BERITA TERKINI

Ketua TP PKK Kabupaten Tulungagung: Cegah Trafficking dan Kekerasan Seksual Anak Lewat Edukasi dan Ketahanan Digital Keluarga

×

Ketua TP PKK Kabupaten Tulungagung: Cegah Trafficking dan Kekerasan Seksual Anak Lewat Edukasi dan Ketahanan Digital Keluarga

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG- Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Tulungagung, Dra. Endang Dwi Retnowati, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kader PKK, untuk semakin tanggap dan peduli terhadap bahaya trafficking dan kekerasan seksual terhadap anak, baik secara langsung maupun di ruang digital.

Hal itu disampaikan dalam sambutannya saat membuka acara Sosialisasi Pencegahan Trafficking dan Kekerasan Seksual terhadap Anak, yang digelar di ruang rapat kompleks Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Kabupaten Tulungagung, Jumat (25/7/2025).

Dalam sambutannya, Endang Gatut Sunu Wibowo menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya ibu-ibu kader PKK, dalam menciptakan lingkungan aman dan sehat bagi anak-anak.

Ia menyebutkan, kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya Pokja I PKK dalam mewujudkan tujuan Gerakan PKK, yaitu membangun keluarga yang beriman, bertaqwa, sehat, sejahtera lahir batin, serta memiliki akhlak dan budi pekerti luhur.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya perdagangan orang dan kekerasan seksual terhadap anak yang kian meningkat, apalagi di era digital seperti sekarang,” tegas wanita berhijab merupakan Istri Bupati Tulungagung H. Gatut Sunu Wibowo, S.E., M.E.

Endang menambahkan ia mengutip data Kementerian Luar Negeri, beliau mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2020 hingga Maret 2024, sedikitnya 3.703 Warga Negara Indonesia menjadi korban kejahatan online scamming, dan 1.481 di antaranya teridentifikasi sebagai korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Bahkan, sambung dia, baru-baru ini, salah satu warga Tulungagung juga menjadi korban kejahatan serupa. Di sisi lain, berdasarkan data KemenPPPA, sepanjang tahun 2024 tercatat 28.831 kasus kekerasan terhadap anak, dengan mayoritas korban adalah anak perempuan. Bentuk kekerasan yang dilaporkan mencakup fisik, psikis, seksual, eksploitasi, trafficking, hingga penelantaran.

“Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat anak, baik di rumah maupun masyarakat,” ujarnya prihatin.

Lebih lanjut Endang menjelaskan ia juga menyoroti meningkatnya bentuk kekerasan seksual online terhadap anak atau Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA), yang menjadi ancaman nyata di era digital. Data SIMFONI PPA mencatat 7.842 kasus kekerasan anak sejak Januari hingga Juni 2024, dengan kekerasan seksual menduduki peringkat pertama sejak 2019.

“Di sinilah pentingnya ketahanan digital keluarga. Orang tua dan anak-anak harus dibekali kemampuan resiliensi digital bijak dalam menggunakan teknologi, mengenali risiko, dan berani berkata tidak pada komunikasi yang mencurigakan,” tegasnya.

“Kami harapkan, melalui sosialisasi ini, peserta dapat menyerap ilmu dari narasumber, mengedukasi keluarga, dan menyebarluaskan informasi ini di lingkungan sekitar masing-masing,” terangnya.

“Kami mengajak seluruh pihak berkomitmen dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak. Semoga acara ini membawa manfaat, keberkahan, dan menjadi langkah kecil yang berdampak besar bagi keselamatan anak-anak kita,” sambungnya.

“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, acara ini secara resmi saya buka,” pungkasnya.