BERITA TERKINIHUKUM & KRIMINAL

KPK Resmi Limpahkan Berkas 2 Tersangka Kasus Suap Proyek DPRD OKU ke PN Palembang

×

KPK Resmi Limpahkan Berkas 2 Tersangka Kasus Suap Proyek DPRD OKU ke PN Palembang

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Komisi pemberantasan korupsi (KPK) melimpahkan berkas perkara korupsi atas nama Ahmad Sugeng santoso dan M fauzi alias Pablo ke PN klas 1 A khusus Palembang guna segera disidangkan, Selasa.

Kedua orang tersangka ini diketahui adalah sebagai pemberi suap anggota DPRD Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dalam kasus dugaan suap di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKU, Provinsi Sumatera Selatan TA 2024-2025.

Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rakhmat Irwan mengatakan, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah melimpahkan surat dakwaan beserta berkas perkara dua orang pihak pemberi suap, yakni M Fauzi alias Pablo selaku swasta, dan Ahmad Sugeng Santoso tersebut

” Selain melimpahkan berkas ke PN kita juga mengantarkan kedua terdangka ke Rutan Klas 1A Pakjo Palembang, dari rumah tahanan KPK ” kata Jaksa Rakhmat disela pelimpahan.

Hal tersebut juga terkonfirmasi oleh pihak PN Klas 1 A khusus Palembang, melalui juru bicaranya H. Khoiri Ahkmadi
Membenarkan jika pihaknya telah menerima berkas perkara tersebut.
“Betul sudah kami terima, dan saat ini sedang kami verifikasi agar terdaftar sehingga akan dipersiapkan jadwal persidangan dan menentukan majelis yang akan memegang atau menyidangkan perkara ini, ” Terangnya.

Hal senada juga di sampaikan Kepala Rutan Klas 1 A palembang, M Rolan juga membenarkan jika dua tersangka saat ini sudah dilimpahkan Penuntut KPK ke Rutan pakjo, ” Keduanya sudah kita Terima, dan saat ini kita tempatkan di sel tahanan sementara tepatnya sel tampilalin atau karantina guna pengenalan lingkungan selama 2 minggu kedepan sebelum diturunkan ke kamar tahanan bersama tahanan lainya, ” Terangnya.

Diketahui, Pada Minggu 16 Maret 2025, KPK resmi menetapkan enam dari delapan orang yang terjaring OTT sebagai tersangka, yakni Ferlan Juliansyah selaku anggota Komisi III DPRD OKU, M Fahrudin selaku Ketua Komisi III DPRD OKU, Umi Hartati selaku Ketua Komisi II DPRD OKU, Nopriansyah selaku Kepala Dinas PUPR Pemkab OKU, M Fauzi alias Pablo selaku swasta, dan Ahmad Sugeng Santoso selaku swasta.

Dalam OTT itu, KPK mengamankan barang bukti berupa uang sebesar Rp2,6 miliar, satu unit mobil Toyota Fortuner, dokumen, alat komunikasi, dan barang bukti elektronik lainnya.

Dalam perkaranya, pada Januari 2025, dilakukan pembahasan RAPBD OKU Tahun Anggaran (TA) 2025. Agar RAPBD TA 2025 dapat disahkan, beberapa perwakilan DPRD menemui pihak pemerintah daerah.

Pada pembahasan tersebut, perwakilan dari DPRD meminta jatah pokir dan disepakati bahwa jatah pokir tersebut diubah menjadi proyek fisik di Dinas PUPR dengan anggaran Rp45 miliar. Dari nilai proyek itu, jatah untuk ketua dan wakil ketua DPRD OKU disepakati mendapatkan Rp5 miliar, sedangkan untuk anggota DPRD OKU sebesar Rp1 miliar.

Nilai tersebut turun menjadi Rp35 miliar karena keterbatasan anggaran. Tetapi untuk fee-nya tetap disepakati sebesar 20 persen jatah bagi anggota DPRD. Sehingga total fee sebesar Rp7 miliar. Saat RAPBD TA 2025 disetujui, anggaran Dinas PUPR naik dari pembahasan awal Rp48 miliar menjadi Rp96 miliar.

Saat itu, Nopriansyah menawarkan sembilan proyek kepada Pablo dan Ahmad Sugeng dengan komitmen fee sebesar 22 persen, yaitu dua persen untuk Dinas PUPR dan 20 persen untuk DPRD.

Nopriansyah kemudian mengkondisikan pihak swasta yang mengerjakan dan PPK untuk menggunakan beberapa perusahaan atau CV yang ada di Lamteng untuk pinjam bendera dan dikerjakan Pablo dan Ahmad Sugeng. Kemudian penyedia dan PPK melakukan penandatanganan kontrak di Lamteng.

Beberapa perusahaan yang melakukan proyek dimaksud, yakni untuk rehabilitasi rumah dinas bupati sebesar Rp8.397.563.094,14 (Rp8,39 miliar) dengan penyedia CV Royal Flush (RF), untuk rehabilitasi rumah dinas wakil bupati sebesar Rp2.465.230.075,95 (Rp2,46 miliar) dengan penyedia CV Rimbun Embun (RE), pembangunan kantor dinas PUPR Kabupaten UPU senilai Rp9.888.007.167,69 (Rp9,88 miliar) dengan penyedia CV Daneswara Satya Amerta (DSA).

Selanjutnya, pembangunan jembatan di Desa Guna Makmur senilai Rp983.812.442,82 (Rp983,8 juta) dengan penyedia CV Gunten Rizky (GR), peningkatan Jalan Poros Desa Tanjung Manggus-Desa Bandar Agung senilai Rp4.928.950.500 (Rp4,92 miliar) dengan penyedia CV DSA, peningkatan Jalan Desa Panai Makmur-Guna Makmur senilai Rp4.923.290.484,24 (Rp4,92 miliar) dengan penyedia CV Adhya Cipta Nawasena (ACN).

Kemudian, peningkatan Jalan Unit XVI-Kedaton Timur senilai Rp4.928.113.967,57 (Rp4,92 miliar) dengan penyedia CV MDR Coorporation, peningkatan Jalan Letnan Muda M Sido Junet sebesar Rp4.850.009.358,12 (Rp4,85 miliar) dengan penyedia CV Berlian Hitam (BH), dan peningkatan Jalan Desa Makarti Tama sebesar Rp3.939.829.135,84 (Rp3,93 miliar) dengan penyedia CV MDR Coorporation.

Menjelang Hari Raya IdulFitri, pihak DPRD yang diwakili Ferlan, Fahrudin, dan Umi menagih jatah fee proyek kepada Nopriansyah sesuai dengan komitmen yang dijanjikan akan diberikan sebelum Hari Raya Idulfitri melalui pencairan uang muka sembilan proyek yang sudah direncanakan sebelumnya.

Pada kegiatan itu, patut diduga bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh KPK, pertemuan dilakukan antara anggota dewan, kepala Dinas PUPR, juga dihadiri oleh pejabat bupati dan kepala BPKAD.

Dalam perkara ini, KPK telah melakukan penggeledahan di 23 tempat, termasuk rumah dinas Bupati OKU sejak 19-24 Maret 2025. KPK mengamankan barang bukti elektronik, dan dokumen, di antaranya dokumen terkait Pokir DPRD OKU tahun 2025, dokumen kontrak sembilan proyek pekerjaan, voucher penarikan uang, dan lainnya