MATTANEWS.CO, CIAMIS – Sektor pertanian Padi di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, sekarang ini sudah memasuki musim panen. Hasil panen yang bagus setidaknya menjadi bekal bagi petani untuk hasil panen dengan harga layak. Terkadang, apa yang menjadi keinginan petani sering meleset. Harga beli di tingkat petani lebih rendah, karena yang membeli langsung adalah tengkulak. Sementara harga beras di pasaran tidak pernah turun. Akibatnya, petani yang merugi dan tengkulak untung.
Harga Gabah Kering Panen (GKP) di kalangan petani pada musim panen tahun ini terus anjlok, terlebih saat ini situasi sedang pandemi covid-19. Para petani di Ciamis mengungkapkan, anjloknya harga jual GKP diduga akibat ulah spekulan.
Di saat musim panen seperti sekarang, seharusnya petani berbahagia, karena hasil panennya bagus (padi tidak rusak). Namun kebahagiaan itu, jauh dari asa. Kenapa? Karena, rata-rata petani hanya bisa menjual hasil panennya di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Para petani menjual harga gabah dengan harga yang sangat murah dan tidak sesuai Harga Pokok Penjualan (HPP).
Selain itu, kondisi tersebut diduga terjadi akibat adanya indikasi permainan oknum pedagang.
Mereka diduga sengaja membeli gabah milik petani untuk meraup keuntungan besar dengan cara memanfaatkan musim panen raya.
Hal tersebut dialami oleh seorang petani asal Desa Budiasih Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis Adang, yang mengungkapkan harga jual gabah kering panen (GKP) di tingkat petani saat ini mencapai Rp 4.100 per kilogram.
“Kata para bandar harga bisa murah karena harga beras murah di pasaran,” ujar Adang, kepada Mattanews.co, Kamis (8/7/2021).
Adang mengatakan, para petani tidak punya pilihan dan terpaksa menjual padi dengan harga yang sangat murah untuk menutupi biaya produksi dari hasil hutang.
“Karena ada juga petani yang terpaksa ngutang dulu ke kios pupuk,” ucapnya.
Kondisi seperti ini, kata Adang, terjadi hampir di setiap musim panen tiba.
Anehnya pemerintah kabupaten (Pemkab) Ciamis terkesan tutup mata dan tidak peduli dengan nasib para petani.
“Tak ada satupun Program serap gabah dari pemerintah. Yang datang ke kita ya cuma calo atau bandar,” katanya.
Dia berharap, pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib petani dengan terjun langsung ke lapangan. Selain itu, ia berharap harga gabah petani bisa dibeli dengan harga tinggi minimal Rp5 Ribu.
Hal yang senada dialami Dudung petani asal Desa Darmacaan, Kecamatan Cikoneng, yang merasakan kepiluan dari anjloknya harga gabah tersebut.
Setiap musim panen tiba, kata Dudung, selain mengeluh karena harga jual gabah yang sangat murah, disatu sisi harga produksi seperti pembelian pupuk sangat mahal.
“Penyebabnya tengkulak membeli dengan harga murah, banyak para petani menjerit karena rugi,” ujarnya.
Diketahui, besaran ongkos produksi yang dikeluarkan oleh para petani sekitar Rp 12 juta per hektar (ha).
Jika harga jual GKP Rp 4.100 per kg, dikalikan 6,5 ton perhektare, maka total penjualan gabah Rp 26.650.000.
Setelah dikurangi ongkos produksi, petani mengantongi Rp 14,6 juta.
Jumlah itu belum dikurangi biaya sewa sawah dan ongkos buruh harian yang mencapai Rp 3,9 juta.
Belum lagi ada biaya tambahan untuk mengatasi hama dan sewa pompa pada saat tanam di musim kemarau, yakni sekitar Rp 1 juta.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis Budi Wibowo mengatakan, untuk panen pada bulan Juni dan Juli mencapai 15.000 hektare.
“Data yang berhasil dihimpun, produktivitas petani kita rata-rata 6,5 ton per hektare,” ungkapnya.
Sementara itu, menurut Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Ciamis Tauhidin, Bulog menyerap gabah dari petani yang bekerja sama dengan poktan dan gapoktan dari data yang berhasil dihimpun di sepanjang Januari hingga Juli 2021, dari Poktan Mekarsari terkumpul sebanyak 375.000 Kilogram Gabah Kering Giling (GKG). KUD Ganda Mekar sebanyak 585.000 Kilogram GKG, dan Non Gapoktan sebanyak 492.350 Kilogram GKG.
Sedangkan untuk data total panen pada periode Juni-Juli, bulan Juni sebanyak 41.561 ton GKP dan untuk bulan Juli, sebanyak 97.851 ton GKP, jika di beraskan total produksi beras sebanyak 62.625 ton. Sedangkan untuk total beras premium di ciamis sebanyak 11.777 ton.
“Solusinya ikuti aturan bulog cara pasca panennya, baru jual ke bulog siap nerima dengan harga standar pemerintah,” kata Tauhidin.














