangun, aku kembali melihat binar matanya. Masih tetap teduh.

“Bob…Bob tak marahkan sama Sri,” lemah suara itu mengalir. Sri mencoba menggapaiku, kembali kudekatkan wajahku.

“Aku rindu kamu Sri, apa kau tak merindukan aku?” tanyaku pelan.

“Bob…Maafkan aku. Terima kasih atas semua kebahagian yang telah kau beri, sesungguhnya aku tak ingin kehilangan dirimu tapi, bukankah rembulan itu akhirnya harus tenggelam bila malam berakhir,”

“Sri, jangan katakan kau akan meninggalkan aku. Kita akan tetap bersama melewati setiap detik hidup ini.” Aku membelai rambutnya dan menyeka air matanya. Aku ingin melihatnya tersenyum. Andai sakitnya dapat dibagi atau sekalian saja dipindahkaan di tubuhku, aku siap bahkan teramat siap.

“Kamu ingat waktu kita SMA dulu, kamu pernah ketahuan nyontek, dan ketika kau berdiri di depan kelas akulah yang bertepuk tangan.”

Kubawa dia untuk sedikit bernostalgia ke masa silam di mana kami hanya mengenal tawa dan canda di saat Sri selalu mengejar untuk menjitak kepalaku dan, ah… sekarang Sri tersenyum, manis sekali. Senyum yang tak kutemukan satu bulan ini.

Perlahan senyum Sri hilang, tapi aku takkan membiarkan engkau memejamkan mata Sri, akan kubawa engkau berkeliling ke alam yang kita ingin, ke alam yang kita khayalkan. Aku benci jarum yang menusuk tanganmu, aku benci dengan obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhmu, aku benci ranjang yang membuatmu terbaring di rumah sakit ini.

“Sri…maukah kau menjadi temanku untuk mengarungi hidup ini?” ucapku. Sri tersenyum mendengar pintaku.

“Sri, dengar sakitmu kini telah terbagi denganku.”

Bibir Sri bergerak, suaranya pelan bahkan hampir tak dapat kudengar. Aku menundukkan kepala mendekatkan telinga ke bibirnya.

“Aku mencintaimu Bob, bahkan sebelum kau ucap pintamu,” ucap Sri lirih.

Aku menggengam tangannya lebih erat lagi. Masa-masaku yang paling indah adalah saat Sri ada di sisiku.

“Mari kita berdoa untuk cinta kita,” ajakku. Sri memandangku, tatapnya sayu tapi cahaya cinta begitu terang memancar dari kedua bola matanya.

Mata itupun mengatup, aku berteriak sambil mengguncang tubuhnya, namun Sri tetap diam. Kembali air mataku menetes ke kedalaman sunyi.

Sendiri aku menemui kesunyian, duduk dan menengadahkan kedua tangan. Begitu rapatnya kau simpan sakitmu tapi Sri sampai akhir nafasmu ini bukan perpisahan untuk kebersamaan kita. Aku tak sanggup melupakanmu Sri bahkan, satu detikpun dalam hidupku. Kebersamaan kita takkan pernah menjadi sebuah cinta yang akan lenyap dan hanya menjadi satu kenangan.

Aku yakin kau menungguku di alam keabadian dimana cinta kita akan bersatu selamanya, ya selamanya tanpa satupun yang akan mengganggu kita di sana, di tempat dimana kita dapat saling mencintai, mengasihi dan menyayangi dengan keabadian.

***

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *