BERITA TERKINIHEADLINEHUKUM & KRIMINAL

Trauma Usai Diduga Jadi Korban Bullying, Siswi SMP di Palembang Enggan Kembali Bersekolah

×

Trauma Usai Diduga Jadi Korban Bullying, Siswi SMP di Palembang Enggan Kembali Bersekolah

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG — Dugaan kasus perundungan yang menimpa seorang siswi SMP berinisial CC (13) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menyita perhatian publik. Selain mengalami luka lebam di sejumlah bagian tubuh, korban juga disebut mengalami trauma psikologis, hingga enggan kembali bersekolah.

Kasus tersebut mencuat setelah video yang memperlihatkan dugaan aksi perundungan terhadap korban beredar luas di media sosial Instagram dan menjadi viral.

Merasa anaknya menjadi korban kekerasan, pihak keluarga akhirnya melaporkan peristiwa tersebut ke Polrestabes Palembang, dengan harapan kasus itu dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Peristiwa itu terjadi di sebuah lapangan kosong di kawasan Jalan Mataram II, PT Praga, Talang Jambe, Kecamatan Sukarami, Palembang, pada Sabtu (20/6/2026) sekitar pukul 16.10 WIB.

Berdasarkan keterangan keluarga, korban diduga menjadi sasaran penganiayaan yang dilakukan secara bergantian oleh empat dari enam anak perempuan yang sebaya dengannya. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka lebam pada wajah, kepala, serta beberapa bagian tubuh lainnya.

Ibu korban, Liza Liana (33), menuturkan bahwa persoalan tersebut bermula dari interaksi di lingkungan sekolah.

Menurutnya, sejumlah terduga pelaku kerap mengambil foto anaknya saat berada dalam kondisi yang dianggap tidak menarik, lalu mengunggahnya ke media sosial TikTok untuk dijadikan bahan candaan.

Merasa dipermalukan, korban kemudian menegur para pelaku. Namun teguran tersebut diduga memicu konflik yang berujung pada aksi perundungan.

“Awalnya mereka bercanda di sekolah, anak saya difoto saat sedang jelek lalu diunggah ke TikTok. Anak saya tidak terima lalu menegur mereka. Setelah itu situasinya semakin memanas dan akhirnya terjadi kejadian tersebut,” kata Liza.

Liza menjelaskan, pada hari kejadian anaknya dijemput oleh teman-temannya menggunakan sepeda motor untuk diajak keluar rumah. Korban sempat menolak karena khawatir akan menjadi sasaran pengeroyokan.

“Anak saya sempat bilang tidak mau ikut karena takut dikeroyok. Tapi teman-temannya meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. lalu diseret naik motor dan dipaksa, anak saya seperti dijebak,” ujarnya.

Namun, setibanya di lokasi yang cukup jauh dari rumah korban, dugaan penganiayaan itu terjadi. Keluarga menduga pertemuan tersebut telah direncanakan sebelumnya untuk menjebak korban.

Kecurigaan keluarga semakin kuat karena lokasi kejadian disebut bukan tempat yang biasa didatangi oleh korban.

Hingga kini, kondisi psikologis korban disebut masih belum pulih. Selain menanggung luka fisik, korban juga masih diliputi rasa takut karena para terduga pelaku diketahui masih bersekolah di tempat yang sama dengannya.

“Anak saya sekarang trauma, luka di bibir berdarah, leher belakang, perut dan pinggang lebam. Sampai saat ini dia tidak mau kembali sekolah karena pelakunya masih satu sekolah dengan dia. Kami berharap ada tindak lanjut dan perlindungan agar anak saya bisa kembali belajar dengan aman,” katanya sambil menangis.

Pihak keluarga mengaku telah membuat laporan resmi ke Polrestabes Palembang. Mereka berharap penanganan kasus dilakukan secara profesional serta dapat memberikan efek jera agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.