MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Di tepian Sungai Musi yang legendaris, deru kapal pengangkut bahan bakar bersahut dengan gemericik air yang menabrak tiang-tiang Jembatan Ampera. Udara hangat khas Palembang siang itu terasa berbeda bukan sekadar aroma minyak dari dermaga, tapi juga semangat baru dari kilang Pertamina yang terus bertransformasi menuju energi bersih.
“Panas bumi merupakan solusi terbaik bagi Indonesia dalam perjalanan menuju energi bersih,” ujar Fathur Rahman, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), saat diwawancarai 18 Oktober 2025. “Kami ingin menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya wacana, tetapi langkah konkret menuju masa depan yang berkelanjutan.”
Transformasi itu kini terlihat di berbagai penjuru Sumatera Selatan. Dari proyek geothermal Lumut Balai di Kabupaten Muara Enim, hingga inisiatif Desa Energi Berdikari yang memanfaatkan panel surya di pelosok Banyuasin, Pertamina menegaskan diri bukan sekadar perusahaan minyak, melainkan perusahaan energi nasional yang sedang menyiapkan Indonesia menuju kemandirian energi dan masa depan rendah karbon.
Swasembada Energi dari Bumi Sendiri
Di Kabupaten Muara Enim, suhu panas bumi mencapai 240 derajat Celsius di bawah tanah. Dari sana, turbin geothermal Lumut Balai Unit 1 dan 2 berputar menghasilkan listrik hingga 110 megawatt cukup untuk menerangi lebih dari 150 ribu rumah tangga di Sumatera bagian Selatan.
“Energi panas bumi ini adalah aset nasional. Dengan teknologi Pertamina Geothermal Energy (PGE), kita memanfaatkan kekayaan bumi sendiri untuk menjaga ketahanan energi,” jelas Rizka Amanda, Manager Komunikasi PGE Area Sumatera, dalam wawancara di Lumut Balai, 16 Oktober 2025.
PGE, anak usaha Pertamina, kini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang sekitar 1.877 MW menjadikan Pertamina salah satu produsen energi panas bumi terbesar di dunia. Langkah ini sejalan dengan misi Energizing Indonesia untuk mencapai swasembada energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Tak hanya panas bumi, Pertamina juga memperkuat ketahanan energi melalui optimalisasi distribusi BBM dan LPG hingga ke pelosok. Di Sumatera Selatan, jaringan Fuel Terminal Plaju dan Depot Kertapati beroperasi 24 jam memastikan pasokan energi tetap aman.
“Pertamina memastikan energi tersedia di mana pun, kapan pun, dan dengan harga yang terjangkau. Itu bentuk nyata energy accessibility,” kata Bayu Pratama, Area Manager Pertamina Patra Niaga Sumbagsel, saat dibincangi di Plaju, 17 Oktober 2025.
Energi untuk Masyarakat: Dari Sungai Musi ke Desa Berdikari
Transformasi energi Pertamina tak hanya soal listrik dan bahan bakar, tapi juga bagaimana energi menjadi motor pemberdayaan masyarakat.
Di Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin, misalnya, panel surya kini berdiri di antara rumah-rumah nelayan. Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang dijalankan Pertamina menghadirkan energi bersih ke wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.
“Sebelumnya warga hanya menyalakan lampu dengan genset beberapa jam sehari. Sekarang bisa belajar dan bekerja malam hari tanpa takut kehabisan bahan bakar,” ujar Suryadi, Ketua Kelompok Nelayan Sungsang IV, saat ditemui di tepi dermaga, 19 Oktober 2025.
Program DEB tak hanya menghadirkan listrik, tapi juga membuka peluang ekonomi. Dengan energi surya, warga kini bisa mengoperasikan freezer untuk menyimpan hasil tangkapan ikan lebih lama, meningkatkan nilai jual di pasar Palembang.
“Energi menjadi katalis ekonomi baru. Pertamina ingin keberadaan energi terasa langsung manfaatnya bagi masyarakat,” tambah Fathur Rahman di Palembang.
