BERITA TERKINIEKONOMI & BISNIS

Hampir Gagal VICTORY:  Kisah Mata SePeLe Reyhan

×

Hampir Gagal VICTORY:  Kisah Mata SePeLe Reyhan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI/ROP

MATTANEWS.CO – Lampu aula kampus menyilaukan mata Reyhan.
Bukan karena terlalu terang melainkan karena matanya sudah nyaris menyerah.

Lima menit terakhir pertandingan final Mobile Legends itu terasa seperti berjalan lambat. Layar ponsel di tangannya tampak sedikit buram. Bukan karena koneksi, bukan juga karena layar bermasalah. Reyhan berkedip cepat, mencoba memaksa fokus kembali.

Tidak berhasil.

Matanya perih. Sepet. Lelah.
Tiga rasa yang sudah lama ia kenal, tapi selalu ia anggap biasa.

Di sekelilingnya, sorakan penonton makin kencang. Ini babak penentuan turnamen antar-kampus. Salah baca situasi, salah gerak satu detik saja, semuanya bisa runtuh. Reyhan menarik napas dalam-dalam.

“Jangan sekarang,” gumamnya pelan.

Jari-jarinya tetap bergerak. Strategi berjalan. Insting mengambil alih. Hingga akhirnya, satu kata muncul di layar: Victory.

Timnya menang. Piala diangkat. Tepuk tangan pecah.
Namun di balik euforia itu, Reyhan hanya ingin satu hal: menutup mata.

Game, Kampus, dan Ambisi

Bagi Reyhan, Mobile Legends bukan sekadar game pengisi waktu luang. Ini soal ambisi, soal pembuktian diri, soal membawa nama kampus. Mahasiswa ini sudah lama aktif di komunitas game kampusnya. Latihan rutin dua sampai tiga jam per hari jadi kebiasaan. Menjelang turnamen, durasinya bisa melonjak hingga lima jam.

“Kalau udah main bareng tim, waktu tuh kayak nggak kerasa,” katanya.

Ponsel dan tablet jadi teman hampir sepanjang hari. Dari latihan, diskusi strategi, sampai menonton ulang pertandingan lawan. Tanpa disadari, ada satu kebiasaan kecil yang ikut berubah: kedipan mata makin jarang.

SePeLe yang Dianggap Biasa

Keluhan di mata sebenarnya bukan hal baru bagi Reyhan.
Awalnya cuma cepat capek. Lalu mulai terasa sepet, seperti ada pasir halus yang nggak kelihatan. Kadang perih, apalagi kalau main lama di ruangan ber-AC.

Namun semua itu selalu dianggap wajar.

“Namanya juga main game lama. Capek dikit kan normal,” ujarnya.

Reyhan biasanya hanya mengucek mata, minum air, lalu lanjut bermain. Ia tidak pernah menganggapnya sebagai masalah kesehatan. Selama layar masih kelihatan dan tangan masih responsif, semuanya terasa aman.

Sampai keluhan itu muncul di momen yang sama sekali tidak ia duga.

Klimaks: Fokus yang Hampir Runtuh

Babak final berlangsung tegang. Kedua tim bermain hati-hati. Reyhan harus membaca pergerakan lawan, memberi sinyal ke tim, dan mengambil keputusan cepat. Semua itu menuntut fokus penuh.

Di tengah pertandingan, matanya mulai terasa panas dan berat.

“Ada satu momen aku kayak ragu sama apa yang aku lihat,” kata Reyhan.

Karakter lawan bergerak cepat. Reyhan berkedip, tapi pandangan tetap terasa tidak nyaman. Detik itu jadi titik paling menegangkan bukan hanya karena lawan, tapi karena dirinya sendiri.

Ia sadar, kalau fokusnya hilang sedikit saja, kekalahan bisa datang bukan karena kurang skill, melainkan karena kondisi mata.

Beruntung, pertandingan berakhir dengan kemenangan. Tapi rasa perih dan sepet di mata tetap tertinggal, bahkan setelah semua selebrasi selesai.

“Itu pertama kalinya aku kepikiran, jangan-jangan mata gue kenapa-kenapa,” ujarnya.

