MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Menjaga wilayah perbatasan bukan hanya tugas satu instansi. Itulah pesan utama dalam kegiatan *Tim Pengawasan Orang Asing (TIMPORA)* yang digelar Kantor Imigrasi Kelas III TPI Putussibau di Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat koordinasi antarinstansi dalam mengawasi keberadaan dan aktivitas orang asing di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia yang dikenal memiliki mobilitas lintas negara cukup tinggi.
*Buka Kegiatan, Kanwil Imigrasi Kalbar Tekankan Kolaborasi*
Acara dibuka resmi oleh Kabid Gakkum dan Patnal Kanwil Ditjenim Kalbar, Azriyal Zam. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa pengawasan orang asing di wilayah perbatasan tidak bisa berjalan efektif tanpa kerja sama lintas sektor.
“Koordinasi dan kolaborasi antarinstansi adalah kunci menjaga stabilitas keamanan. TIMPORA hadir untuk memastikan setiap informasi dan tindakan di lapangan saling terhubung,” ujarnya.
Ia katakan Badau dipilih sebagai lokasi kegiatan karena posisinya sebagai wilayah strategis perbatasan.
“Arus keluar-masuk orang dan barang di kecamatan ini cukup padat, sehingga memerlukan pengawasan yang terpadu dan berkelanjutan, “tuturnya.
*Pemaparan Tugas TIMPORA dan Peran Masyarakat*
Peserta yang hadir terdiri dari unsur pemerintah daerah, TNI/POLRI, instansi vertikal, tokoh masyarakat, hingga stakeholder terkait lainnya.
Mereka mendapat pemaparan langsung mengenai tugas dan fungsi TIMPORA, dasar hukum keimigrasian, serta mekanisme pelaporan keberadaan orang asing.
Kepala Sub Seksi TI Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas III TPI Putussibau, Naufal Fauzi Rahman, menjelaskan bahwa TIMPORA dibentuk untuk menjadi forum pertukaran informasi dan koordinasi operasional di lapangan.
“Pengawasan keimigrasian yang efektif dan profesional hanya bisa berjalan jika seluruh pihak aktif memberikan informasi. Masyarakat, perangkat desa, hingga aparat keamanan memiliki peran penting sebagai mata dan telinga di lapangan,” jelasnya.
*Satgas Pamtas Soroti Jalur Tidak Resmi*
Dari sisi pengamanan wilayah, Lettu Kav Achmad Yoga selaku Pasi Intel Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonkav 3/AC memaparkan tantangan besar yang dihadapi di sektor timur Kalimantan Barat.
Wilayah perbatasan di sektor ini sangat luas, sementara jumlah personel terbatas. Kondisi geografis yang sulit ditambah banyaknya jalur tidak resmi membuat pengawasan menjadi semakin kompleks.
“Jalur-jalur tikus sering digunakan untuk melintas tanpa pemeriksaan. Ini menjadi celah yang harus kita tutup bersama melalui sinergi dan pertukaran informasi yang cepat,” kata Yoga.
*Perkuat Kewaspadaan, Cegah Pelanggaran Sejak Dini*
Kepala Sub Seksi TI Inteldakim Kantor Imigrasi Kelas III TPI Putussibau, Naufal Fauzi Rahman menambahkan kegiatan TIMPORA tidak hanya berhenti pada diskusi dan pemaparan.
“Forum ini diharapkan mampu memperkuat kewaspadaan bersama dalam mengantisipasi potensi pelanggaran keimigrasian, mulai dari penyalahgunaan izin tinggal, kerja ilegal, hingga potensi gangguan keamanan lainnya, “tuturnya.
Tak hanya itu, pentingnya membangun sistem informasi yang cepat dan akurat. Dengan begitu, setiap temuan di lapangan bisa langsung ditindaklanjuti tanpa menunggu waktu lama.
“Langkah ini dinilai penting agar pengawasan di perbatasan Badau tetap berjalan efektif, profesional, dan responsif terhadap dinamika di lapangan, “tutup Naufal. (*)















