MATTANEWS.CO, CIAMIS – Terkait Kegiatan ekstra kulikuler MTs Harapan Baru Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (Jabar) yang merenggut korban pada hari Jumat (15/10/2021), beberapa saksi sekaligus penyelamat para korban memberikan keterangan kronologi kejadian.
Adanya informasi simpang-siur terkait peristiwa tersebut, empat orang saksi sekaligus penyelamat korban berhasil diwawancarai Mattanews.co.
Menurut para saksi, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.30 di Sungai Cileueur Leuwi Ili Dusun Wetan RT 01 RW 01 Desa Utama, Kecamatan Cijenjing Kabupaten Ciamis, Jabar.
Kejadian berawal ketika Yadi (25) yang akrab dipanggil Odong dan 3 orang temannya yakni Rehan, Alvin dan Yayan pada pukul 14.00 berada di sungai dengan bertujuan untuk memancing ikan.
Namun setengah jam kemudian, yaitu pada pukul 14.30, pada saat mereka asyik memancing tiba-tiba datang sekelompok siswa-siswi beserta para guru pembina yang sedang melakukan kegiatan ekstrakulikuler ke lokasi Leuwi (Sungai) Cileueur Ciamis.
Yadi dan teman-temannya sempat beberapa kali berteriak mengingatkan para siswa-siswi dan para guru pembina untuk menghentikan kegiatan tersebut.
“Saya berteriak kepada mereka untuk menghentikan kegiatan di area tersebut karena berbahaya, namun para guru pembina sama sekali tidak menghiraukan peringatan saya,” ucapnya kepada Mattanews.co, Sabtu (16/10/2021).
Berselang kemudian, ada teriakan minta tolong, kemudian Yadi dan teman-temannya menoleh ke arah teriakan tersebut, terlihat ada beberapa siswa-siswi yang sudah mengambang. Tanpa basa-basi Yadi langsung lompat ke sungai untuk menyelamatkan mereka.
“Saat itu saya berhasil mengangkat 5 orang siswa, Alvin 7 orang, Yayan 1 orang dan Rehan 1 orang, jadi jumlah yang berhasil diselamatkan ada 14 orang dengan 2 orang kritis,” jelasnya.
Setelah beres mengevakuasi 14 orang ke pinggir sungai, Yadi langsung menanyakan kepada guru pembina apakah masih ada siswa-siswi yang masih tenggelam, namun guru pembina menjawab sudah tidak ada dan sudah selamat semua.
“Saya bertanya, coba lihat datanya takut masih ada yang tertinggal, namun guru pembinanya menjawab tidak bawa data daftar siswa-siswi dan langsung pulang,” katanya.
Tetapi kata Yadi, menjelang magrib ada keramaian lagi, saat ditanyai ke warga lain yang berkumpul, ternyata ramai ada 11 siswa-siswi yang tertinggal dan meninggal dunia.
“Saya kaget mendengar kabar tersebut, padahal pas saya mengevakuasi 14 orang, saya menanyakan kepada guru pembina takut ada yang tertinggal, namun gurunya mengatakan sudah aman semua, tetapi ternyata malah ada yang tertinggal 11 orang dengan keadaan meninggal dunia, sehingga jumlah korban tenggelam ada 25 orang,” ucapnya.
Sementara itu, pihak Yayasan saat dimintai keterangan di kantornya, tidak ada yang memberikan keterangan apapun terkait tenggelamnya 25 orang siswa-siswi dan guru.














