BERITA TERKINI

Tenaga Medis Lebih Memilih Mengurangi Intensitas Bertemu Keluarga

×

Tenaga Medis Lebih Memilih Mengurangi Intensitas Bertemu Keluarga

Sebarkan artikel ini

Reporter: Faldy/Wan

PALEMBANG, Mattanews.co – Pengalaman tenaga medis menangani pasien Covid-19, saat awal kasus covid masuk ke kota Palembang.

Beberapa dokter masih bingung, karena ini penyakit baru, namun banyak literatur yang bisa diakses digital dan dijadikan pedoman serta standar prosedur untuk penanganan covid 19.

Selain itu ditunjang oleh tim gugus tugas rumah sakit yang terdiri dari dokter, paramedis, penunjang, dan administrasi, yang solid membuat dokter bekerja lebih terarah, dan manajemen yang menyediakan APD sesuai standar, serta alur pelayanan yang dibuat sangat membantu.

Pada tahap awal covid hal tersulit adalah menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai protokol perawatan.

Karena masyarakat yang kental kekelurgaannya membuat pasien selalu harus ditunggu oleh kerabatnya.

Dan lagi stigma negatif dimasyarakat akan virus ini membuat mereka enggan untuk dirawat.

Tapi belakangan alasan penolakan untuk dirawat pun semakin beragam dengan adanya anggapan bahwa RS mengambil keuntungan.

Membuat tenaga medis, setiap menjelaskan protokol perawatan pasien yang mengarah ke covid hampir selalu dicurigai.

Direktur Utama RSUD Palembang BARI dr. Hj. Makiani, S.H., M.M., MARS, didampingi tim medis penanganan Covid-19, Senin (22/6/2020) mengatakan, dampak kehidupan keluarga para tenaga medis selama masa pandemi Covid-19 pasti terdampak.

“Karena para dokter takut membawa virus kerumah. Dokter lebih memilih untuk mulai mengurangi intensitas bertemu dengan keluarga, terutama orang tua yang memiliki komorbid,” ujar dokter Makiani.

“Setiap jaga covid, dokter lebih memilih menetap di RS, dan kembali jika hasil pemeriksaan dinyatakan negatif,” ujarnya.

Bahkan ada beberapa tim medis yang ngekos, karena memilih tinggal sendiri dan jauh dari keluarga.

“RSUD Palembang BARI sudah menyiapkan satu lantai gedung untuk tempat tinggal petugas yang merawat pasien covid,” urainya.

Kemudian, dampak perekonomian para tenaga medis selama masa pandemi Covid-19. Jumlah pasien semakin berkurang, dan himbauan harus mengurangi jam praktik bahkan tidak membuka praktik.

Tujuannya untuk mengurangi kemungkinan paparan, hal itu pastinya memberi dampak bermakna buat perekonomian, terutama bagi nakes yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Makanya para dokter merasa sangat sedih dengan pandangan masyarakat bahwa rumah sakit dan dokter mengambil keuntungan dengan pandemi ini,” terangnya.

Padahal para dokter sudah berjuang sekuat tenaga dengan risiko tertular, memberikan pelayanan kepada masyarakat, bahkan hingga saat ini pun belum menerima insentif.

Untuk kehidupan para tenaga medis di lingkungannya, lanjut Maikani, yang sangat disayangkan masih ada beberapa orang atau masyarakat sekitar menganggap tenaga medis membawa virus dan bisa menularkan ke masyarakat. Sehingga masyarakat enggan untuk berkomunikasi dengan tenaga medis.

“Saya berharap semoga masyarakat mulai memahami, dan tidak ada lagi beranggapan seperti itu kepada para tenaga medis yang berjuang,” singkatnya.

Editor : Fly