(Studi Terhadap Organisasi Berorientasi Seni dan Organisasi Berorientasi Ilmiah di Universitas Sriwijaya)
Amalia Melli Eka Safitri (07011282328069)
Balqis Dwi Inaleni. N (07011282328082)
SitiNuraziza(07011182328091)
Abstrak
Gaya kepemimpinan adalah karakteristik perilaku seorang pemimpin yang berperan dalam membimbing, memotivasi, dan mengarahkan sekelompok orang maupun organisasi. Gaya kepemimpinan organisasi berorientasi seni dan organisasi berorientasi ilmiah Universitas Sriwijaya menunjukkan perbedaan yang unik, meskipun kedua organisasi tersebut beroperasi dalam lingkungan yang relatif serupa.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan gaya kepemimpinan di kedua organisasi tersebut berdasarkan teori perilaku (behavioral theory), yang menekankan bahwa perilaku pemimpin memainkan peran kunci dalam efektivitas kepemimpinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yang melibatkan observasi, wawancara, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan gaya kepemimpinan di kedua organisasi tersebut sebagian besar terbentuk karena kebiasaan, rutinitas, serta konteks budaya yang berkembang di masing-masing lingkungan organisasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai pengaruh perilaku pemimpin terhadap dinamika organisasi dan efektivitas kepemimpinan dalam berbagai situasi.
Katakunci:GayaKepemimpinan,Organisasi,TeoriPerilaku.
Abstract
Leadership style refers to the behavioral characteristics of a leader that play a role in guiding, motivating, and directing a group of people or an organization. The leadership styles of the art- oriented organization and the science-oriented organization at Sriwijaya University demonstrate unique differences, even though both operate in relatively similar environments. This research aims to analyze and compare the leadership styles in these two organizations basedonbehavioral theory,whichemphasizes that a leader’s behavior is crucial to leadership effectiveness. The methodology used in this study is a qualitative approach involving observation, interviews, and data analysis. The findings indicate that the differences in leadership styles between the two organizations are primarily shaped by habits, routines, and theculturalcontexts developed ineachorganizationalenvironment.This research is expected to provide deeper insights into the influence of leader behavior on organizational dynamics and leadership effectiveness in various situations.
Keywords:LeadershipStyle,Organization,BehavioralTheory.
LATAR BELAKANG
Setiap individu memiliki cara memimpin mereka masing-masing. Dalam sebuah organisasi juga pasti memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Gaya kepemimpinan adalah cara bagaimana seorang pemimpin berperilaku ketika untuk mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu, kepemimpinan mempengaruhi keefektifan orang-orang dalam mencapai tujuan organisasi. Hal ini berdampak signifikan pada kualitas kepemimpinan individu, yang dapat mengarahkan organisasi ke tujuannya (Hasnawati et al., 2021). dalam jurnal ini kami meneliti dua organisasi di Universitas Sriwijaya yang berorientasi berbeda. Sebuah organisasi yang bergerak dibidang seni dan organisasi yang bergerak dibidang ilmiah.
Menurut Joseph C. Rostz, kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi diantara pemimpin (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya. Kepemimpinan dan pemimpin mempunyai perbedaan, dimana kepemimpinan yaitu siapa saja orang yang dapat memimpin lingkup tersebut terlepas dari jabatan, dan pangkat. Sedangkan pemimpin yaitu individu yang memimpin suatu organisasi dan mempunyai kedudukan yang tinggi. Seorang pemimpin belum tentu bisa mempunyai sifat dan jiwa kepemimpinan,tetapi individu yang mempunyai jiwa kepemimpinan dapat memimpin kelompoknya tersebut, dan dapat diandalkan oleh pekerja lainnya.
Behavioral theory atau Teori Perilaku dalam kepemimpinan menekankan bahwa efektivitas seorang pemimpin tidak ditentukan oleh sifat atau karakteristik bawaan (seperti dalam trait theory), melainkan oleh perilaku dan tindakan yang ditunjukkan pemimpin tersebut. Teori ini berpendapat bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dan dikembangkan, sehingga siapa pun dapat menjadi pemimpin yang baik melalui perubahan dan perilaku yang lebih baik. Pemimpin yang baik tidak hanya memperhatikan apa yang terjadi, tetapi mereka juga berusaha untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Menyeimbangkan tugas dan kebutuhan tim adalah cara terbaik untuk memimpin.
