BERITA TERKINIHEADLINEPEMERINTAHAN

Banjir Rendam Lumbung Pangan OKI, Benih Padi Sebagai Penopang Sementara

×

Banjir Rendam Lumbung Pangan OKI, Benih Padi Sebagai Penopang Sementara

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, OKI – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menyalurkan 142,7 ton benih padi untuk petani yang sawahnya terendam banjir. Bantuan dari Kementerian Pertanian itu diharapkan mampu menahan potensi penurunan produksi beras di salah satu lumbung pangan utama Sumatera Selatan, meski pemulihan penuh masih bergantung pada cepat atau lambatnya air surut.

Banjir yang berulang di kawasan sentra pangan OKI kembali menyingkap kerentanan sistem pertanian terhadap perubahan iklim dan tata kelola air. Bantuan benih memang menjadi penopang sementara, tetapi tanpa perbaikan pengendalian banjir dan irigasi, risiko gagal tanam berpotensi terus berulang di masa mendatang.

Sekitar 6.000 hektare sawah di wilayah OKI terdampak banjir dalam beberapa pekan terakhir. Wilayah terparah berada di Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya dua kawasan yang selama ini menyumbang produksi padi signifikan bagi kabupaten tersebut. Selain itu, Jejawi dan Air Sugihan juga masuk dalam daftar wilayah terdampak.

Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki menyebut bantuan benih sebagai langkah darurat untuk menjaga keberlanjutan tanam petani. Namun, ia mengakui bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh kondisi alam yang belum sepenuhnya terkendali.

“Kuncinya air harus segera surut. Kalau lahan masih tergenang, benih tidak bisa dimanfaatkan,” kata Muchendi saat meninjau lokasi banjir di Lempuing, Selasa (13/1/2026).

Muchendi meminta Dinas Pertanian mempercepat pendampingan teknis kepada petani, terutama dalam menyiapkan tanam ulang. Pemerintah daerah berharap percepatan ini dapat mencegah keterlambatan musim tanam yang berisiko menurunkan produksi tahunan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura OKI, Alexsander Bustomi, mengatakan sebagian besar lahan yang terdampak sebelumnya telah mencapai indeks pertanaman (IP) 200, bahkan IP 300. Dengan kondisi tersebut, petani masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan musim.

“Kami perkirakan produksi bisa dipertahankan, meski ada perlambatan tanam,” ujar Alexsander.

Namun, bantuan yang ada saat ini baru mencukupi kebutuhan Kecamatan Lempuing. Pemerintah daerah masih mengajukan tambahan benih melalui Cadangan Benih Nasional (CBN) Kementerian Pertanian. Proses ini mensyaratkan verifikasi lahan gagal panen atau puso oleh petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).

Di tingkat petani, bantuan benih dipandang sebagai penyelamat jangka pendek. Sumarno, petani Desa Sumber Makmur, Lempuing, mengatakan banjir membuat panen sebelumnya gagal total.

“Kalau harus beli benih lagi, kami berat. Dengan bantuan ini, kami bisa langsung tanam begitu air surut,” ujarnya.

Petani lain, Suyatno, berharap pemerintah tidak hanya fokus pada distribusi benih, tetapi juga pengawalan teknis di lapangan. “Kami ingin tanam cepat supaya tidak terlalu tertinggal musim,” tandasnya.