MATTANEWS.CO, OKI – Syahwat kekuasaan sering kali membuat politisi mengidap amnesia sejarah. Fenomena inilah yang kini menggejala di tubuh PKB OKI. Meski Farid Hadi Sasongko buru-buru melempar retorika santun pasca-terpilih sebagai Ketua DPC, publik mencium adanya pragmatisme yang dipaksakan.
Penempatan sang mentor, Dja’far Shodiq, ke posisi Ketua Dewan Syuro dituding tak lebih dari sekadar kosmetik politik untuk meredam isu miring tentang murid yang tega mendepak gurunya sendiri demi takhta.
Politik memang panggung pacu yang tak pernah menyisakan tempat bagi mereka yang ragu. Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, riuh rendah perebutan takhta Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akhirnya melahirkan nakhoda baru. Farid Hadi Sasongko kini resmi meraih dua simbol kuasa sekaligus kursi Ketua DPC PKB OKI periode 2026–2031 dan palu Ketua DPRD OKI. Sebuah pencapaian mentereng bagi seorang politisi muda.
Namun, di balik selebrasi itu, aroma amis pragmatisme merebak menyengat. Kemenangan Farid tidak lahir dari ruang hampa. Di sana, publik mengendus adanya jejak pengkhianatan terselubung terhadap nilai yang kian langka dalam jagat politik kita: utang budi dan kehormatan sejarah.
Masyarakat OKI tentu belum amnesia. Karier kilat yang dinikmati Farid hari ini adalah produk langsung dari “tangan dingin” HM Dja’far Shodiq. Saat Shodiq berdiri tegak sebagai figur sentral sekaligus jangkar kekuatan PKB di Bumi Bende Seguguk, dialah yang membentangkan karpet merah bagi Farid.
Di tengah antrean kader yang berjejal memiliki kapabilitas, Shodiq justru memilih Farid memberinya panggung, menyuntikkan kepercayaan, dan mengawal modal politiknya hingga ke pucuk.
Regenerasi di tubuh partai memang sebuah keniscayaan. Tak ada yang menggugat hak Farid untuk bermimpi atau memimpin. Namun, cara Farid menggusur sang mentor justru mempertontonkan sebuah drama politik yang tuna-etika.
Transisi kekuasaan yang terjadi terkesan dilakukan secara kasar, senyap, dan minus penghormatan. Shodiq, sang arsitek yang membesarkan partai sekaligus membesarkan nama Farid, didepak dari kursi eksekutif partai seolah-olah hanya sepah yang tak lagi memiliki guna setelah manisnya habis diisap.
Ini bukan sekadar urusan kalah-menang dalam perebutan restu pengurus pusat. Ini adalah persoalan moralitas. Dalam kultur masyarakat Sumatera Selatan dan suku Jawa yang menjunjung tinggi adab dan penghormatan kepada senior, manuver Farid yang melupakan jasa Shodiq adalah anomali yang tidak harus terjadi.
Seorang murid yang cerdas tidak akan pernah merasa menjadi kecil hanya karena membungkuk hormat di hadapan gurunya. Sayangnya, begitu kursi kekuasaan berada di genggaman, Farid tampak menderita sindrom akut “lupa asal-usul”.
Ironisnya lagi, Shodiq bukan sekadar senior partai di mata Farid. Ia adalah mentor, kompas politik, sekaligus kerabat dekat. Hubungan darah dan ideologi ini seharusnya melahirkan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar ketimbang sekadar kalkulasi angka di atas kertas kompetisi internal. Menyingkirkan Shodiq sepenuhnya dari ruang eksekutif partai membuat PKB OKI berisiko kehilangan jangkar historisnya.
Sementara itu, sadar namanya menjadi sorotan tajam di tengah isu miring tersebut, kepada media pada Jumat (12/06/2026), Farid menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan DPP PKB kepada dirinya. Ia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan capaian positif yang telah dibangun kepengurusan sebelumnya sekaligus memperkuat konsolidasi partai hingga ke tingkat akar rumput.
“Kepercayaan ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya mengucapkan terima kasih kepada DPP PKB, DPW PKB Sumsel, para kader, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan. Ke depan, fokus kami adalah menjaga soliditas partai, memperkuat komunikasi dengan masyarakat, dan melanjutkan perjuangan politik PKB demi kepentingan rakyat,” ujarnya.
Menurut Farid, keberhasilan PKB selama ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh kader dan pengurus partai. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen partai untuk tetap menjaga persatuan dan kebersamaan dalam menghadapi berbagai agenda politik mendatang.
Ia bahkan mencoba menepis tudingan miring yang menyebut dirinya mendepak sang mentor secara kasar, dengan menyebut nama Shodiq yang kini digeser ke posisi Dewan Syuro. “Kita harus tetap kompak dan menjaga semangat kebersamaan. Kehadiran HM Dja’far Shodiq sebagai Ketua Dewan Syuro tentu menjadi kekuatan tersendiri bagi PKB OKI. Pengalaman dan kapasitas beliau akan menjadi modal penting dalam membimbing serta mengawal perjalanan partai ke depan,” dalihnya.
Namun, bagi publik, retorika politik tetaplah retorika. Menggeser sosok sekaliber Shodiq ke posisi Dewan Syuro—yang kerap kali hanya menjadi jabatan simbolis tanpa taring eksekutif—dianggap sebagai bentuk “pensiun paksa” yang dibungkus dengan kalimat manis.
Kekuasaan, bagaimanapun juga, memiliki tanggal kedaluwarsa. Jabatan Ketua DPC dan Ketua DPRD yang hari ini digenggam erat oleh Farid suatu saat akan lepas. Namun, yang akan abadi dan terus digunjingkan di warung-warung kopi hingga ruang publik adalah catatan tentang karakter.
Sejarah mungkin akan mencatat nama Farid Sasongko sebagai ketua baru untuk lima tahun ke depan. Namun, ingatan kolektif rakyat jauh lebih jeli.
Masyarakat akan selalu mengingat siapa politisi yang tahu cara berterima kasih, dan siapa politisi oportunis yang tega menginjak pundak orang yang pernah mengangkatnya demi meraih takhta. Farid mungkin telah memenangkan kekuasaan hari ini, tetapi di panggung moralitas, ia telah kalah telak.














