MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Pengakuan terhadap kekayaan budaya daerah kembali diraih Kabupaten Tulungagung. Sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) untuk kesenian Jaranan Senterewe secara resmi diterima oleh Bupati Tulungagung, H. Gatut Sunu Wibowo, S.E., M.E., dalam seremoni yang digelar di Taman Krida Budaya Kota Malang, Minggu (22/2/2026). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai bentuk pengakuan atas eksistensi dan nilai historis kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Momentum ini dinilai menjadi tonggak penting bagi pelestarian budaya lokal. Bupati Gatut Sunu menegaskan, kehadiran pemerintah provinsi dalam penyerahan sertifikat WBTB memperkuat posisi Jaranan Senterewe bukan sekadar pertunjukan rakyat, melainkan identitas budaya yang harus dijaga keberlanjutannya. “Pengakuan ini sekaligus menempatkan kesenian lokal sebagai aset budaya strategis Jawa Timur yang wajib dilindungi dan dikembangkan,” ujarnya.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung Muhamad Ardian Candra, S.STP., M.M., serta Kepala Bidang Kebudayaan Muhamad Fahriza Habib Yuwanta, S.H., M.M. Kehadiran jajaran teknis ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya daerah agar tetap lestari sekaligus memberi dampak nyata bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Jaranan Senterewe: Enerjik, Atraktif, dan Populer
Jaranan Senterewe merupakan salah satu varian kesenian jaranan (kuda lumping) yang berkembang kuat di Jawa Timur, khususnya di Tulungagung, Kediri, Blitar, dan wilayah sekitarnya. Senterewe dikenal luas sebagai gaya pertunjukan yang enerjik, atraktif, dan sarat unsur hiburan rakyat.
Beberapa ciri khas Jaranan Senterewe antara lain:
• Gaya Tari Dinamis
Gerakan penari cenderung cepat, tegas, dan ekspresif. Nuansa pertunjukan terasa lebih meriah dan komunikatif dengan penonton dibandingkan beberapa gaya jaranan lain yang lebih ritualistik.
• Musik Pengiring Keras dan Ritmis
Didominasi kendang, gong, kenong, serta kadang diperkaya instrumen modern. Irama dibuat menghentak untuk membangun suasana dramatis dan membakar semangat penonton.
• Atraksi dan Unsur Hiburan
Selain tarian kuda kepang, sering ditampilkan atraksi barongan, celengan, hingga tokoh humor, menjadikan Senterewe populer di hajatan dan festival.
• Adegan Trance (Ndadi)
Seperti jaranan pada umumnya, Senterewe memiliki sesi trance, di mana penari menampilkan aksi ekstrem di bawah pengawasan pawang.
• Kostum dan Visual Mencolok
Busana warna-warni, riasan kuat, dan properti kuda kepang menjadi daya tarik visual utama yang mempertegas karakter pertunjukan.
Lebih Teatrikal, Interaktif, dan Agresif
Bupati Gatut Sunu menjelaskan, Senterewe memiliki perbedaan mencolok dibandingkan gaya jaranan klasik. Pertunjukan ini cenderung lebih teatrikal dan menonjolkan hiburan, dengan tempo musik yang lebih cepat dan agresif. Interaksi dengan penonton pun lebih intens, kerap disisipi humor yang menghidupkan suasana.
Lebih dari sekadar tontonan, Jaranan Senterewe dipandang sebagai ekspresi budaya rakyat yang sarat makna. Di dalamnya terkandung simbol keberanian, energi kolektif, dan nilai kebersamaan yang telah mengakar lintas generasi. Modernisasi boleh memengaruhi format pertunjukan, namun akar tradisi dan spirit budaya tetap menjadi ruh utama.
Pengakuan WBTB ini diharapkan menjadi pemicu penguatan ekosistem budaya daerah. Tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi promosi pariwisata, pemberdayaan seniman lokal, serta pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya. Di tengah arus perubahan zaman, Tulungagung menegaskan satu pesan tegas: tradisi bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dijaga, dirawat, dan dibanggakan.