KAJIAN TEORITIS
Definisi Kepemimpinan
Pemimpin adalah orang yang mengarahkan kelompok untuk mencapai tujuan atau seseorang yang menjalankan kepemimpinan. Kepemimpinan adalah kemampuan membimbing, mengajak, dan menuntun orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin dapat dikatakan pemimpin yang baik jika memiliki sikap berani mengambil keputusan dengan cepat, berani bertanggung jawab, berani menanggung resiko terhadap apa yang diputuskan, dan berani mengahadapi masalah.
Gaya Kepemimpinan Organisasi Berorientasi Seni dan Organisasi Berorientasi Ilmiah
Baik gaya kepemimpinan kedua organisasi ini memiliki kelebihan dan kekurangan, terutama dalam konteks Teori Perilaku. Gaya kepemimpinan organisasi berorientasi seni di Universitas Sriwijaya lebih menekankan kreativitas, kerja sama, dan kebebasan berekspresi. Ini memiliki banyak keuntungan, seperti mendorong kreativitas dan inovasi dan menciptakan lingkungan yang mendukung konsep baru. Gaya ini juga kolaboratif, dengan fokus pada hubungan interpersonal yang kuat, memberikan fleksibilitas untuk merespons tren atau kebutuhan audiens, dan memberikan dukungan emosional yang memotivasi tim. Namun,gaya ini juga memiliki kekurangan, seperti kurangnya struktur yang dapat menghambat efisiensi, kemungkinan konflik dalam tim karena banyak ide yang bersaing, ketidakjelasan tujuan, dan kesulitan mengukur kinerja karena kreativitas seringkali tidak dapat diukur secara objektif.
Gaya kepemimpinan organisasi berorientasi ilmiah di Universitas Sriwijaya, di sisi lain,mengutamakan proses, struktur, dan data berbasis bukti. Memiliki struktur dan proses yangjelas, keputusan berdasarkan data yang mengurangi risiko kesalahan, efisiensi tinggi dalammencapai tujuan, dan pengendalian kualitas yang ketat untuk menjamin integritas hasil adalah beberapa kelebihannya. Gaya ini, bagaimanapun, memiliki kelemahan, termasuk ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan cepat, kurangnya keterlibatan emosional yang dapat mengurangi motivasi tim, keterbatasan dalam inovasi karena terlalu berfokus pada metode yang sudah terbukti, dan kemungkinan stres berlebih bagi anggota tim karena tekanan untuk mencapai hasil yang ditargetkan.
Secara keseluruhan, gaya kepemimpinan organisasi berorientasi seni lebih cocok untuk organisasi atau proyek yang membutuhkan fleksibilitas dan inovasi serta lingkungan kerja yang inspiratif dan kolaboratif. Gaya kepemimpinan organisasi berorientasi ilmiah, di sisi lain, lebih efektif dalam lingkungan yang membutuhkan ketepatan, kebenaran, dan hasil yang dapat diukur. Meskipun masing-masing gaya memenuhi kebutuhan unik organisasi, masing-masing gaya memiliki kelebihan dan kekurangan.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif yang dimana dilakukan dengan wawancara mendalam untuk menjawab pertanyaan yang ditanyakan dan dibahas oleh peneliti melalui WhatsApp. Pada metode kualitatif melalui wawancara ini dilakukan pendekatan dengan studi fenomenologi deskriptif yang dimana dapat mengungkap pengalaman dan tidak berprasangka. Pendekatan fenomenologi deskriptif ini juga fokus pada pengalaman pribadi yang mencakup diri individu itu sendiri (Suyanto, 2019). Atau bisa disebut dengan pengalaman mereka sendiri. Dilihat dari kepemimpinan kedua organisasi ini dapat dikaji bahwa fokus nya berbeda-beda lalu dilakukan analisis tentang kepemimpinan dari dua organisasi tersebut. Kemudian, peneliti melakukan penelitian terhadap pemimpin dari organisasi berorientasi seni, dan pemimpin dari organisasi berorientasi ilmiah Universitas Sriwijaya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemimpin dalam organisasi seni dan ilmiah memiliki peran penting, meskipun pendekatan mereka berbeda. Gaya kepemimpinan organisasi berorientasi seni cenderung fokus pada kreativitas, inspirasi, dan pengembangan ide-ide inovatif. Mereka menciptakan lingkungan yang mendukung ekspresi artistik dan menggunakan gaya kepemimpinan yang kolaboratif serta emosional, membangun hubungan yang erat dengan tim untuk mendorong kreativitas. Sebaliknya, gaya kepemimpinan organisasi berorientasi ilmiah mengutamakan struktur, analisis data, dan validitas penelitian. Mereka bekerja dengan pendekatan yang lebih formal dan berbasis bukti, memfokuskan pada hasil yang dapat diukur dan mematuhi metodologi ilmiah yang ketat.
