NAMA : MAHESA DINATA
NIM : 6120230127
MATA KULIAH : ETIKA DAN HUKUM MEDIA MASSA
DOSEN PENGAMPUH : MUHAMAD AFDOLI RAMADONI, S.SOS.,M.SOS
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Perkembangan komunikasi massa pada era digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat mengakses dan menyebarkan informasi. Media massa yang sebelumnya berperan sebagai sumber utama informasi kini harus bersaing dengan media sosial dan platform digital yang memungkinkan setiap individu menjadi produsen informasi.
Di balik kemudahan tersebut, muncul permasalahan serius berupa maraknya penyebaran berita hoaks. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kualitas informasi yang diterima masyarakat, tetapi juga berpengaruh besar terhadap tingkat kepercayaan publik terhadap media massa.
Berita hoaks adalah informasi yang tidak sesuai dengan fakta, bersifat menyesatkan, dan sengaja atau tidak sengaja disebarkan kepada publik. Dalam konteks komunikasi massa, hoaks dapat berbentuk teks, gambar, video, maupun kombinasi ketiganya yang dikemas menyerupai berita jurnalistik. Keberadaan berita hoaks bertentangan dengan fungsi utama media massa, yaitu sebagai penyampai informasi yang akurat, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pihak yang terlibat dalam penyebaran dan dampak berita hoaks terdiri atas pembuat hoaks, penyebar informasi, media massa, serta masyarakat sebagai khalayak. Media massa memiliki posisi strategis karena secara historis dianggap sebagai sumber informasi terpercaya. Ketika media massa gagal melakukan verifikasi atau terjebak dalam penyebaran informasi palsu, kepercayaan publik terhadap institusi media secara keseluruhan dapat mengalami penurunan.
Masyarakat sebagai konsumen informasi juga memiliki peran penting karena sering kali ikut menyebarkan berita tanpa melakukan pengecekan kebenaran.
Fenomena berita hoaks semakin intens sejak meningkatnya penggunaan internet dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa tahun terakhir, hoaks sering muncul pada momen-momen krusial seperti pemilihan umum, krisis kesehatan, konflik sosial, dan bencana alam. Pada situasi tersebut, kebutuhan akan informasi cepat sering kali mengalahkan prinsip kehati-hatian, baik dari sisi media maupun masyarakat.
Berita hoaks tersebar melalui berbagai saluran komunikasi massa, terutama media sosial, situs berita daring, dan aplikasi pesan instan. Karakteristik media digital yang cepat, interaktif, dan tanpa batas geografis memungkinkan hoaks menyebar secara luas dalam waktu singkat. Bahkan, dalam beberapa kasus, informasi palsu dapat masuk ke media arus utama akibat tekanan kecepatan publikasi dan persaingan antar media.
Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan maraknya berita hoaks. Rendahnya literasi media masyarakat membuat banyak individu sulit membedakan antara informasi faktual dan manipulatif. Selain itu, kepentingan politik, ekonomi, dan ideologis sering menjadi motif utama dalam pembuatan hoaks. Dari sisi media, tuntutan untuk menyajikan berita secara cepat demi menarik perhatian audiens dan meningkatkan trafik juga berpotensi mengorbankan akurasi.
Algoritma media digital yang memprioritaskan konten viral turut memperparah penyebaran berita hoaks.
Dampak berita hoaks terhadap kepercayaan publik terhadap media massa terjadi secara bertahap dan berkelanjutan. Ketika masyarakat berulang kali menerima informasi yang tidak benar atau saling bertentangan, muncul sikap skeptis terhadap media. Publik menjadi ragu terhadap validitas berita, bahkan terhadap informasi yang disajikan oleh media yang kredibel.
Kondisi ini dapat memicu kebingungan informasi (information disorder), polarisasi opini, serta menurunnya partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi.
Dalam jangka panjang, menurunnya kepercayaan publik dapat melemahkan fungsi media massa sebagai pilar demokrasi, sarana kontrol sosial, dan alat pendidikan masyarakat. Media yang kehilangan kepercayaan publik akan mengalami penurunan kredibilitas, audiens, dan pengaruh sosial. Akibatnya, peran media massa dalam membangun masyarakat yang kritis, informatif, dan partisipatif menjadi tidak optimal.
Oleh karena itu, diperlukan upaya komprehensif untuk mengatasi dampak berita hoaks. Media massa harus memperkuat etika jurnalistik, meningkatkan proses verifikasi fakta, serta mengedepankan kualitas dan akurasi informasi dibandingkan kecepatan. Di sisi lain, peningkatan literasi media di kalangan masyarakat menjadi langkah penting agar publik mampu bersikap kritis terhadap informasi yang diterima. Dengan sinergi antara media massa dan masyarakat, kepercayaan publik dapat dipulihkan, sehingga komunikasi massa dapat kembali menjalankan fungsinya secara efektif dan bertanggung jawab.(*)














