BeritaBERITA TERKINIHEADLINENUSANTARA

Harga Pertalite Tembus Rp25 Ribu per Liter, Warga Kapuas Hulu Resah Ulah Penjual Dadakan

×

Harga Pertalite Tembus Rp25 Ribu per Liter, Warga Kapuas Hulu Resah Ulah Penjual Dadakan

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Kapuas Hulu kian menggila. Di tengah kelangkaan yang terjadi, harga eceran di sejumlah kios dadakan bahkan menembus Rp25 ribu per liter, jauh di atas harga normal pengecer yang biasanya berkisar Rp12 ribu per liter.

Modus penjualan pun terbilang rapi. Minyak dijual menggunakan botol plastik bekas air mineral ukuran satu liter dengan jumlah terbatas.

Ketika stok habis, kios tersebut tutup sementara, lalu beberapa jam kemudian kembali buka dengan modus yang sama.

Para penjual dadakan ini diduga mendapatkan BBM dengan cara mengantri di SPBU yang masih beroperasi di wilayah Putussibau Selatan dan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu.

Mereka menjadi pengantri dadakan, menggunakan mobil maupun sepeda motor untuk memperoleh Pertalite. Setelah sampai di rumah, BBM tersebut disedot kembali dari tangki kendaraan, lalu kembali mengantri untuk mendapatkan pasokan berikutnya.

Minyak yang diperoleh kemudian dijual eceran di kios dadakan atau dilepas dengan harga lebih tinggi kepada pembeli dalam jumlah besar, baik untuk dijual kembali maupun untuk kebutuhan pribadi.

Filipus Nyalang, warga Kapuas Hulu, mengaku sangat keberatan dengan kondisi tersebut.

“Kami yang benar-benar butuh jadi panik. Harga Rp25 ribu per liter itu sudah dua kali lipat dari harga normal. Ini sangat memberatkan,” ujarnya saat berbincang – bincang dengan wartawan Mattanews.co.

Hal senada disampaikan Juliawati. Ia menilai perlu adanya pengawasan ekstra dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.

“Kalau tidak diawasi ketat, situasi seperti ini terus dimanfaatkan. Kami berharap ada penetapan harga eceran yang jelas di tingkat kios,” katanya.

Kepanikan warga semakin terasa, terutama bagi pekerja harian. Seorang pekerja serabutan yang setiap hari bolak-balik dari Kalis – Putussibau mengaku pengeluarannya membengkak drastis akibat harga BBM yang tinggi.

Fenomena kelangkaan BBM ini disebut hampir terjadi setiap musim kemarau panjang. Pendangkalan Sungai Kapuas membuat ponton pembawa minyak kesulitan bersandar di Sintang dan Sanggau, sehingga distribusi terganggu.

Jalur darat pun memakan waktu lama, dari Sintang sekitar tujuh jam, Sanggau 10 jam, dan Pontianak hingga 14 jam menuju Putussibau.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu segera mengambil langkah tegas, termasuk menetapkan harga eceran di tingkat pengecer serta memperketat pengawasan distribusi, agar kondisi ini tidak terus berulang setiap tahun. (*)