BERITA TERKINIHEADLINEPEMPROV SUMSEL

Karhutla Mereda, Menteri LHK Wanti-Wanti Lahan Gambut Sumsel

×

Karhutla Mereda, Menteri LHK Wanti-Wanti Lahan Gambut Sumsel

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, OKI – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) yang tak kunjung tuntas mendapat perhatian Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya.

Dirinya bersama Pj Gubernur Sumsel, Agus Fatoni menggelar Rapat Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kantor DAOPS Manggala Agni, Kelurahan Kutaraya, Kayuagung, OKI, Minggu (12/11). Dalam rapat juga dihadiri unsur Forkopimda OKI.

Kader Partai NasDem itu meminta penjelasan mengenai upaya yang telah dilakukan Pemda, termasuk kondisi terkini Karhutla.

“Kita juga menganalisis, di Sumsel secara keseluruhan pada 2023 ini jumlah titik panas menjadi titik api sekira 10.090 titik. Dibandingkan 2019, jumlahnya sebanyak 29.000 titik, tertinggi pada 2015 yang jumlahnya 71.000 titik api,” ujar Siti Nurbaya.

Ia mengatakan, terkait perusahan yang melanggar aturan sudah ada langkah-langkah penegakan hukum dari Ditjen Gakkum.

“Pemda juga bisa mengambil langkah-langkah sanksi hukum kepada perusahaan. Kita bisa paralel, tidak ada masalah,” ungkapnya.

Ia menyebut, ada tiga upaya yang diperintahkan Presiden Jokowi untuk pencegahan Karhutla. Pertama, lewat pengendalian cuaca.

“Jadi kita cek hotspotnya, pola hujannya dan awan apakah bisa di modifikasi cuaca,” katanya.

Kedua, patroli darat dan udara. Terakhir, pengendalian lanskap.

Ia juga mewanti-wanti agar lahan gambut jangan sampai dibiarkan terbakar. Pasalnya, akan sulit dipadamkan jika sudah terlanjur. “Apalagi Sumsel ini kan wilayah gambutnya luas,” ungkapnya.

Pj Gubernur Sumsel (Sumsel), Agus Fatoni mengatakan, dalam upaya penanganan Karhutla, Pemprov Sumsel bersama Bupati/Wali Kota, Forkopimda dan stakeholder terkait bersinergi melakukan penanganan Karhutla.

Salah satu langkah dengan menggeser angaran untuk penanganan Karhutla karena kondisi darurat.

“Kita mengarahkan agar Pemda memanfaatkan dana anggaran belanja tidak terduga (BTT) yang memang diperuntukan untuk keadaan darurat, termasuk keperluan mendesak yang tidak dapat diprediksi seperti Karhutla ini,” ujarnya.

Selain itu, penanganan juga dilakukan terpadu dan komprehensif, semua bergerak dan berkesinambungan.

“Bukan hanya mengatasi kebakarannya saja, tapi bagaimana menyiapkan, mengantisipasi kebakaran yang akan datang,” tukasnya.