BERITA TERKINIEKONOMI & BISNISHEADLINE

Rumah Produksi Tempe Karo ini Dapat Dukungan Penuh dari Pertamina Patra Niaga

×

Rumah Produksi Tempe Karo ini Dapat Dukungan Penuh dari Pertamina Patra Niaga

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, YOGYAKARTA – Puluhan wartawan asal Sumbagsel yang merupakan mitra kerja daripada Pertamina Patra Niaga mengunjungi Rumah Produksi Tempe Koro Tradisional untuk kelompok Berlian Progo, di  Dusun Babakan, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Bantul.

Untuk sekedar info, tanaman koro pedang selama ini kalah populer dengan kedelai sebagai bahan pembuat tempe. Padahal, tempe bukan hanya bisa dibuat dari kedelai, tapi juga bisa dari tanaman lain. Salah satunya adalah tanaman koro. Jenis yang banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia sendiri adalah jenis koro pedang. Salah satu kelompok tani yang memanfaatkannya yaitu Kelompok Berlian Progo, Bantul.

Koro pedang merupakan jenis kacang koro yang masyarakat umum paling kenal untuk diolah menjadi tempe. Biji koro pedang mudah dikenali dari selimut kulit biji yang sangat tebal dan kulit biji tersebut menempel kuat yang sangat berbeda dengan kulit ari tipis pada kedelai.

Pertamina Patra Niaga membangun rumah produksi tempe koro agar petani bisa meningkatkan produktivitasnya dan kualitas produksi olahan koro.

Pembangunan rumah produksi ini merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal (FT) Rewulu.

Pada tahun 2023 lalu, program Pengolahan Tempe Koro Tradisional yang dijalankan oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui FT Rewulu, telah mendapatkan pengakuan dalam penghargaan PROPER Emas. Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 20 Desember lalu. Untuk FT Rewulu sendiiri sudah mendapatkan PROPER Emas sebanyak 11 kali.

UMKM Berlian Progo Bangkitkan Ekonomi Perempuan Bantul Lewat Inovasi Olahan Kacang Koro, Didukung CSR Pertamina

Dari sebuah desa kecil di bantaran Sungai Progo, kreativitas ibu-ibu Dusun Babakan, Kelurahan Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, melahirkan kisah inspiratif. Melalui kelompok UMKM Berlian Progo, mereka berhasil mengolah kacang koro komoditas lokal yang semula kurang diminati menjadi beragam produk inovatif bernilai ekonomi tinggi. Program pemberdayaan ini mendapat dukungan dari CSR Pertamina sejak tahun 2020, yang menjadi titik awal kebangkitan ekonomi perempuan di wilayah tersebut.

Ketua Kelompok UMKM Berlian Progo, Winarti, menceritakan perjalanan kelompoknya yang dimulai pada Oktober 2021 dengan hanya 13 anggota aktif dari 20 calon peserta awal. “Kami tidak menjanjikan hasil instan. Awalnya banyak yang ragu karena harus memulai dari nol. Tapi dengan semangat belajar, kami terus berproses,” ujarnya.

Berlian Progo mulanya hanya memproduksi tempe kacang koro. Namun karena belum banyak dikenal masyarakat yang terbiasa dengan tempe kedelai penjualannya cukup menantang. Dari situlah muncul inovasi baru, seperti keripik tempe koro, cookies, bakpia aneka rasa, abon, sari kacang koro, hingga tempe bacem frozen yang kini menjadi best seller. Total sudah ada tujuh varian produk olahan kacang koro yang dihasilkan kelompok ini.

Menurut Winarti, olahan kacang koro memiliki potensi besar sebagai alternatif pengganti kedelai impor. “Kacang koro kandungan gizinya hampir sama bahkan lebih tinggi dibanding kedelai, dan lebih aman karena non-GMO,” jelasnya.

Namun, proses pengolahannya tidak mudah. Kacang koro mengandung sianida alami yang harus dihilangkan terlebih dahulu. “Direndam tiga hari, tiap enam jam airnya diganti sampai busanya benar-benar hilang. Setelah itu baru bisa diolah menjadi tempe atau sari koro,” tambah Indrani Fitri, anggota bagian pemasaran Berlian Progo.

Sinergi Petani dan Perempuan Penggerak Desa

Bahan baku kacang koro semula didatangkan dari Jawa Timur dengan harga mencapai Rp20.000–Rp28.000/kg. Kini, kelompok ini sudah berkolaborasi dengan 10–15 petani lokal di wilayah Babakan dan sekitarnya, yang menanam sendiri bibit koro hasil pendampingan kelompok.

Setiap musim tanam, satu petani mampu mengelola lahan 1–2 hektare di bantaran Sungai Progo. Dalam kondisi normal, tanaman koro bisa dipanen tiga kali setahun, dengan produktivitas mencapai 40 ton per tahun.

Namun, tantangan tetap ada, terutama saat musim hujan yang dapat menyebabkan gagal panen. “Kacang koro butuh curah panas tinggi dan air sedikit. Kalau kebanjiran, tanamannya bisa mati,” ungkap Agus Triono, Kepala Dusun Babakan.

Dampak Nyata CSR Pertamina

Kisah sukses Berlian Progo tidak lepas dari peran Pertamina yang menyalurkan bantuan CSR berupa pelatihan, alat produksi, serta pendampingan usaha. Program ini turut melibatkan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memperkenalkan potensi kacang koro sebagai bahan pangan sehat alternatif.

“Pertamina melihat semangat ibu-ibu ini luar biasa. Kami bantu agar mereka bisa berproduksi dengan standar higienis dan berkelanjutan,” jelas Area Manager Comunication ralation dan CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagsel, Rusminto Wahyudi.

Pendampingan itu membuahkan hasil. Kini produk Berlian Progo tidak hanya dipasarkan di Bantul, tapi juga telah menembus pasar Medan, Aceh, Gunungkidul, bahkan pernah dibawa ke Malaysia dan Korea oleh pengunjung sebagai oleh-oleh khas.

Produk dipasarkan melalui media sosial TikTok dan Instagram @berlianprogo, serta melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) di berbagai dusun yang menjadi mitra distribusi. Dalam setiap produksi rutin hari Jumat, kelompok ini bisa menghasilkan 10 kg tempe koro atau sekitar 400 bungkus daun.

Dari Rumah Tangga Menuju Kemandirian Ekonomi

Selama lima tahun berjalan, anggota Berlian Progo yang kini berjumlah 12 orang aktif telah merasakan peningkatan pendapatan. “Alhamdulillah setiap tiga bulan kami sudah bisa dapat hasil. Semua proses kami lakukan dengan izin dan dukungan keluarga,” ungkap salah satu anggota.

Meski masih menghadapi kendala seperti sertifikasi halal untuk produk abon dan legalisasi koperasi, semangat mereka tak surut. “Kami terus berproses, ikut bimtek BBPOM dan persiapan sertifikasi halal. Harapannya ke depan bisa jadi koperasi resmi agar lebih kuat,” kata Winarti optimistis.

Dengan modal awal 100 kg kacang koro dan pendampingan CSR Pertamina, kini Berlian Progo tumbuh menjadi contoh nyata transformasi ekonomi berbasis perempuan dan potensi lokal. Dari tempe sederhana, mereka mengukir peluang ekspor dan mengangkat nama Dusun Babakan ke panggung nasional.