MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Kejuaraan balap perahu bidar tradisional yang menjadi ikon budaya sungai di Palembang, kembali digelar dengan antusiasme masyarakat yang tinggi. Namun di balik kemeriahan acara, muncul suara kekecewaan dari para peserta, terutama tim yang berhasil keluar sebagai juara. Mereka menyoroti minimnya apresiasi dari pemerintah daerah dalam bentuk hadiah, yang dinilai tidak sebanding dengan upaya dan biaya yang dikeluarkan selama persiapan lomba.
Pemenang juara Bidar Palembang 2025 Ncik Muhammad Alaudin Sakagrhan menyebutkan kekecewaanya terhadap hadiah yang sangat minim.
“Kami hanya menerima hadiah uang tunai Rp25 juta dan sebuah piala. Padahal ini perlombaan besar, yang melibatkan banyak orang, latihan berbulan-bulan, dan menjadi kebanggaan warga Palembang setiap tahun.,” ujarnya saat di jumpai, Selasa (26/08/2025).
Ncik Muhammad Alaudin Sakagrhan atau sapaan akrabnya Jaka ini juga menyebutkan Perbandingan pun sangat jauh dengan Pacu Jalur di Riau, perlombaan serupa yang juga merupakan warisan budaya tak benda Indonesia. Di ajang tersebut, hadiah yang diterima oleh juara jauh lebih fantastis.
“Juara 1 Pacu jalur di riau sudah mencapai 150juta belum ditambah kerbau, sapi. Kalau kita pemenang hanya menerina 25jt, sangat kecil beda sekali jauhnya,” ungkapnya.
Sebagai informasi, Juara Pacu Jalur di Riau Hadiahnya uang tunai sebesar Rp150 juta, piala bergilir dari Menteri Pariwisata, piala tetap, piagam penghargaan, tonggol juara (simbol kehormatan tradisional), bahkan sepasang kerbau dan seekor sapi.
Perbandingan inilah yang membuat sejumlah pihak mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam melestarikan dan mempromosikan budaya lokal.
“Bidar ini bukan sekadar lomba, tapi warisan budaya Palembang yang sudah berusia ratusan tahun. Kami butuh perhatian lebih dari pemerintah, baik dari sisi anggaran maupun promosi agar tidak kalah pamor dengan daerah lain,” tukasnya.















