MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Viral kasus guru honorer yang bernama Veni Zeliana, S.SPd, guru sejarah SMAN 9 Palembang yang tidak di rekomendasi dan mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari pihak sekolah yang dianjurkan untuk mengundurkan diri, mendapat tanggapan dari pengawas dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Palembang, Senin (6/10/2025).
Syamsul Rizal, Pengawas jenjang SMA dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan mengatakan, ia tidak menontonnya secara utuh dan baru menontonnya tadi malam.
“Saya hanya melihat dimedia sosial, saya baca bahwa ada guru ini tidak bisa diusulkan mendaftar di PPPK dan merasa terhambat. Diketahui guru ini pada tanggal 2 November 2022 sebagai guru pengganti karena ada guru yang pensiun, beliau mengajar di semester ganjil, SK itu terbit di semester genapnya, pada bulan Januari tahun 2023 ada 2 tenaga guru baru, satu guru sejarah dan guru PPPK, jadi pembagian Jam Pelajaran (JP) dihitung dulu, diprioritaskan yang sudah mengurus sertifikasi, jadi bukan masalah pilih kasih,” kata Syamsul saat dijumpai, Senin (6/10/2025).
Dengan adanya pembagian Jam Pelajaran dan Prioritas Sertifikasi, Syamsul mengatakan, JP Sejarah di sekolah tersebut dibagi.
“Karena jam sejarah dihitung dulu, kita memetakan pemenuhan jam guru sertifikasi dulu yakni 24 JP, sedangkan ibu Veni hanya kebagian mata pelajaran Sejarahnya hanya 2 JP. Kenapa begitu, karena (JP) sudah dibagi sama guru yang sertifikasi, tahun ajaran 2023-2024 juga begitu,” tuturnya.
Ketika ditanya tentang Veni yang sudah mengonfirmasi Disdik dan menyatakan kalau ia sudah memenuhi syarat untuk mengikuti tes PPPK, Syamsul menegaskan tidak mengetahui soal itu, sebab data yang ada padanya mengatakan demikian.
“Saya hanya berdasarkan data yang ada. Kalau menurut Dinas memenuhi, kita klarifkasi dan cek lagi. Saya juga tidak berani menghalangi hak orang,” ungkapnya.
Lalu pada sekitar bulan Juli-Agustus 2025, guru Veni hendak mengisi database untuk mendaftar PPPK paruh waktu, meski sudah bisa masuk ternyata aplikasi tidak muncul nama Veni.
“Memang betul dia mau ikut tes, tapi langsung ditolak aplikasi dan tidak bisa lanjut. Ada muncul 14 orang nama guru di SMAN 9 ini, tapi tidak ada nama beliau ya, karena belum memenuhi syarat,” katanya.
Ia menambahkan hal ini hanya persoalan antrean dan menunggu giliran saja. “Menurut saya sebenarnya hal ini lebih ke pada bersabar dan menunggu antrean saja,” tandasnya.














