MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Matahari sejak pagi menggantung pucat. Udara kering. Asap tipis menggantung di antara pepohonan. Di bawah langit yang seakan enggan menurunkan setetes air pun, ribuan manusia Kapuas Hulu memilih bersujud.
Kamis pagi, 03 September 2026, Halaman Masjid Agung Darunnajah Putussibau berubah menjadi lautan sajadah. Bukan untuk shalat Jumat. Bukan untuk perayaan. Tapi untuk satu hajat besar memohon hujan.
Shalat Istisqa berjamaah digelar sebagai ikhtiar langit. Digagas Kementerian Agama Kab. Kapuas Hulu dengan tema yang menggugah. “Mari Perbanyak Istighfar, Tobat, Sedekah dan Memperbaiki Hubungan dengan Allah SWT dan Sesama Manusia”.
Sejak pukul 07.00 WIB, arus kendaraan tak henti. Sekitar 500 unit sepeda motor dan 50 mobil berjejer rapi. Laki-laki, perempuan, orang tua yang berjalan tertatih, hingga anak-anak yang masih polos, semua datang dengan satu wajah cemas, tapi berharap.
Yang membuat pagi itu berbeda, seluruh barisan Forkopimda turun langsung. Tidak ada sekat pangkat. Tidak ada protokoler yang memisahkan.
Tampak Kapolres Kapuas Hulu AKBP Wisnu Perdana Putra, S.H., S.I.K., M.M., CBA berdiri satu saf dengan masyarakat. Di sampingnya, Kasdim 1206/Putussibau Mayor Inf Eriyadi Esnurdin. Hadir pula Danyonif TP 927/UK Letkol Inf Jamrizal, Wadanyonif Kapten Inf Wahyu Agung Purbinantoro, Waka Polres Kompol Muslimin, S.H., Wakil Ketua I DPRD Abdul Hamid dan Kepala Kemenag H. Syahrul, S.Ag.
Namun yang paling mengejutkan kehadiran Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI. Dua jenderal bintang satu, Brigjen TNI Saim Mustain dan Brigjen TNI Firman, datang jauh dari Jakarta. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol. Itu pesan negara tidak tinggal diam saat Kapuas Hulu dicekik asap.
Para Kepala OPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga personel TNI-Polri ikut merapat. Semua duduk di tanah yang sama, menengadah ke langit yang sama.
Khutbah yang menampar kesadaran
Imam shalat, Mahfud Laba, S.Sos.I, memimpin dengan suara bergetar. Rakaat demi rakaat, doa istisqa dilantunkan. Tangan-tangan terangkat. Ada yang terisak.
Saat khutbah, H. Zainuddin, S.Ag. S.Pd.I tidak banyak bicara tentang hujan. Ia bicara tentang kita.
Ia mengingatkan kemarau ini bukan hanya soal cuaca. Ini tentang istighfar yang jarang, sedekah yang pelit, hubungan sesama yang retak, dan tangan-tangan yang masih tega membakar hutan.
“Jika kita ingin langit menurunkan rahmat, maka turunkan dulu kesombongan kita ke tanah,” tegasnya.
Personel Polres Kapuas Hulu bersama Polsek Putussibau Utara berjaga di sekeliling. Bukan untuk mengawasi, tapi untuk memastikan doa-doa itu tidak terusik. Ibadah selesai pukul 08.30 WIB.
Kapolres AKBP Wisnu Perdana Putra dengan nada tegas namun haru berkata
Alhamdulillah hari ini kita bisa berkumpul bersama Forkopimda dan masyarakat dalam doa bersama memohon hujan.
“Kami berharap ikhtiar ini dikabulkan Allah SWT. Kami juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk terus menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, serta memperbanyak ibadah dan sedekah, “tutur Kapolres.
“Mari kita jaga kebersamaan dan gotong royong agar Kapuas Hulu terhindar dari bencana kabut asap, “imbuhnya.
Kasdim Mayor Inf Eriyadi Esnurdin menambahkan tamparan kesadaran
selain berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan, kita juga harus terus berikhtiar.
“Pencegahan Karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Mari kita jaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, “kata Kasdim.
Kehadiran Brigjen Saim Mustain dan Brigjen Firman menjadi penegas. Ini bukan lagi urusan daerah saja. Ini urusan bangsa.
Di lapangan, TNI-Polri-Pemda sudah bergerak patroli, sosialisasi, pencegahan. Tapi tanpa kesadaran warga, semua akan sia-sia.
“Kapuas Hulu sudah terlalu lama dicekik kemarau. Sungai mengecil. Lahan retak. Anak-anak batuk karena asap. Kebakaran bisa datang kapan saja. Shalat Istisqa hari ini bukan sulap. Hujan tidak langsung turun setelah salam. Tapi ada sesuatu yang turun kesadaran, “pungkasnya mengakhiri. (*)














