MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Sudarsih (44) seorang wali murid yang anaknya hamil diluar nikah menyebut salah satu oknum guru Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Boyolangu Kabupaten Tulungagung terkesan arogan.
Pernyataan ini dikatakan Sudarsih pada saat dikonfirmasi media online nasional mattanews.co di kediamannya Desa Sanggrahan Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (15/4/2023) Sore.
“Iya benar, ada salah satu oknum guru SMPN 1 Boyolangu itu terkesan arogan, pasalnya justru bukan melindungi tapi menceritakan kejadian anaknya hamil lalu melahirkan itu ke murid-murid lainnya,” ucapnya bernada kesal itu.
Dia menambahkan dengan anaknya harus dipindahkan ke sekolah lain membuat sebagai orang tua merasa kecewa. Pasalnya, anaknya merasa masih nyaman menuntut ilmu di SMPN 1 Boyolangu tersebut.
“Saat itu saya dipanggil ke sekolah untuk melakukan tanda tangan diatas materai perihal anaknya akan dipindahkan ke salah satu sekolah swasta,” tambahnya.
“Intinya terkesan ada pemaksaan dilakukan oleh pihak sekolah karena dianggap membuat aib lembaga,” imbuhnya.
“Tapi, bagaimana pun , kami ini orang biasa hanya bisa menerima,” katanya menambahkan sembari terlihat kedua mata wali murid berkaca-kaca.
Lebih lanjut dia menjelaskan atas kejadian menimpa anaknya tersebut sebagai orang tua tidak bisa apa-apa sebatas pasrah.
Namun demikian, sebagai orang tua dirinya mengharapkan permintaan jangan terlalu cepat untuk dipindahkan ke sekolah lain.
Menurut dia, seharusnya pihak sekolah masih mengijinkan untuk mengikuti ujian menyusul meskipun hal itu harus dilakukan di rumah.
“Kita sebatas menurut saya, kita mau mengatakan apa lagi, permintaan saya bisa mengikuti ujian menyusul, meskipun di rumah,” terangnya.
“Sebab anak saya ke sekolah juga tidak malu tapi kenapa lembaga seperti risih dengan kehadiran anak saya,” sambungnya.
Lebih dalam dia memaparkan dengan kejadian ini sebenarnya ada hal yang membuat dirinya lebih kesal lagi terkait ulah salah satu oknum guru yang mencemarkan anaknya.
“Oknum guru itu bilang kepada para murid-murid di lain kelas, ayo kita datang ke rumah anak kelas IX G ada yang melahirkan. Atas ucapan itu akhirnya membikin heboh sekolah,” paparnya.
“Setelah itu, cerita anaknya melahirkan berhembus cepat dari mulut ke mulut diantara pelajar di SMPN 1 Boyolangu,” imbuhnya.
“Saya anggap ini bentuk pelecehan terhadap anak saya, seharusnya seorang oknum guru itu melindungi bukan justru terkesan melecehkan,” katanya menambahkan.
Menurut Sudarsih, dirinya mengakui pasca setelah melahirkan itu keadaan anaknya sehat meskipun harus meminta ijin tidak masuk sekolah selama dua hari.
“Bahkan saat sekolah ada rekreasi ke Bali juga mengikuti, olahraga mengikuti dan tidak ada keluhan dan anak saya ini sehat, absensi sekolah juga baik,” jelasnya.
“Pihak sekolah menyampaikan apa anak ibu tidak malu atas kejadian ini akan dibuli oleh teman, tapi anak saya tanya itu tidak malu,” sambungnya.
“Yang membuat saya menangis itu pada saat siswa siswi melakukan foto ijazah, seorang guru tidak perlu ikut sebab katanya anak saya sudah dicoret kasihan anak saya. Selain itu setiap ada tugas pelajaran IPA tidak pernah dipanggil jadi terkesan dicoret dan semua ini dilakukan sebelum saya menulis surat pernyataan sebelum dilakukan pemindahan sekolah,” pungkasnya.














