MATTANEWS.CO, INDRALAYA – Sebuah mobil milik jurnalis TVRI, Yudi Gromiko, ludes terbakar di halaman rumahnya di Ogan Ilir, Kamis (20/11) siang kemarin. Kebakaran yang terjadi ketika mobil jenis Toyota Innova ini sendiri dalam keadaan mati mesin yang kemudian memunculkan berbagai kejanggalan. Sejumlah pihak meminta dilakukan investigasi lebih mendalam atas insiden yang dinilai terlalu rapi untuk sebuah kejadian kebetulan.
Kobaran api diketahui muncul tiba-tiba tanpa tanda awal seperti asap tipis atau bau kabel terbakar. Hanya dalam waktu singkat terlihat kobaran api semakin membesar yang menghanguskan seluruh bodi mobil, sehingga hanya menyisakan puing-puing kendaraan.
Insiden misterius ini sendiri terjadi tanpa seorang pun saksi yang melihat awal kejadian. Rekaman CCTV yang dapat merekam detik-detik awal belum tersedia di rumah Yudi.
Meskipun sementara disimpulkan ihwal kejadian bukan sengaja di sabotase,namun anehnya dari pemeriksaan secara umum tidak ditemukan indikasi korsleting, komponen rusak, atau material pemicu api dari lingkungan sekitar kendaraan.
Minimnya jejak teknis membuat peristiwa tersebut sulit dijelaskan sebagai insiden biasa. Beberapa aktivis justru menilai rangkaian kejadian tersebut terlalu “bersih”, tanpa ditemukan pola khas kebakaran kendaraan pada umumnya.
Sosok Yudi bukan figur baru di lapangan peliputan lokal. Dalam beberapa bulan terakhir, ia kerap mengangkat isu-isu yang dianggap sensitif, mulai dari dugaan pemborosan anggaran hingga proyek-proyek bernilai besar yang memunculkan pertanyaan publik. Sejumlah pegiat media menyebut Yudi sebagai salah satu jurnalis yang cukup konsisten menyoroti praktik tidak wajar di lingkup Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir.
Sepak terjang Yudi disebut tak selalu berada di wilayah aman. “Di Ogan Ilir, jika ada LSM atau wartawan kritis, mereka akan dibenci dan dipersulit ruang geraknya,” ujar pemuda penggiat kontrol sosial Kabupaten Ogan Ilir, Budi Gempita, Jumat (21/11).
Budi Gempita menyatakan keraguan dirinya atas kebakaran tersebut terjadi karena faktor teknis. Ia menilai sejumlah kondisi di lokasi kejadian layak diperiksa lebih detail, termasuk area rumput dan ilalang yang menurut dia berkemungkinan dapat menjadi jalur seseorang mendekati kendaraan sebelum api muncul.
“Saya khawatir kebakaran ini bukan peristiwa spontan seperti insiden kebakaran biasanya” katanya.
Ia juga menyinggung catatan panjang ketegangan antara kelompok kritis dan pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan di daerah tersebut.
“Melihat Kabupaten Ogan Ilir sudah masuk kategori rawan kritik, saya berharap APH tidak menganggap kasus ini sebagai kejadian biasa.” jelasnya.
Budi berharap aparat penegak hukum membuka ruang komunikasi rutin dengan jurnalis, LSM, dan organisasi masyarakat sipil untuk membahas potensi intimidasi maupun kekerasan yang mereka alami.
“Perlu ada wadah bulanan agar keluhan terkait ancaman atau tekanan bisa disampaikan langsung. Ini demi keselamatan bersama,” ujarnya.
Di tengah mencuatnya dugaan sabotase, Yudi memilih sikap tenang. Kendati harus kehilangan mobil, Ia justru mengungkapkan rasa syukur karena pada saat kejadian dirinya sedang tidak berada di dalam mobil,
“Tentu saya terkejut. Saat kejadian saya tengah menyiapkan hasil liputan. Tapi saya bersyukur atas apa pun takdir Allah. Termasuk harus kehilangan mobil. Semua yang kita miliki hanyalah titipan.” ungkapnya.
Ketenangan sikap Yudi itu sendiri tidak meredakan kegelisahan kawan-kawan seprofesinya. Sebagian menyebut, justru sikap ikhlas itulah yang membuat kasus seperti ini kerap dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian tuntas.
Kendati Yudi mengaku tidak ingin berspekulasi dengan menuduh pihak mana pun, namun ia juga menegaskan dirinya tidak gentar tetap bersuara lantang bila insiden ini ternyata merupakan bentuk intimidasi terhadapnya,
“Saya ikhlas atas semuanya karena apa yang terjadi adalah takdir Allah. Siapa pun tidak dapat menghindarinya. Termasuk keyakinan ini yang menepis keraguan untuk tetap menyuarakan kebenaran, meskipun ada kejadian ini,” tegasnya.
Hingga kini, aparat belum mengeluarkan kesimpulan resmi mengenai sumber api. Pemerhati kebebasan pers meminta kepolisian menelusuri seluruh kemungkinan, termasuk kerusakan teknis yang terbang sulit dideteksi hingga kemungkinan sabotase dengan tujuan tertentu.
Kasus kebakaran ini juga menjadi ujian bagi aparat dalam menjelaskan apakah peristiwa tersebut merupakan musibah kebakaran mobil yang secara teknis yang terbilang langka atau ada faktor lain yang perlu diungkap lebih jauh tanpa keraguan.
Budi Gempita mendesak Aparat Penegak Hukum untuk melakukan investigasi mendalam terkait kejadian ini. Ia meragukan jika kebakaran tersebut disebabkan oleh faktor teknis semata.
“Saya meragukan jika kejadian ini karena mobilnya kebakaran akibat korsleting kabel atau apapun. Memungkinkan bila disengaja dibakar. Kabupaten Ogan Ilir ini berbeda dengan daerah lain di Sumsel. Oknum pejabat tidak segan memblokir, membenci, dan menutup segala ruang bagi wartawan ataupun LSM yang berseberangan,” tandasnya.