Dalam hal gaya komunikasi, gaya kepemimpinan organisasi berorientasi Seni cenderung lebih fleksibel dan mendorong eksplorasi ide, sementara organisasi berorientasi ilmiah lebih terstruktur, menggunakan komunikasi formal untuk memastikan semua anggota tim memahami tujuan dan metodologi. Kedua jenis pemimpin harus menjaga kualitas hasil kerja, di mana pemimpin seni mengelola dinamika kreatif tanpa mengorbankan kualitas, dan pemimpin ilmiah memastikan integritas penelitian melalui analisis yang teliti. Baik seorang pemimpin dalam organisasi seni maupun organisasi ilmiah perlu beradaptasi dengan perubahan lingkungan mereka. Seorang pemimpin organisasi berorientasi seni harus tanggap terhadap cara mengeksplor, melestarikan atau bahkan perkembangan dalam kesenian mulai dari tari, musik, lagu, hingga lukisan dan hal-hal yang menyangkut kesenian,sementara seorang pemimpin organisasi berorientasi ilmiah harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi untuk mengkaji penelitian karya ilmiah. Adaptabilitas menjadi kunci keberhasilan mereka, karena memungkinkan mereka untuk terus berkembangdan memanfaatkan peluang baru.
Secara keseluruhan, kedua pemimpin ini memiliki pendekatan berbeda namun sama pentingnya dalam membentuk lingkungan kerja yang produktif, baik itu untuk menghasilkan karya seni berkualitas tinggi maupun temuan ilmiah yang andal.
SIMPULAN
Penelitian ini, yang bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan gaya kepemimpinan di organisasi berorientasi seni dan organisasi berorientasi ilmiah di Universitas Sriwijaya, menunjukkan bahwa perbedaan gaya kepemimpinan antara kedua organisasi tersebut sebagian besar terbentuk karena kebiasaan, rutinitas, serta konteks budaya yang berkembang di masing-masing lingkungan organisasi. Berdasarkan teori perilaku (behavioraltheory), penelitian ini menemukan bahwa organisasi berorientasi seni lebih menekankan kreativitas, kerja sama, dan kebebasan berekspresi, sedangkan organisasi berorientasi ilmiah lebih mengutamakan struktur, analisis data, dan validitas penelitian. Gaya kepemimpinan organisasi berorientasi seni cenderung fleksibel dan empati, sementara organisasi berorientasi ilmiah lebih formal dan berbasis bukti. Kedua jenis pemimpin harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan mereka, dengan pemimpin seni yang tanggap terhadap perkembangan dalam kesenian dan pemimpin ilmiah yang menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kedua gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan kekurangan yang unik, tetapi sama pentingnya dalam membentuk lingkungan kerja yang produktif dan efektif.
REFERENCES
Admin STAIKU. (2024, May 13). Mengapa Validitas dan Reliabilitas Penting dalam Penelitian? – STAI Kuningan. STAI Kuningan.
Hans, R. (2022, July 19). Teknik Analisis Data Deskriptif Kualitatif pada Fenomenologi.
Dqlab.id.
kautsar, anisa. (2024, August 7). 7 Langkah Menjadi Pemimpin Masa Depan yang Ideal |
Future Skills. Future Skills.
Ramadhan, A. M. (2023, March 14). Validitas dan Reliabilitas dalam Instrumen Penelitian -.
Ebizmark Blog.
Salmaa. (2022, April 11). Validasi Data Penelitian: Pengertian, Metode, dan Contoh Lengkap.
Penerbit Deepublish.













