[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]
Reporter : Gian
MATTANEWS.CO, GARUT – Hidup bahagia merupakan salah satu poin penting dalam kehidupan. Terlebih, rutinitas kala sedang bekerja harus direlaksasi , apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini, kebahagiaan dibutuhkan untuk meningkatkan imun dalam rangka memperkebal tubuh di tengah wabah virus corona yang sedang melanda.
Ingin merasakan hal itu, seorang pria asal Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, berinisiatif membangun Taman Bahagia Indonesia di wilayahnya untuk meningkatkan indeks kebahagiaan di Indonesia.
Mengawali dengan bertujuan membuat homeschooling atau sekolah rumah bagi para anaknya, Asep Chaerulloh Namanya sang pendiri Taman Bahagia.
Terletak di wilayah Garut sebelah utara, tepatnya di Kampung Samangen, Desa Wanajaya, Kecamatan Wanaraja, kini destinasi ini menjadi primadona dan menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Kabupaten Garut, yang jarang ditemukan ditempat lain.
Dibangun pada tahun 2008, taman ini memiliki luas 2.500 meter persegi. Taman dengan tema ceria dan bahagia ini memberikan kesan yang memaknai mengenai pentingnya kebahagiaan bagi para pengunjungnya.
Balutan apik bernuansa pedesaan yang indah dan asri, Taman Bahagia dapat ditempuh hanya 13 kilo meter dari Pisat Kota Kabupaten Garut.
“Niatnya hanya membuat homeschooling untuk anak saya, menjadi perhatian masyarakat akhirnya saya memiliki tekad untuk dikembangkan lebih jauh ternyata betul punya potensi yang lebih dikembangkan untuk menjadi tempat destinasi wisata,” ujar Asep kepada Mattanews.co pada saat berkunjung ke Kota Tasikmalaya di salah satu Cafe ternama Rabu, (20/1/2021).
Asep menceritakan ketika proses pertama di tahun 2008 peletakan hanya saung kecil (gazebo), hingga pada saat tahun 2011, mulailah ditata dan ditambahkan ada spot-spot khusus dan mulai dikonsentrasikan galeri itu mulai tahun 2018.
Alasan lain dikatakan Asep, ia membangun taman bahagia ini, karena ingin membantu meningkatkan indeks kebahagiaan di Indonesia.
“Dalam hal kedermawanan, Indonesia menjadi nomor satu di dunia dan indikator-indikatornya itu bagus-bagus tapi ketika disatukan, kenapa indeks kebahagiaan Indonesia ada diurutan tahun ini 92, tahun sebelumnya 94, tahun sebelumnya lagi 88, tahun sebelumnya itu ada di urutan ke 75 jadi jauh gitu, saya ingin mengangkat tentang kebahagiaan, maka perlu dibuat sebagai tanda saja supaya saya nggak lupa akan misi itu, dibuatlah Taman Indonesia Bahagia ini gitu,” ujarnya.
Asep menjelaskan bahwa tempat ini sering dipakai untuk aktivitas warga baik untuk anak-anak bermain ataupun yang memang sengaja datang karena penasaran mendengar dari mulut ke mulut dan informasi dari media sosial.
“Pengunjung kebanyakan biasanya menjadikan tempat bermain anak-anak dan tempat sosialisasi warga, mereka bisa berkunjung disini, di belakang sana kadang dijadikan tempat makan bersama, anak bermain disitu, tempat belajar juga, kemarin juga ada tempat shooting untuk dia mau ikutan lomba pidato, selain itu kebanyakan disini mahasiswa-mahasiswa kalau ada pembinaan-pembinaan di kampusnnya,” terangnya.
Namun akibat Pandemi Covid-19, tempat yang dulunya ramai ini kini mulai berkurang dan pengunjung yang datang pun dibatasi.
“Setelah adanya Covid-19 semakin sedikit (orang berkunjung), tapi ada cuma kita tetap terapkan protokol kesehatan tidak boleh lebih dari 50 orang, harus jaga (kapasitasnya), kemarin dari beberapa organisasi ada pembinaan selama 3 hari, persilahkan boleh pake disini tapi dengan syarat jaga jarak dan izin dulu ke RT, RW, sama Lurah kalau sama aparat sudah di bolehkan ya silahkan,” ungkapnya.
Asep yang juga lulusan S-1 Institut Teknologi Tekstil ini menjelaskan ia membangun ini dengan uang sendiri yang ia sisihkan.
“Ini istilahnya itu dari Gaji kita menerapkan gaya hidup sederhana, sesuai kebutuhan, dermawan, hati-hati dan nabung, jadi kalau gaji masuk itu saya langsung punya tiga rekening, satu rekening untuk keluarga, satu rekening untuk eksperimen sosial, satu rekening lagi ya untuk pengembangan di sini. Jadi udah otomatis pas gaji masuk itu udah langsung terpecah ketiga itu,” ungkapnya.
Dengan dibangunnya taman ini, ia juga ingin mendorong kemandirian bangsa yang bisa diterapkan di Indonesia pada umumnya, dan Garut pada khususnya.
“Saya ingin dorong yang namanya strategic connection kemandirian bangsa, jadi kalau bisa kita bangun kemandirian itu tidak harus selalu mengandalkan anggaran, anggaran, anggaran, tadi itu human capital, bahwa manusia itu modal, kita bisa bikin sesuatu yang luar biasa, tidak harus selalu kalau ada uang, tapi manusia itu adalah modal, kekuatan kompetensi itu yang bisa gulirkan untuk bikin sesuatu yang luar biasa, dan dengan kekuatan kemandirian itu uang itu bukan segala-galanya,” pungkasnya.
Editor : Chitet