Tak hanya di Banyuasin, semangat serupa juga menyala di Batubara, Sumatera Utara, dan Mempawah, Kalimantan Barat desa-desa energi yang kini menjadi model keberlanjutan berbasis komunitas. Hingga 2025, Pertamina telah mengembangkan lebih dari 80 Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia.
Bisnis Berkelanjutan di Tengah Transisi Energi
Transformasi hijau bukan hanya misi sosial, tapi juga strategi bisnis jangka panjang. Pertamina menegaskan diri sebagai perusahaan energi terintegrasi yang siap menghadapi era dekarbonisasi.
“Pertamina sedang menyeimbangkan dua hal: menjamin pasokan energi konvensional tetap aman, sambil mempercepat portofolio energi bersih,” ujar Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina, dalam konferensi Indonesia Energy Transition Forum di Jakarta, 15 Oktober 2025.
Strategi itu terlihat pada langkah diversifikasi Pertamina ke sektor bioenergy, hydrogen, dan carbon trading. Pertamina melalui subholding New & Renewable Energy (NRE) tengah mengembangkan green hydrogen berbasis energi panas bumi di Kamojang dan Lahendong, serta melakukan uji pasar carbon offset dari program Hutan Pertamina.
Pertamina juga melaporkan kinerja positif dari aspek ESG (Environmental, Social, Governance). Berdasarkan laporan keberlanjutan 2024, emisi karbon Scope 1 dan 2 berhasil ditekan lebih dari 32% dibanding tahun 2010, sementara investasi di energi baru meningkat hingga Rp 14 triliun dalam dua tahun terakhir.
“Transisi energi harus menguntungkan dan inklusif. Kami memastikan setiap langkah hijau Pertamina juga memberikan nilai ekonomi bagi negara,” tambah Nicke di Jakarta.
Menguatkan SDM dan Ekosistem Energi Hijau
Perubahan besar tak mungkin berjalan tanpa manusia yang siap. Karena itu, Pertamina mendirikan Pertamina Sustainability Academy pusat pembelajaran untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia di bidang energi hijau, teknologi karbon, dan manajemen keberlanjutan.
“Transisi energi bukan hanya tentang alat dan teknologi, tapi tentang pola pikir,” ujar Dwi Prasetyo, Head of Human Capital Learning Center Pertamina, di Jakarta, 10 Oktober 2025. “Kita ingin setiap insan Pertamina menjadi agen perubahan dalam transisi energi nasional.”
Melalui akademi ini, ribuan pegawai Pertamina dilatih memahami konsep green business, efisiensi energi, hingga carbon accounting. Kolaborasi juga dilakukan dengan perguruan tinggi dan mitra global seperti University of Queensland dan Mitsubishi Research Institute.
Langkah ini memperkuat visi Pertamina sebagai perusahaan energi berkelas dunia yang beroperasi dengan tata kelola baik, berdaya saing internasional, dan berpijak pada prinsip keberlanjutan.
Dari Palembang untuk Indonesia yang Berdaulat Energi
Menjelang senja, siluet Jembatan Ampera memantul di permukaan Sungai Musi. Di kejauhan, cerobong kilang Plaju mengepulkan asap putih tipis bukan tanda polusi, melainkan simbol transformasi. Di bawahnya, ratusan pekerja berseragam oranye tampak bersemangat menjalankan tugas mereka.
Bagi Pertamina, transformasi energi bukan hanya tentang mengganti sumber daya, tapi tentang menyalakan semangat kemandirian. Dari Palembang, denyut energi itu merambat ke seluruh penjuru negeri: dari Lumut Balai ke Banyuasin, dari Kamojang ke Mempawah.
“Energizing Indonesia bukan sekadar slogan. Ini panggilan bagi seluruh bangsa untuk bergerak menuju masa depan energi yang bersih, berdaulat, dan berkeadilan,” ujar Fathur Rahman menutup perbincangan.














