Oleh : Gatot Sultan
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Kita hidup di era di mana “menunggu” dianggap sebagai kegagalan sistem. Jika kurir paket terlambat sepuluh menit, kita geram. Jika aplikasi memuat data lebih dari tiga detik, kita merasa waktu kita dirampok.
Kecepatan bukan lagi sebuah efisiensi, ia telah menjadi kultus.
Secara intelektual, kita terjebak dalam apa yang disebut oleh Paul Virilio sebagai “dromology” (buku berjudul an essay on dromology 1977) logika kecepatan yang mendikte struktur masyarakat. Masalahnya, ketika semua hal dipaksa bergerak cepat, kita kehilangan kedalaman. Membaca buku beralih menjadi membaca ringkasan; diskusi mendalam berganti menjadi utas (thread) yang dangkal.
Padahal, pemikiran-pemikiran besar manusia tidak lahir dari ketergesaan. Ia lahir dari masa inkubasi, dari kebosanan yang produktif, dan dari hak untuk menjadi lambat. Saat kita kehilangan kemampuan untuk berhenti sejenak, kita bukan lagi subjek yang berpikir, melainkan hanya sekrup dalam mesin konsumsi yang terus berputar.
Mungkin, bentuk perlawanan paling radikal saat ini bukanlah turun ke jalan, melainkan berani untuk tidak segera membalas pesan, berani untuk duduk diam tanpa gawai, dan berani untuk tertinggal dalam tren yang fana.
(RUMAH ASPIRASI BUDAYA)














