NUSANTARATNI DAN POLRI

Pemaparan di LK II HMI, Kapolres Fakfak: Investasi Strategis Harus Sejalan dengan Hak Masyarakat Adat

×

Pemaparan di LK II HMI, Kapolres Fakfak: Investasi Strategis Harus Sejalan dengan Hak Masyarakat Adat

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, FAKFAK — Kapolres Fakfak, AKBP Naim Ishak, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan pemikiran mendalam mengenai dinamika infestasi strategis dan potensi konflik sosial di wilayah Papua, serta peran vital Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam membangun sistem keamanan yang demokratis dan berkelanjutan.

Pemaparan tersebut disampaikan dalam kegiatan Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Fakfak di Gedung Diklat Pemda Fakfak, yang mengangkat tema “Infestasi Strategis dan Potensi Konflik Sosial di Papua dengan Peran Kepolisian dalam Membangun Keamanan yang Demokratis dan Berkelanjutan”, Kamis (24/9/2026).

Dalam pemaparannya, Kapolres Fakfak mengemukakan bahwa Papua saat ini berada dalam persimpangan tantangan yang kompleks di satu sisi memiliki kekayaan alam yang melimpah dan masuknya berbagai investasi strategis, namun di sisi lain menyimpan potensi gesekan sosial yang rentan berkembang menjadi konflik terbuka apabila tidak dikelola dengan pendekatan yang tepat dan menyeluruh.

“Infestasi strategis tidak hanya berarti kehadiran modal dan pembangunan, melainkan juga masuknya nilai-nilai baru, perubahan tata ruang kehidupan, serta pergeseran kepemilikan dan pengelolaan sumber daya. Jika tidak disertai pengelolaan yang adil dan transparan, hal ini dapat memicu ketegangan antara kepentingan investasi dengan hak-hak masyarakat adat dan warga setempat,” ujar AKBP Naim Ishak.

Kapolres menegaskan, potensi konflik sosial di Papua umumnya berakar pada tumpukan persoalan yang saling berkaitan: ketimpangan ekonomi, belum meratanya manfaat pembangunan, pengabaian nilai-nilai kearifan lokal, hingga kesenjangan akses terhadap keadilan dan partisipasi dalam pengelolaan wilayah. Kondisi ini diperparah oleh dinamika informasi yang belum terkelola dengan baik, sehingga keraguan dan ketidakpercayaan dapat tumbuh dengan cepat di tengah masyarakat.

“Konflik tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari suara yang tidak didengar, harapan yang tidak dipenuhi, dan ketidakadilan yang dibiarkan terjadi. Oleh karena itu, pencegahan dini bukan sekadar soal pengamanan fisik, melainkan hadir mendengar, memahami, dan menjadi bagian dari solusi,” jelasnya.

Terhadap hal tersebut, Polres Fakfak menempuh arah pengelolaan keamanan yang tidak bersifat represif semata, melainkan berlandaskan prinsip keamanan demokratis dan berkelanjutan. Konsep ini, menurut Kapolres, bermakna bahwa keamanan dibangun bersama masyarakat, bukan di atas masyarakat. Kehadiran kepolisian diarahkan untuk melindungi, melayani, dan mengayomi seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan, sekaligus menjamin ruang partisipasi warga untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan tertib.

“Keamanan yang sejati bukan berarti tidak ada suara kritik. Keamanan yang berkelanjutan terwujud ketika setiap warga merasa aman menyampaikan pendapat, merasa dihargai keberadaannya, dan yakin bahwa hukum berlaku sama bagi semua orang. Polri hadir bukan untuk membungkam, melainkan menjaga agar perbedaan dapat dibicarakan dengan kepala dingin dan kebersamaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kapolres Fakfak menyampaikan bahwa pendekatan kemanusiaan, dialogis, dan berbasis kearifan lokal menjadi kunci utama dalam merespons dinamika di Fakfak. Polres terus memperkuat kehadiran di tingkat kampung dan distrik, membangun jaringan komunikasi dengan tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan perempuan, serta mengedepankan penyelesaian masalah secara musyawarah mufakat sebelum berkembang menjadi perselisihan yang lebih luas.

“Di tanah ini, kebersamaan adalah warisan yang tak ternilai. Filosofi Satu Tungku Tiga Batu mengajarkan kita bahwa perbedaan bukan alasan perpecahan, melainkan fondasi kekuatan. Polri menjadikan nilai-nilai ini sebagai landasan bertugas — menjaga persaudaraan, menumbuhkan kepercayaan, dan memastikan bahwa pembangunan di Fakfak membawa manfaat bagi seluruh anak negeri,” tambahnya.

Di akhir pemaparan, Kapolres AKBP Naim Ishak mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha untuk bersinergi membangun Papua yang damai, adil, dan sejahtera. Keamanan yang berkelanjutan, katanya, tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

“Mari kita bangun Fakfak dan Papua dengan kepala tegak dan hati yang saling merangkul. Keamanan adalah urusan kita semua. Jika kita berdiri bersama, tidak ada tantangan yang tidak dapat kita hadapi,” pesannya menutup pemaparan.

Pemaparan tersebut dipandang sebagai kerangka kerja yang konstruktif serta relevan bagi upaya pemeliharaan kamtibmas dan pembangunan daerah di masa mendatang

Penulis: Mokhsen