Reporter : Nasir
BANYUASIN, Mattanews.co – Belajar Tatap Muka (BTM) yang sudah aktif di sekolah di Banyuasin Sumatera Selatan (Sumsel),
turut disayangkan oleh Gubernur Sumsel Herman Deru.
Di tengah kisruh kebijakan tersebut, Bupati Banyuasin Askolani akhirnya mengungkapkan alasannya melaksanakan BTM meskipun kawasannya termasuk zona orange.
Askolani beralasan, bahwa diambilnya kebijakan pembelajaran tatap muka karena secara geografis Banyuasin itu beda dengan daerah-daerah lain. Dimana daerah-daerahnya terpisah-pisah.
“Ketika Banyuasin masih zona orange ke kuning, orang menganggap seluruh Banyuasin itu zonanya orange dan kuning, padahal itu tidak. Itu hanya beberapa titik saja dan semuanya itu sudah hijau bahkan putih,” ujar Askolani, Senin (31/8/2020).
Dia mencontohkan di kawasan Pangkalan Balai dan Karang Agung Ilir, dimana harus ditempuh perjalanan dari Banyuasin selama tiga jam.
Lalu Karang Agung Ilir, Tungkai Ilir, Pulau Rimau. Semua kawasan tersebut masuk zona putih.
“Daerah lain berupa satu hamparan, begitu berstatus sebagai zonanya orange kuning, maka daerah tersebut sulit untuk menghindar. Sedangkan Banyuasin punya geografi luas, lebar dan inilah alasan diambil kebijakan,” ungkapnya
Kemudian Askolani beralasan, sudah berkeliling Banyuasin baik secara langsung ataupun tidak langsung baik lewat Sosmed dan telepon.
Dirinya mendapatkan tanggapan, hampir semua masyarakat meminta anaknya itu masuk sekolah
“Kebijakan ini bukan sembarangan kita ambil kebijakan, kita lakukan penelitian kepada anak-anak, mereka kangen sekolah, guru-guru dan teman-temannya,” katanya.
Pihaknya juga menanyakan ke para guru dan wali murid, dan hasilnya mereka semua ingin melaksanakan BTM.
Kendati masih ada yang tidak setuju, namun persentasenya sangar sedikit.
“Ini menjadi pertimbangan kami dengan meminta pendapat juga dari Dandim, Kapolres dan PGRI juga tidak masalah yang penting disiplin protokol COVID-19, dan penerapannya juga mengikuti aturan dari Kementerian,” ucapnya.
Mengenai kaitannya dengan tanggapan Gubernur Sumsel Herman Deru, Askolani mengatakan itu hanya bentuk kekhawatiran sebagai pemimpin.
“Itu wajar kalau mereka punya rasa kekhawatiran. Sebagai bupati, saya bertanggungjawab atas dan ini, juga kita lakukan evaluasi, kebijakan ini. Saya pikir sudah komprehensif,” ujarnya.
Editor : Nefri














