NUSANTARA

Pembuat Kapal, Pengalaman Sangat Menentukan

×

Pembuat Kapal, Pengalaman Sangat Menentukan

Sebarkan artikel ini

Reporter : Harianto

ROKAN HILIR, Mattanews.co – Di areal Pelabuhan galanggan kapal bagan siapi api terlihat dari kejauhan 2 kapal besar tengah dibuat oleh puluhan tukang di galangan. Papan-papan kayu sudah tersambung, haluan sudah nampak meruncing, susunan kerangka kapal menunjukkan teknik pembuatan yang amat kompleks.

“Ini baru 30 persen. Tiga sampai empat bulan lagi,” kata orang-orang di atas kapal yang tengah berpeluh keringat menyambung satu papan dengan papan yang lain.

Lama pembuatan kapal itu, paling cepat lima sampai tujuh bulan. Pengerjaan satu kapal melibatkan 10-15 tukang. Papan-papan kayu yang digunakan bervariasi. Namun setidaknya 3 jenis yakni Damar Laut, Mahoni dan Laban.

Kepala tukang, Sumiarto (58) bercerita, penutup lambung kapal membutuhkan jenis kayu bersifat ulet dan lentur, tulangan kapal mesti menggunakan kayu keras. Maka, kayu Laban dipilih sebagai bahan tulangan.

Tapi uniknya, pembuatan yang amat kompleks alih-alih dirancang berdasarkan sketsa yang rinci, para tukang justru mengabaikan itu. Mereka membuat kapal hanya berdasarkan pada pengalaman. Kebiasaan yang telah mereka kerjakan selama puluhan tahun.

“Saya sendiri sudah kerja di galangan 20 tahunan,” kata Sumiarto yang berasal dari Kampung Laut Kabupaten Cilacap.

Teknik pembuatan perkapalan, memang memiliki rentang sejarah panjang. Dalam buku ‘Pelayaran dan Perniagaan Nusantara
Sedang di galanggan kapal bagan siapi api para tukang tengah membuat kapal kursin atau bagan. Kapal ini juga memiliki kaitan sejarah panjang ketika Bagan siapi-api, ibu kota Rokan Hilir Riau, masih menjadi pusat perdagangan internasional. Abad ke-19, Bagan siapi api pernah menjadi kota pelabuhan nomor dua penghasil ikan menurut sejarahnya terbesar dunia setelah Kota Bergen, Norwegia. Kota ini dikenal dengan galangan-galangan kapalnya, konstruksi kapal Bagan pun lantas populer sebagai bagian pelayaran dan perniagaan di Nusantara.

“Kalau sudah berlayar kapal ini akan bermesin 30 gross ton (GT). Digunakan untuk menangkap dan mengangkut ikan tuna,” ujar Sumiarto.

Memimpin pengerjaan kapal itu, Sumiarto dibantu oleh Sumino (35) yang berposisi sebagai mandor. Sama-sama berasal dari Kampung Laut Kabupaten Cilacap, Sumino telah bekerja di galangan kapal selama 10 tahun. Ia bertugas mengontrol serta membantu puluhan tukang-tukang lain saat mengerjakan pembuatan kapal mulai dari pemilihan batang kayu, penghalusan, pemasangan, pelapisan viber dan sampai pengecatan khusus anti air.

Sumino bercerita, ia mulai bekerja di galangan dengan menjadi buruh pembantu. Tugasnya mulai dari emanggul kayu, memindah papan, menyiapkan paku atau menggeser tulangan. Di dunia tukang pembuat kapal, tukang harus memiliki fisik yang kuat sebelum belajar keahlian-keahlian khusus. Ketekunan bekerja dan pengalaman bertahun-tahun sangat menentukan keahlian.

“Alat-alat yang kita gunakan tergolong sederhana. Seperti pemotong kayu, perekat kayu. Makanya pengalaman bekerja sangat penting di sini,” ujarnya.

Ia bercerita untuk kapal yang saat ini tengah dibuat memiliki panjang 30 meter dan 32 meter. Sementara, lebar bukaan lambung atas kurang lebih 7 meter dan 8 meter. Kapal dibuat dengan menentukan panjang lunas bawah, memperhitungkan panjang kapal. Lantas, tulang bawah, dan tulang atas. Selanjutnya, tulangan yang sudah terangkai itu ditentukan tarikan lebar atas dimulai dari lambung. Tulang samping kiri dan kanan ditimbang menggunakan waterpas agar seimbang.

“Perhitungan ukuran ngikutin aja. Misal bawah tujuh meter, atas delapan meter. Berarti tinggal atas ditarik 1 meter,” kata Sumino.

Menurut Sumino, tiap kapal membutuhkan biaya minimal Rp 5 miliar. Namun ada pula yang habis biaya Rp 7 miliar hingga Rp 9 miliar. Biaya ini ia prediksi dari kayu-kayu yang digunakan. Ia mempunyai catatan tersendiri tentang kayu dan detail ukuran yang digunakan sebagai pertanggungjawaban pada pemesan kapal.

“Saya tidak tahu pasti. Hanya perkiraan saja,” ucap Sumino.

Sisi yang lain, Kasim (39), buruh kasar asal Purbalingga di pembuatan kapal punya tugas tahap finishing yakni melakukan penghalusan papan kayu, pelapisan viber dan pengecatan. Ia dan kurang lebih 13 kawannya, mulai bekerja dari pukul 8.00 sampai 17.00. Pengakuannya ia dapat upah Rp 100 ribu perhari sedang mandor Rp 150 ribu.

Kasim sendiri telah bekerja di galangan kapal persis 10 tahun. Ia bercerita di tempat asalnya, Kabupaten Purbalingga kebanyakan masyarakat memang bekerja sebagai petani atau buruh pabrik karena memang jauh dari laut. Tapi sejak remaja, ia memiliki ketertarikan tersendiri dengan nelayan. Latar belakang ini yang membuat ia menjadi pekerja pembuat kapal.

“Saya menikmati jadi pembuat kapal. Memang pekerjaan ini keras. Sudah biasa dibakar matahari,” kata Kasim.

Galangan kapal di Pelabuhan bagan siapi api, menunjukkan betapa kaya kebudayaan maritime di Indonesia. Laut bukan sekadar produksi garam, usaha-usaha tangkap ikan, tapi juga representasi teknik perkapalan yang berusia tua menunjukkan kemandirian budaya dan kayanya alam hutan di wilayah Rokan Hilir sehingga membuat para investor dan pembalak kayu ilegal bersemangat dalam membuka usaha perdaganggan dan usaha kayu ilegal, karna Pemda Rokan Hilir sangat ramah terhadap pengusaha yang ingin berinvestasi di Rokan Hilir khususnya bagan siapi api. Untuk masalah ijin juga bukan halangan, bisa diurus belakangan asal memang perjanjian yang jelas.

Di antara peluh keringat para pekerja di galangan kapal itulah, mozaik sejarah kemaritiman bertahan dengan cara-cara mengagumkan. Jiwa kebudayaan maritim ini setidaknya tergambarkan dalam puisi ‘Perjalanan Laut’ karya D Zawawi Imron ini:

“Lampu-lampu memainkan laut, malam memainkan api, jiwaku yang berpencalang bulan sabit kadang mengambang atas pasang dan tenggelam dalam surut”.

Editor : Anang