MATTANEWS.CO, CIAMIS – Langit mulai mendung sore itu, jarum jam menunjukan pada pukul 17.00 WIB, seorang bapak paruh baya yang bernama Ikin (54), sekaligus guru ngaji anak-anak di salah satu mesjid dekat tempat ia tinggal, sehingga dia dikenal Ajengan (Ustadz) oleh masyarakat sekitar.
Saat dikunjungi dikediamannya, terlihat dia sedang memasak bahan gula aren dari Lahang (Air Nira) yang ia ambil dari pohon aren sekitar dua jam yang lalu.
Rasa gerah di depan tungku perapian sehingga peluh mengucur di sekujur tubuhnya tidak terlalu ia gubris, dia terus mengaduk-aduk air nira yang mulai melengket di dalam katel berukuran besar.
Tatapannya kerap mengarah ke atas katel yang berisi air nira (Lahang) yang sudah ia masukan selama satu jam setengah lebih, dia hanya mengantongi RP10.000 perhari dari hasil penjualan gula aren, dikarenakan pohon aren yang ia sadap bukan miliknya sendiri.
Sebagai buruh tani gula aren di Dusun Sukawening RT/RW 01/08 Desa Tanjungsari, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (Jabar), pemasukannya yang begitu minim, namun tidak membuat bapak ini tak patah arang.
Setiap hari dia tetap menjalankan aktivitasnya dan berharap kebutuhan keluarganya tercukupi. Menjelang magrib, cuaca di Kabupaten Ciamis mulai terlihat gerimis tetapi tak terlalu ia hiraukan walaupun jika hujannya besar, tetesan air akan masuk ke dalam rumah melewati sela-sela genteng yang bocor. Terlebih dirinya sudah biasa dengan keadaan seperti itu.
“Walaupun penghasilan tidak tetap, tetapi selalu ada saja rezeki yang datang dan tidak bisa diduga-duga,” ucapnya kepada Mattanews.co, Jumat (25/6/2021).
Tubuh kurus dengan balutan kulit yang sudah berkeriput, tak membuat Ikin gentar untuk mengais rezeki setiap hari.
Kendati di usia sepuh, dia tetap menjadi tulang punggung keluarganya. Dari hasil menjual Gula Aren itu dia harus mencukupi kebutuhan hidup Istri dan 6 orang anaknya.
Sempat tergurat kesedihan di wajahnya, tatkala anaknya yang paling kecil dan masih berusia tiga tahun merengek minta uang jajan, tetapi tak bisa ia berikan karena uang yang tersisa hanya untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras.
“Biarlah bapak terus bekerja, selain buruh gula aren, sampingan yang lain bisa menjadi laden di tempat-tempat bangunan. Uang yang didapat bisa untuk mencukupi makan sehari-hari, Alhamdulilah,” katanya.
Sambil memasukan gula aren yang sudah matang ke dalam citakan, dia bercerita tentang kegundahan hatinya setiap memikirkan anak-anaknya.
“Beberapa tahun yang lalu, sempat anak-anak menangis kelaparan karena di rumah tidak ada nasi dan beras untuk dimasak, uang pun tidak punya untuk membeli makanan pokok itu, setiap ingat kejadian itu saya selalu berdoa kepada yang kuasa agar selalu diberikan ketabahan dan kecukupan,” ungkapnya.
Puluhan tahun dia jalani hidup sebagai buruh harian lepas. Asam garam pun sudah dia rasakan. Bahkan sebelum pandemi Covid-19.
“Sebelum pandemi dan sampai saat ini bagi saya tidak ada bedanya. Tapi harus tetap bersyukur, masih tetap bisa hidup bahagia dengan keluarga dan beribadah kepada sang pencipta,” ucapnya.














