* Karena Menjual Gas Diluar Ketentuan dan Tidak Ada Plang Nama Ditempat Usaha
Reporter : Selfy
PALEMBANG, Mattanews.co – Menanggapi laporan YLKI Kabupaten Lahat tentang banyaknya pangkalan gas nakal di Kabupaten Lahat, pihak PT Pertamina MOR II, telah mencopot lima ijin usaha pemilik pangkalan gas dan tiga agen nakal, yang menjual gas diluar ketentuan, Kamis (1/10/2020).
“Betul, setelah menerima laporan, kami sudah mengambil tindakan, dengan berkoordinasi instansi terkait. Kami tidak akan bekerja maksimal, tanpa ada kerjasama, Polri, TNI, Disprindag dan dukungan dari masyarakat. Baru-baru ini, kami sudah mencabut ijin usaha milik lima pangkalan dan tiga agen penjual gas di Lahat, karena menjual diluar dari ketentuan dan penyaluran pun tidak pada aturan,” jelas Manager Comrel dan CSR Pertamina Sumbagsel, Dwi Sriutami kepada awak media.

Disinggung dua kali surat yang dilayangkan YLKI Lahat, Dwi Sriutami menjelaskan, pihaknya telah merespon, dengan melibatkan beberapa instansi untuk study banding ke Jambi.
“Kami sudah lakukan survei di Jambi, dengan memberlakukan kartu kendali gas, agar masyarakat tertib dan aman dalam subsidi gas. Kedepan, kami juga akan menerapkan hal tersebut, sesuai permintaan Bupati Lahat. Kami bukan tinggal diam seperti yang dimaksudkan pihak YLKI. Kami tetap melakukan pengawasan pada pangkalan dan agen-agen, terbukti dengan pencabutan ijin usaha pangkalan dan agen pada bulan Agustus kemarin, alasannya karena nakal, tidak memasang papan plang dan penerapan harga tidak sesuai. Selain itu kami juga mengawasi mereka dengan tetap menerapkan harga Rp 15.650 ribu pertabung ukuran 3kg, sebagaimana ditentukan pemerintah,” tandasnya.

Sementara, Ketua YLKI Lahat, Sanderson Syarif mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat keberatan harga sebesar Rp 30 ribu untuk penjualan tabung gas ukuran 3kg.
“Tabung gas di Lahat langkah, meskipun bisa didapatkan namun harganya pun melambung tinggi, sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Disana banyak, pemilik usaha mikro yang nakal, menimbun tabung gas, hingga harganya pun ikutan tinggi. Kami sudah melaporkannya, namun tidak ada tanggapan. Mereka hanya mengatakan, kalau nanti akan melakukan study banding ke Jambi,” ujarnya.
Karena tidak ada kepastian, lanjut Sanderson, akhirnya mengelar aksi di depan Kantor MOR II Pertamina.
“Aksi damai ini untuk mempertanyakan kelanjutan surat kami. Kami tidak akan lama dan tetap mematuhi protokol kesehatan, dalam mengelar aksi ini. Harapan kami, agar pihak Pertamina merespon keluhan masyarakat Lahat,” tukasnya.
Editor : Selfy














