BERITA TERKINITNI DAN POLRI

Pagi Sunyi di Batang Suhaid: Kapolres Kapuas Hulu Bongkar PETI

×

Pagi Sunyi di Batang Suhaid: Kapolres Kapuas Hulu Bongkar PETI

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – 28 Februari 2026 Kabut tipis belum sepenuhnya terangkat ketika AKBP Roberto Aprianto Uda mengambil mikrofon di halaman Mapolres Kapuas Hulu, tepat pukul 06.45 WIB.

Di hadapannya, barisan TNI–Polri berseragam loreng dan cokelat, dipadu Forkopimda lengkap, Dandim 1206/Psb, Subdenpom, Ketua Komisi II DPRD, hakim PN, jaksa Kejari, dan Satpol PP.

“Perintah saya satu: hukum ditegakkan, warga dirangkul, sungai diselamatkan,” tegas Kapolres AKBP Roberto Uda Apriyanto.

Apel itu menandai operasi terpadu penertiban Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Suhaid, yang dalam tiga bulan terakhir dikeluhkan warga karena air keruh dan tebing sungai longsor.

Perjalanan darat sungai memakan enam jam. Tepat pukul 12.45 WIB, Satgas Tindak merapat di anak Sungai Batang Suhaid yang surut.

Tidak ada dentuman mesin, tidak ada pekerja yang kalang-kabut hanya dua unit jek lengkap dengan lanting kayu teronggok di tepi, selang dan karburator sudah berdebu.

“Mereka pergi sebelum kami datang. Itu sinyal baik artinya informasi operasi tidak bocor untuk ditakuti, tapi untuk dicegah,” kata Kapolres.

Pemusnahan dilakukan di tempat. Petugas memotong rangka jek dengan las portabel, merusak pompa dan as kriwil, lalu mengundang warga menyaksikan.

“Transparansi lebih kuat dari sekadar laporan,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa penindakan simbolik ini dibarengi pendekatan sosial, tim menyisir rumah bantaran, membagikan selebaran berisi ancaman merkuri bagi anak-anak yang mandi di sungai, risiko pidana PETI, dan nomor aduan Forkopimda.

Di beranda rumah panggung, dialog mengalir. Beberapa bapak mengaku menambang saat harga emas melonjak, sementara arwana dan karet anjlok. Seorang ibu mengangkat suara.

“Kami takut, Pak. Air jadi kuning, cucu saya gatal-gatal,” ujar warga setempat.

Kapolres menjawab dengan program jangka pendek patroli rutin dan pasar hasil sungai bersih serta mendorong Pemkab mempercepat pelatihan budidaya ikan dan getah.

“Kalau sungai mati, emas tak akan mengenyangkan anak Anda,” katanya.

Warga yang hadir menyatakan kapok dan siap melapor bila melihat mesin jek lagi. Laporan lapangan mencatat setidaknya tiga titik lain di hulu tak terjangkau karena perahu kandas.

Kapolres mengakui keterbatasan sarana, lalu meminta Dandim menyiapkan perahu datar untuk pemantauan musim kemarau. Forkopimda menyepakati rapat tindak lanjut sepekan setelah operasi, dengan agenda ekonomi alternatif dan rehabilitasi tebing.

Hari itu ditutup tanpa gesekan. Bagi Roberto, pemusnahan dua jek hanyalah bab kecil. Yang lebih penting, menurutnya, adalah warga yang mulai memandang Batang Suhaid bukan sebagai lubang emas dadakan, melainkan sebagai urat nadi Suhaid tempat anak-anaknya masih bisa mandi tanpa takut merkuri. (*)