BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHAN

Dari Badau untuk Indonesia: Bupati Fransiskus Diaan dan Pesan Kebudayaan di Garis Batas

×

Dari Badau untuk Indonesia: Bupati Fransiskus Diaan dan Pesan Kebudayaan di Garis Batas

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO,KAPUAS HULU – Malam baru saja turun di Pasar Wisata PLBN Badau, Sabtu, 19 September 2026. Lampu-lampu PLBN menyala terang, menghadap langsung ke perbatasan Malaysia. Di bawahnya, 400 orang duduk, berdiri, dan berdesak. Mereka bukan antre cap paspor. Mereka menonton gendang Iban ditabuh.

Itu adalah malam pembukaan Festival Budaya Perbatasan 2026. Festival pertama yang digelar Kementerian Kebudayaan tepat di bibir negara.

Dua orang menjadi pusat perhatian malam itu, Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan, S.H., M.H., dan Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi Promosi Kebudayaan Kemendikbud RI, Undur, S.S.

Fransiskus Diaan naik ke panggung dengan pakaian batik sederhana. Tidak ada naskah tebal di tangannya. Ia berbicara seperti seorang kepala keluarga yang melepas anaknya merantau.

“Festival ini bukan hanya acara seremonial. Ini adalah cara kita memperkenalkan siapa kita. Kita orang perbatasan, orang yang terbuka, orang yang berbudaya. Tunjukkan keramahan kita.”tuturnya.

Bagi Sis panggilan akrab Bupati, Badau bukan sekadar kecamatan. Badau adalah wajah Indonesia.

“Apa yang dilihat warga Lubok Antu, Malaysia, dari seberang, itulah Indonesia. Jika yang mereka lihat adalah tarian yang punah dan tenun yang tak laku, maka Indonesia akan terlihat miskin, “tuturnya.

Itu sebabnya, ia meminta warganya menjaga festival ini selama tiga hari, 19 hingga 21 September.

Setelah bang Sis, giliran Undur yang mengambil mikrofon. Ia datang dari Jakarta, mewakili Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi. Kalimatnya lebih tajam, lebih kebangsaan.

“Kebudayaan adalah jati diri dan identitas bangsa,” kata Undur.

Menurut Dia, di tengah keberagaman Indonesia, budaya adalah perekat. Dan di perbatasan, tugas itu menjadi dua kali lipat lebih berat.

Undur menjelaskan, selama ini pemajuan kebudayaan sering berhenti di kota-kota besar. Padahal, ancaman pelunturan budaya paling nyata ada di perbatasan.

Di sini, anak-anak kita setiap hari melihat budaya negara tetangga di televisi dan ponsel.

“Kalau kita tidak hadir dengan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan kita sendiri, kita akan kalah, “tutur Undur.

Diplomasi budaya, lanjut Undur, “tidak selalu harus di gedung PBB. Kadang, ia cukup dengan menenun bersama, menari bersama di PLBN Badau, dan membiarkan tetangga kita melihat betapa kayanya kita.

Malam itu, setelah sambutan, penari Iban masuk. Kain tenun yang butuh waktu tiga bulan untuk jadi, dibentangkan. Di 20 stand UMKM, madu hutan, kopi, dan rotan dijajakan.

Hingga pukul 21.56 WIB, festival belum selesai. Baru dimulai. Tapi pesan dari Bupati dan dari Jakarta sudah sampai: perbatasan bukan halaman belakang Indonesia. Ia adalah halaman depan. (*)

Penulis: Bayu Hary Widodo
Editor: Riki Okta Putra