MATTANEWS.CO, PALI – Warga Dusun IV/Talang Gas, Desa Suka Maju, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, memprotes aktivitas penyedotan air Sungai Penukal untuk kebutuhan operasional Rig TMMJ #05 yang bermitra dengan PT Pertamina EP Pendopo Field.
Warga menyebut penyedotan menggunakan mesin pompa dengan pipa berdiameter sekitar 6 inci tersebut membuat debit Sungai Penukal terus menyusut hingga akhirnya kering selama tiga hari terakhir.
Kondisi itu menjadi persoalan serius bagi masyarakat setempat. Sebab, Sungai Penukal selama ini menjadi salah satu sumber utama warga untuk mandi dan kebutuhan MCK, terlebih saat musim kemarau.
Sejumlah warga mengaku kini kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian terpaksa membeli air dengan harga sekitar Rp15 ribu per drum.
“Ini tempat pemandian warga. Semenjak ada pompa mesin sedot, warga susah hendak mandi ke mana. Kurang lebih tiga hari mereka menyedot, mengisap, sampai akhirnya air sungai kering,” ujar seorang warga saat ditemui di lokasi, Jumat (18/9/2026).
Warga juga mempersoalkan proses pemasangan pompa yang disebut tidak diawali sosialisasi maupun koordinasi dengan masyarakat Dusun Talang Gas.
“Tidak ada koordinasi dengan masyarakat. Tidak ada sama sekali,” kata warga tersebut.
Persoalan tidak berhenti pada krisis air. Warga juga menyampaikan sejumlah tuntutan lain, termasuk persoalan lahan yang terdampak aktivitas perusahaan serta proses ganti rugi yang disebut belum diselesaikan.
Salah satu lahan yang disebut warga adalah milik Abu Matsri. Selain itu, warga mempertanyakan proses perekrutan tenaga kerja lokal yang dinilai belum transparan.
Keluhan tersebut kemudian disampaikan langsung kepada pihak Rig TMMJ #05. Rig Superintendent (Rigsup) TMMJ, Puji Prajoko, bersama Company Man Faturahman menemui warga dan pendamping di lokasi Sungai Penukal.
Dalam pertemuan tersebut, Puji menjelaskan bahwa pihak operasional rig hanya menyediakan peralatan pompa. Menurutnya, lokasi penempatan alat ditentukan berdasarkan koordinasi pihak Humas Pertamina dengan pemerintah desa.
“Dari awal kita cuma menaruh alat. Masalah penempatan dari pihak Humas yang menentukan. Jadi kami cuma menyediakan alat. Kalau ditunjuk tempatnya di situ, ya kita taruh di situ,” ujar Puji.
Ia mengaku prihatin terhadap kondisi yang dikeluhkan warga dan menyatakan akan meneruskan persoalan tersebut kepada manajemen Humas serta pihak Pertamina EP Pendopo Field.
Namun, jawaban tersebut belum meredakan keberatan warga. Mereka meminta perusahaan tidak hanya menyampaikan alasan mengenai kewenangan penempatan pompa, tetapi juga memastikan aktivitas operasional tidak menghilangkan akses masyarakat terhadap sumber air.
Dalam pertemuan itu, warga dan pendamping menyampaikan tiga persoalan utama yang meminta segera diselesaikan.
Pertama, pemulihan atau penyediaan sumber air bersih dan fasilitas MCK bagi masyarakat. Kedua, penyelesaian pengukuran serta ganti rugi lahan warga yang terdampak. Ketiga, evaluasi proses perekrutan tenaga kerja lokal agar dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan.
Pendamping warga bahkan meminta perusahaan mempertimbangkan penghentian aktivitas operasional apabila persoalan tersebut tidak segera mendapatkan penyelesaian.
“Kalau persoalan yang merugikan masyarakat belum terselesaikan, warga meminta stop operasional. Perusahaan harus peduli karena ini tempat air, tempat orang mandi, dan menjadi jalan terakhir warga di sini,” tegas perwakilan pendamping.
Pihak perusahaan pada akhirnya menyatakan akan menampung tuntutan tersebut. Company Man Faturahman meminta aspirasi masyarakat disampaikan secara tertulis untuk diteruskan kepada pihak terkait.
Warga berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada pertemuan di lapangan. Mereka meminta manajemen Pertamina EP Pendopo Field, termasuk pihak Humas yang disebut terlibat dalam penentuan lokasi pompa, turun langsung untuk mencari solusi atas persoalan air, lahan, dan tenaga kerja yang mereka keluhkan.
Bagi warga Talang Gas, persoalan Sungai Penukal bukan sekadar soal aktivitas operasional perusahaan. Sungai tersebut menjadi sumber kebutuhan dasar yang keberadaannya semakin penting ketika kemarau membuat pilihan sumber air masyarakat semakin terbatas.














