MATTANEWS.CO, MEMPAWAH – Dalam upaya mengantisipasi masyarakat terjerat dengan judi online, Satgas TMMD Reguler 124 Kodim 1206/Mempawah mensosialisasikan bahaya jadi online bagi pemuda Desa Purun Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah.
Kegiatan tersebut disampaikan Pemateri Kapten Chb Agus JW sekaligus membuka sesi dengan menyoroti dampak nyata dari perjudian digital yang kini menjangkiti usia muda.
“Judi online itu diam-diam membunuh semangat anak muda. Lama-lama malas sekolah, enggan bekerja, karena pikirannya hanya menang dan jackpot,” tegas Kapten Agus.
Menurut Kapten Agus, penyuluhan ini menjadi momentum bagi pemuda desa untuk menyadari ancaman serius yang mengintai lingkungan mereka.
Hadi, salah satu tokoh pemuda yang aktif dalam karang taruna desa, memberikan testimoni setelah acara.
“Kami sadar bahwa banyak dari kami belum paham soal bahayanya. Dengan penyuluhan ini, kami jadi tahu dan akan saling mengingatkan,” ujarnya.
Hadi juga menyampaikan komitmen untuk menjadikan karang taruna sebagai agen sosialisasi anti judi online.
“Kami akan buat diskusi rutin dan edukasi lewat medsos desa. Harus ada gerakan dari kalangan muda sendiri,” tambahnya.
Kapten Agus menyambut baik inisiatif tersebut. Ia berharap para pemuda desa bisa menjadi duta-duta perubahan yang memperkuat ketahanan moral generasi muda. Satgas TMMD akan terus mendampingi dan memfasilitasi kegiatan positif yang digagas oleh warga.
Dalam penyuluhan tersebut, Kapten Agus menegaskan bahwa judi online bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menghancurkan masa depan pelakunya.
“Judi itu merusak, dan judi online lebih berbahaya karena mudah diakses lewat handphone. Banyak anak muda jadi korbannya,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia juga menjelaskan bahwa selain menyebabkan kerugian finansial, judi online dapat memicu tindakan kriminal lainnya, seperti pencurian, pemerasan, hingga kekerasan dalam rumah tangga.
“Semua berawal dari kebiasaan yang terlihat sepele. Sekali mencoba, banyak yang sulit berhenti,” ujar Kapten Agus.
Para peserta yang hadir terlihat antusias. Banyak di antara mereka yang baru mengetahui bahwa berbagai aplikasi atau situs game yang tersebar bisa mengarah pada praktik perjudian. Beberapa pemuda bahkan mengaku pernah mencoba dan kini menyesal.
“Kami sangat terbantu dengan informasi ini. Sebelum-sebelumnya tidak ada yang menjelaskan secara langsung,” kata Dedi, seorang pemuda desa yang mengikuti kegiatan tersebut.
Kapten Agus menutup penyuluhan dengan ajakan untuk membentengi diri dengan aktivitas positif dan memperkuat keimanan.
Karenanya, Kapten Cke Agus berpesan kepada pemuda, orang tua, dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak negatif perjudian daring.
Kapten Agus menjelaskan bahwa judi online adalah bentuk kejahatan yang kini menjelma menjadi ‘musuh baru’ dalam genggaman tangan, lewat smartphone. “Dulu orang berjudi sembunyi-sembunyi. Sekarang cukup modal kuota, anak-anak pun bisa terjerumus,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan beberapa kasus nyata di daerah lain, di mana pelajar bahkan mahasiswa harus kehilangan masa depan karena terlilit hutang akibat bermain judi online.
“Bukan hanya uang yang habis, tapi juga kepercayaan orang tua dan harga diri,” tambah Kapten Agus dengan nada prihatin.
Dalam diskusi, warga diajak berbagi pengalaman dan saling mengingatkan. Salah satu warga, Pak Junaidi, menyampaikan bahwa anak tetangganya pernah menjual barang di rumah karena kecanduan judi slot. “Kami tidak ingin hal itu terjadi di sini,” ucapnya.
Sebagai langkah konkret, Kapten Agus mengajak para peserta untuk aktif memantau anak-anak, menjaga komunikasi dalam keluarga, dan mengisi waktu dengan kegiatan produktif seperti olahraga, belajar, dan kegiatan sosial desa.
Disampaikan Kapten Agus bahwa peningkatan kasus perjudian online di kalangan remaja meningkat drastis di Indonesia, termasuk di wilayah pedesaan.
“Anak-anak sekarang lebih cepat belajar teknologi, tapi tidak semua tahu batasnya,” katanya.
Judi online kerap menyamar dalam bentuk permainan biasa, namun berujung pada taruhan uang.
“Inilah yang membuat banyak orang tua tidak sadar. Tiba-tiba anaknya kecanduan dan menghabiskan uang tabungan tanpa tahu resikonya,” lanjutnya.
Para ibu yang hadir mengaku khawatir karena anak-anak mereka aktif bermain game online. Mereka pun meminta tips pencegahan. Kapten Agus menekankan pentingnya pendampingan dan edukasi sejak dini.
“Gadget bukan musuh, tapi kita harus jadi filter utama,” katanya.
Kegiatan ini ditutup dengan pembagian leaflet informasi bahaya judi online dan diskusi kelompok. Satgas TMMD juga berjanji akan terus melakukan sosialisasi lanjutan agar lingkungan desa menjadi tempat tumbuh yang sehat bagi generasi muda.














