MATTANEWS.CO, PALI – Insiden kebakaran terjadi dalam kegiatan Dianpinru (Pemimpin Regu) dan Dianpinsat (Pemimpin Satuan) Pramuka Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) pada Jum’at malam (31/10/25) sekitar pukul 22.00 WIB. Lokasi kejadian di halaman Sanggar Kesetaraan Belajar (SKB), Talang Kerangan, talang ubi Utara, Talang Ubi, PALI.
Peristiwa tersebut menimpa salah satu panitia yang mengalami luka bakar akibat kesalahan teknis saat pelaksanaan api unggun.
Ketua Harian Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten PALI, Sugianto, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa insiden terjadi secara tidak disengaja saat panitia mempersiapkan prosesi api unggun, yang merupakan bagian dari kegiatan malam keakraban peserta Dianpinru dan Dianpinsat.
“Benar, ada dari panitia yang mengalami insiden karena kesalahan teknis saat menyalakan api unggun. Akibatnya, yang bersangkutan mengalami luka bakar di bagian betis dan ujung tangan kiri,” ujar Sugianto saat dikonfirmasi, Senin (03/11).
Ia menambahkan, setelah kejadian tersebut, korban langsung mendapatkan pertolongan pertama oleh tim kesehatan yang berada di lokasi kegiatan. Pihak Kwarcab kemudian membawa korban ke fasilitas medis untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, tanpa menyebut tempat korban dirawat.
“Korban sudah diobati dan sekarang kondisinya berangsur membaik. Semua biaya pengobatan ditanggung sepenuhnya oleh Kwarcab Pramuka Kabupaten PALI,” jelas Sugianto.
Dari Informasi yang berhasil dihimpun, menurut keterangan warga yang menyaksikan langsung kejadian mengatakan,
“Kejadian begitu cepat, kami tidak tau persis asalnya, tiba-tiba kami melihat api membakar tubuh korban,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua LSM MACAN, Hendra Saputra, menyampaikan keprihatinannya terhadap peristiwa tersebut. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan peserta usia muda seharusnya memiliki pengawasan ketat dan standar keselamatan yang jelas agar tidak menimbulkan risiko cedera.
“Saya sangat menyayangkan terjadinya peristiwa ini. Ke depan, panitia harus lebih berhati-hati dalam menyiapkan kegiatan seperti api unggun. Bagaimana kalau kejadian ini menimpa peserta yang masih berstatus siswa? Tentu urusannya akan panjang,” ujar Hendra saat dikonfirmasi, Senin (03/11).
Ia juga mempertanyakan bagaimana kesalahan teknis tersebut bisa terjadi dalam kegiatan resmi yang diselenggarakan oleh Kwartir Cabang Pramuka PALI. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan banyak peserta, terutama pelajar, wajib memiliki sistem keamanan yang matang serta pengawasan dari pihak berkompeten.
“Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Seharusnya sudah ada antisipasi dan pengecekan sebelum kegiatan dimulai,” tambahnya.
Hendra berharap agar kejadian ini dijadikan pelajaran bagi seluruh penyelenggara kegiatan, baik organisasi Pramuka maupun instansi pendidikan, untuk lebih memperhatikan aspek keselamatan dalam setiap agenda lapangan.
“Ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi sebagai evaluasi agar tidak ada lagi kejadian serupa. Kami di LSM MACAN mendukung kegiatan kepemudaan, namun keselamatan harus menjadi prioritas utama,” tegas Hendra.














