BERITA TERKINIPENDIDIKANPOLITIK

Konflik Sejak 2019, Dualisme DPC GMNI Mamuju kembali Bersatu

×

Konflik Sejak 2019, Dualisme DPC GMNI Mamuju kembali Bersatu

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, SULBAR – Dualisme kepemimpinan di tubuh DPC GMNI Mamuju akhirnya resmi berakhir. Dua kubu yang sebelumnya terpisah sepakat melakukan rekonsiliasi dan menyatukan kembali barisan organisasi, setelah melalui serangkaian dialog internal.

Kesepakatan itu melibatkan kepengurusan Darson bersama As’ Adiah di satu pihak, serta Dicky Wahyudi bersama Sugianto di pihak lainnya.

Ketua DPC GMNI Mamuju periode 2022–2025, Darson, menyatakan semangat persatuan nasional yang sebelumnya dilaksanakan di Bali dan digaungkan di tingkat daerah menjadi bagian tidak terpisah mengakhiri dualisme panjang yang berlangsung sejak 2019.

“Rekonsiliasi persatuan yang dilaksanakan di Mamuju Tengah pada 21 Januari 2026, yang diikuti cabang-cabang GMNI se-Sulawesi Barat, ikut mengakhiri dinamika dualisme di DPC GMNI Mamuju,” ujar Darson melalui keterangan tertulis, Sabtu (14/2/2026).

Menurutnya, konflik internal selama ini berkutat pada dualisme kepengurusan antara kubu Nur Alam dan kubu Muh. Fatir. Namun kini, kata dia, seluruh pihak sepakat mengakhiri perpecahan dan menyongsong persatuan organisasi.

“Rekonsiliasi ini melahirkan kesepakatan dan mengakhiri konflik dualisme kepengurusan sejak tahun 2019 dan mengakhiri konflik. GMNI Mamuju berkomitmen menyongsong persatuan kembali di bawah di masa kepemimpinan ketua Darson dan Ketua Dicky,” ungkap Darson.

Darson menyatakan dukungan penuh terhadap kepengurusan baru DPC GMNI Mamuju periode 2025–2028 di bawah kepemimpinan Dicky Wahyudi dan Sugianto.

“Kami menyatakan dukungan penuh terhadap kepemimpinan DPC GMNI Mamuju di bawah Dicky Wahyudi sebagai nakhoda baru organisasi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPC GMNI Mamuju terpilih periode 2025–2028, Dicky Wahyudi, menyebut persatuan ini sebagai tonggak penting bagi kader marhaenis di Mamuju.

“Suatu kehormatan atas kepercayaan kawan-kawan sekalian kepada kami untuk memimpin DPC GMNI Mamuju. Kami akan mengemban tanggung jawab ini dengan segenap kekuatan yang ada,” ujar Dicky.

Ia menegaskan, setelah rekonsiliasi ini tidak ada lagi kubu-kubuan di internal organisasi. Rekonsiliasi ini diharapkan menjadi awal konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran GMNI Mamuju dan Sulawesi Barat, sekaligus mengakhiri konflik yang selama tujuh tahun terakhir membelah struktur kepengurusan di tingkat cabang Mamuju.

“Setelah persatuan ini, tidak ada lagi kubu satu dengan yang lain, tidak ada perbedaan setiap kader dan anggota. Sekarang kita berada dalam satu rumah, Sapo Marhaen,” tutupnya.