MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Ketua Koalisi Penghapusan Kekeresan Seksual Unsri, Yan Iskandar mengaku mendapatkan laporan terbaru terkait pelecehan seksual di Fakultas Ekonomi Unsri.
“Kalau dihitung lebih dari 5 mendekati angka 10. Tapi masih diverifikasi. Kita verifikasi jangan sampai fitnah. Kita melakukan pendekatan personal selaku lawyer,” ucapnya saat dihubungi Mattanews.co via telpon, Selasa (7/12/2021).
Dijelaskan Yan, verifikasi tersebut guna mengetahui bentuk pelecehan yang terjadi seperti apa, dimana dan kapan terjadinya. Namun, Barang Bukti (BB) sudah terkumpul semua
“Kalau bentuk pelecehannya masih diverifikasi, apakah verbal atau non verbal. Ini dalam kutip ada kecenderungan untuk diajak tidur. Barang bukti sudah ada, karena kalau melapor sudah ada BB nya. Barang buktinya lengkap, sudah memenuhi unsur,” jelasnya.
Yan yang menjabat sebagai Ketua Advokasi IKA Unsri itu melanjutkan, dari laporan baru diterima setidaknya ada 3 dari alumni dan yang lainnya masih berstatus mahasiswi.
“Ada alumni ada mahasiswa aktif yang melaporkan, kalau dari alumni saja itu ada 3,” ujarnya.
Atas kejadian yang fantastis tersebut, Yan menyayangkan sikap Rektorat Unsri yang tidak begitu tegas. Maka dari itu, ia meminta Kemendikbud Ristek untuk segera memebentuk tim investigasi yang independen.
“Ini gila loh, paling fantastik dan luar biasa dan herannya rektor gak ambil sikap. Malah menghalang-halangi kesannya, melarang korban, intimidasi korban. Seperti kemarin, mengahalangi yudisium dan memanggil korban. Artinya dia bisa mempengaruhi dalam proses hukum dan saksi-saksinya dipengaruhi. Itu bahaya. Anggaplah sebagai ekstraordinary kasus pelecehan seksual yang paling banyak se-Indonesia. Pemerintah harus segera bersikap,” pungkasnya.














