BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHANPENDIDIKAN

Porsenijar PGRI Kapuas Hulu Bukan Sekadar Lomba, Kadisdik: Guru Harus Cintai Profesinya

×

Porsenijar PGRI Kapuas Hulu Bukan Sekadar Lomba, Kadisdik: Guru Harus Cintai Profesinya

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Pekan Olahraga dan Seni Guru (Porsenijar) PGRI Kabupaten Kapuas Hulu bukan sekadar ajang adu kemampuan di bidang olahraga dan seni. Di balik kompetisi tersebut, tersimpan misi mempererat silaturahmi, membangun solidaritas, sekaligus menumbuhkan kembali kecintaan para guru terhadap profesinya.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kapuas Hulu, Petrus Kusnadi, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Porsenijar PGRI Kabupaten Kapuas Hulu.

Menurut Petrus, Porsenijar harus menjadi ruang bagi para guru untuk bertemu, bersilaturahmi, berbagi pengalaman, hingga saling menguatkan dalam menjalankan tugas sebagai tenaga pendidik.

“Intinya, Porsenijar ini menjadi tempat bagi mereka untuk saling bersilaturahmi. Kedua, PGRI harus menjadi wadah bagaimana mereka mencintai profesinya,” ujar Petrus.

Ia menegaskan, menjadi seorang guru bukan sekadar menjalankan pekerjaan, melainkan sebuah profesi mulia yang menuntut jati diri serta tanggung jawab besar.

“Untuk menjadi guru itu adalah sebuah profesi yang mulia, yang mewajibkan kita mempunyai jati diri dan tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan tugas,” tegasnya.

Petrus mengingatkan, tanggung jawab guru memiliki karakter yang berbeda dibandingkan profesi lainnya. Guru berhadapan langsung dengan siswa yang membutuhkan pendampingan dan proses pembelajaran secara berkelanjutan.

Karena itu, menurutnya, ketika seorang guru tidak melaksanakan tugas dalam waktu tertentu, dampaknya bukan hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap proses pendidikan para siswa.

“Guru ini ada siswa yang mereka asuh di setiap satuan pendidikan. Kalau ada guru yang tidak masuk setiap hari atau bahkan lalai dalam waktu yang cukup lama, tentu ini akan berdampak luas terhadap proses pembelajaran di sekolah,” katanya.

Lebih jauh, Petrus berharap PGRI tidak hanya dipandang sebagai organisasi profesi, tetapi benar-benar menjadi wadah bersama bagi para guru untuk mengembangkan potensi sekaligus mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam menjalankan tugas.

“PGRI harus menjadi wadah tempat kita mencurahkan seluruh bakat, minat dan kemampuan, termasuk bagaimana menyelesaikan segala problem dan masalah yang ada,” ujarnya.

Ia juga memberikan penekanan agar status sebagai guru profesional harus dibarengi dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab secara nyata.

“Jangan kita menyandang status profesi, tetapi kita tidak melaksanakan tugas,” tegas Petrus.

Menurutnya, semangat profesionalisme tidak cukup hanya ditunjukkan melalui identitas atau status sebagai guru. Profesionalisme harus tercermin dari kedisiplinan, tanggung jawab dan kesungguhan dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik.

Petrus menilai Porsenijar menjadi salah satu momentum penting untuk membangun kebersamaan di antara para guru di Kabupaten Kapuas Hulu.

Melalui kegiatan tersebut, para guru tidak hanya berkompetisi, tetapi juga dapat saling bertukar pengalaman, membangun komunikasi dan memperkuat rasa kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar PGRI.

“Melalui Porsenijar ini adalah suatu wadah tempat mereka saling berbagi, saling menguatkan satu sama lain,” ungkapnya.

Di sisi lain, Petrus menjelaskan bahwa pelaksanaan Porsenijar kali ini memiliki semangat kemandirian. Kegiatan tersebut disebutnya murni didanai melalui iuran anggota PGRI se-Kabupaten Kapuas Hulu.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu memberikan dukungan melalui fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan.

“Porsenijar kali ini memang murni didanai oleh iuran anggota PGRI se-Kabupaten Kapuas Hulu. Pemerintah daerah hanya men-support, mendukung fasilitas-fasilitas yang bisa dipersilakan untuk mereka gunakan,” jelas Petrus.

Ditambahkan Petrus, dengan semangat kebersamaan tersebut, Porsenijar diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau kompetisi sesaat.

“Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas guru sekaligus meneguhkan kembali komitmen terhadap profesi dan tanggung jawab dalam mencerdaskan generasi muda di Kabupaten Kapuas Hulu, “pungkasnya mengakhiri. (*)

Penulis: Bayu Hary Widodo
Editor: Riki Okta Putra