Bukan Kasus Tunggal

Apa yang dialami Reyhan ternyata jauh dari kata langka.
Di Jakarta dan Bandung, 41 persen masyarakat mengalami mata kering, dan banyak di antaranya tidak menyadarinya. Keluhan seperti mata sepet, perih, dan lelah sering dianggap remeh padahal itu adalah tanda awal mata kering.

Dokter spesialis mata dr. Bima Prasetya, SpM mengatakan, kasus seperti Reyhan banyak ditemui, terutama pada generasi muda.

“Anak muda sekarang intens banget pakai gadget. Mereka datang dengan keluhan mata cepat capek, perih, atau sepet. Kebanyakan mengira itu hal biasa,” jelasnya.

Menurut dr. Bima, saat seseorang fokus menatap layar ponsel atau tablet, frekuensi berkedip bisa turun drastis. Padahal, kedipan berfungsi menjaga kelembapan mata.

“Kalau jarang berkedip, mata jadi kering dan tidak nyaman,” ujarnya.

Masalah Individu yang Jadi Isu Bersama

Dari kacamata kesehatan masyarakat, kondisi ini bukan sekadar persoalan individu. Dr. Maya Lestari, pemerhati kesehatan masyarakat, menilai mata kering sebagai masalah gaya hidup digital yang makin luas.

“Kita hidup di era layar. Hampir semua aktivitas terhubung dengan gadget. Masalahnya, keluhan mata kering sering dianggap sepele karena tidak terasa sebagai penyakit berat,” katanya.

Padahal, jika dialami terus-menerus, mata kering bisa mengganggu kenyamanan, fokus, hingga produktivitas. “Orang bertahan dengan kondisi tidak nyaman tanpa sadar bahwa itu sebenarnya bisa dicegah dan diatasi,” tambahnya.

Titik Balik Reyhan

Pengalaman di final menjadi titik balik bagi Reyhan. Setelah lomba, ia mulai mencari tahu soal keluhan yang dialaminya. Ia baru memahami bahwa mata sepet, perih, dan lelah yang selama ini dianggap biasa adalah gejala mata kering.

“Gue baru ngeh, ternyata mata kering itu bukan cuma dialami orang kantor,” katanya.

Reyhan mulai mengubah kebiasaan. Ia memberi jeda saat bermain, mengalihkan pandangan dari layar, dan lebih memperhatikan sinyal dari matanya. Untuk membantu meredakan keluhan, ia juga menggunakan tetes mata seperti INSTO Dry Eyes.

“Setelah pakai, mata terasa lebih nyaman. Nggak gampang perih kayak sebelumnya,” ujarnya.

Bukan Soal Berhenti, Tapi Lebih Peduli

Reyhan tidak berhenti bermain game. Ia tetap aktif di komunitas dan masih mengikuti kompetisi. Bedanya, kini ia lebih sadar bahwa mata juga punya batas.

“Kalau udah sepet atau perih, gue berhenti dulu. Soalnya percuma jago tapi nggak fokus,” katanya.

Baginya, menjaga kesehatan mata bukan berarti mengorbankan hobi atau prestasi. Justru sebaliknya itu adalah cara agar keduanya bisa berjalan lebih lama.

SePeLe yang Menentukan

“Mata sepet, perih, dan lelah itu bukan hal sepele,” tegas dr. Bima. “Itu tanda mata butuh perhatian.”

Kisah Reyhan menunjukkan bahwa mata kering bisa datang ke siapa saja mahasiswa, gamer, pekerja, siapa pun yang hidupnya dekat dengan layar. Ia tidak selalu menghentikan langkah, tapi bisa muncul di momen paling krusial dan mengganggu fokus tanpa disadari.

Menang dengan Mata yang Lebih Dijaga

Kemenangan Reyhan di turnamen kampus memang membanggakan. Namun pelajaran terbesarnya justru datang setelah layar ponsel dimatikan.

“Mata itu modal utama. Kalau nggak dijaga, semuanya bisa kena,” katanya.

Di era digital, di mana layar hampir tak pernah padam, kisah Reyhan menjadi pengingat bahwa yang sering dianggap SePeLe justru bisa menentukan segalanya. Mengenali tanda mata kering, tidak mengabaikan rasa tidak nyaman, dan menjaga kelembapan mata adalah bagian dari gaya hidup digital yang lebih cerdas.

Karena prestasi bukan hanya soal skill dan latihan tetapi juga soal melihat masa depan dengan mata yang tetap nyaman dan jernih.