BERITA TERKININUSANTARATNI DAN POLRI

Air Kembali Mengalir, Harapan Petani Bersemi: Babinsa Hulu Gurung Bongkar Sumbatan Parit di Desa Mubung

×

Air Kembali Mengalir, Harapan Petani Bersemi: Babinsa Hulu Gurung Bongkar Sumbatan Parit di Desa Mubung

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Gemericik air kembali terdengar di sepanjang saluran irigasi Desa Mubung, Kecamatan Hulu Gurung, Sabtu 18 April 2026. Pemandangan itu mengobati kecemasan petani yang hampir sebulan terakhir melihat sawah mereka terancam kekeringan akibat parit tersumbat.

Semua berubah setelah Babinsa Koramil 1206-14/Hulu Gurung, Kopda Riky Rikardo, turun langsung memimpin gotong royong akbar bersama warga.

Cangkul, sekop, dan parang beradu dengan lumpur pendangkalan. Loreng TNI dan pakaian petani berbaur dalam satu barisan, membongkar rumput liar, sampah, dan sedimen yang menutup nadi irigasi.

“Parit ini urat nadi sawah kami. Kalau mampet, padi kami mati. Alhamdulillah hari ini Pak Babinsa gerakkan semua, air sudah lancar lagi,” kata Pak Udin, petani Desa Mubung, sambil menyeka keringatnya.

*Dangkal dan Tersumbat, Petani Menjerit*

Keluhan petani Mubung bukan tanpa alasan. Desa yang jadi salah satu penopang beras di Hulu Gurung itu belakangan resah. Parit utama yang menyuplai air dari saluran primer mengalami pendangkalan parah. Rumput tebal tumbuh liar, sampah plastik menyumbat gorong-gorong, debit air ke sawah tinggal rembesan.

“Tanaman padi sudah mulai menguning. Kalau seminggu lagi tidak ada air, kami pasti gagal panen,” ujar Ibu Marni, petani perempuan yang ikut gotong royong.

Mendengar keresahan itu, Kopda Riky Rikardo bergerak cepat. Sebagai Babinsa, ia memandang persoalan air adalah persoalan perut rakyat.

Ia koordinasi dengan kepala desa, lalu mengajak warga turun serentak pada Sabtu pagi, saat mayoritas tidak ke ladang.

*Babinsa Turun Pertama, Warga Ikut Terpantik*

Pukul 07.00 WIB, gotong royong dimulai. Tanpa banyak pidato, Kopda Riky Rikardo langsung melompat ke dalam parit. Cangkulnya yang pertama mengangkat lumpur pekat. “Saya tidak bisa hanya menyuruh. Saya harus di depan, memberi contoh,” ujarnya.

Aksi itu langsung membakar semangat warga. Bapak-bapak mengangkat lumpur, ibu-ibu mencabut rumput, pemuda desa mengangkut sampah ke darat untuk dibakar. Sekitar 300 meter saluran irigasi yang jadi target utama dikerjakan bersama-sama.

“Kami hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi, salah satunya dengan membantu memperlancar aliran air yang sangat dibutuhkan oleh para petani,” tegas Kopda Riky Rikardo di sela kegiatan.

Baginya, ini bagian dari tugas pembinaan teritorial membantu kesulitan rakyat di wilayah binaan.

*Empat Jam, Parit Kembali “Bernapas”*

Hampir empat jam berjibaku dengan lumpur dan terik matahari, hasilnya langsung terlihat. Aliran air yang semula tersendat kini kembali deras.

Dari hulu, air mengalir lancar memasuki petak-petak sawah yang mulai retak. Wajah-wajah cemas petani berganti senyum lega.

“Ini baru namanya TNI manunggal dengan rakyat. Tidak cuma jaga perbatasan, tapi juga jaga perut kami,” ucap Kepala Dusun Mubung yang ikut mengawasi kerja bakti.

Kopda Riky Rikardo mengingatkan, pekerjaan ini tidak boleh berhenti sampai di sini. Ia meminta warga membuat jadwal rutin pembersihan parit secara swadaya.

“Kalau dirawat tiap minggu, lumpurnya tidak sempat numpuk. Kerjanya ringan, airnya terus ngalir, padi selamat,” pesannya.

*Irigasi Lancar, Produksi Diharap Naik*

Dengan berfungsinya kembali saluran irigasi, produktivitas pertanian di Desa Mubung diharapkan kembali optimal.

Kecamatan Hulu Gurung yang menyumbang cukup besar bagi ketahanan pangan Kapuas Hulu kini bisa bernapas lega jelang musim tanam.

Kerja sama Koramil 1206-14/Hulu Gurung dan masyarakat ini menjadi bukti bahwa persoalan di akar rumput bisa diselesaikan cepat ketika komunikasi dan aksi nyata berjalan beriringan. Bukan dengan rapat berjam-jam, tapi dengan cangkul dan keringat bersama.

Menjelang zuhur, gotong royong usai. Seragam loreng Kopda Riky Rikardo penuh lumpur, namun sorot matanya puas.

Di belakangnya, air sudah bergemericik menuju sawah-sawah yang menanti. Bagi petani Mubung, suara itu adalah musik paling merdu: nada harapan yang kembali mengalir.

Dengan irigasi yang lancar, Desa Mubung siap mengejar target tanam. Di Bumi Uncak Kapuas, TNI dan rakyat kembali menulis cerita: bahwa pendangkalan bisa dikalahkan, asal cangkul diayun bersama. (*)