MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Rumah Betang Lauk Rugun di Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Embaloh Hulu, Sabtu itu penuh sesak. Di dinding-dinding kayu betang yang sudah tua, tergantung puluhan kain tenun Iban. Di tengahnya, Wakil Bupati Kapuas Hulu, Sukardi, S.M., berdiri.
Ia datang mewakili Bupati untuk menghadiri Festival Tenun “Warsa: Perjalanan Waktu” dalam rangka Hari Tenun Nasional.
Wakil Bupati Sukardi mengatakan festival ini tidak bisa dianggap sebagai acara seremonial belaka.
“Jangan lihat ini hanya sebagai pameran kain yang indah. Warsa ini adalah perjalanan waktu. Setiap motif yang ditenun oleh ibu-ibu kita di Lauk Rugun ini adalah jejak sejarah, identitas kita, dan dedikasi leluhur yang menjaga warisan ini tetap hidup,” kata Sukardi.
Wakil Bupati yang dikenal dekat dengan masyarakat perbatasan itu menegaskan, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu tidak akan tinggal diam melihat tenun perlahan ditinggalkan.
“Pemkab Kapuas Hulu berkomitmen penuh. Komitmen kami bukan hanya dengan kata-kata. Kami akan terus mendukung pelestarian seni budaya dan yang paling penting, pemberdayaan para pengrajin tenun lokal. Mereka harus sejahtera dari tenunnya,” ujar Sukardi.
Menurut Sukardi, apa yang dilakukan di Lauk Rugun hari ini adalah contoh nyata pelestarian yang berkelanjutan. Ia menunjuk aksi penanaman tanaman pewarna alami yang dilakukan dalam festival tersebut.
“Ini yang saya suka. Kita tidak hanya bicara tenun, tapi kita juga menanam masa depannya. Pewarna alami dari hutan kita tanam kembali. Jadi keberlanjutan bahan baku tenun tradisional ini terjaga. Ini kearifan lokal yang cerdas,” tuturnya.
Puncak kekaguman Sukardi adalah saat prosesi penganugerahan Nengkebang, penghargaan tertinggi adat Dayak Iban untuk penenun.
Saat nama Mariana Renda disebut sebagai penerima Nengkebang, Sukardi ikut berdiri dan bertepuk tangan paling keras.
“Ibu Mariana Renda adalah pahlawan kebudayaan kita. Seorang maestro. Gelar Nengkebang yang dianugerahkan kepadanya hari ini adalah bukti bahwa negara dan adat hadir mengakui dedikasi beliau. Kepiawaian dan kontribusinya menjaga motif tenun Iban tidak ternilai harganya,” kata Sukardi dengan nada haru.
Sukardi berharap, dari Rumah Betang Lauk Rugun, semangat Warsa menyebar ke seluruh Kapuas Hulu.
“Saya ingin anak-anak muda kita bangga memakai tenun. Bangga menenun. Dari Embaloh Hulu, kita tunjukkan kepada Indonesia bahwa Kapuas Hulu punya warisan dunia,” pungkasnya. (*)














