MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini mendapat kabar menggembirakan dari dunia konservasi. Seekor anak gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) lahir di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Sumatera Selatan, Kamis (20/8/2026).
Anak gajah berjenis kelamin betina itu lahir dari pasangan gajah Lestari sebagai induk betina dan Gapula sebagai induk jantan. Proses kelahiran diperkirakan terjadi pada Senin (17/8/2026), sekitar pukul 06.00 hingga 10.00 WIB.
Di bawah pengawasan tim medis dan mahout (pawang gajah) Sugito, kondisi bayi gajah tersebut terpantau sehat. Sesaat setelah dilahirkan, anak gajah itu bahkan sudah mampu berdiri dengan tegak dan menyusu secara normal kepada induknya.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Daniwari Widiyanto, menyebut kelahiran tersebut menjadi kabar istimewa sekaligus hadiah alam dalam momentum peringatan kemerdekaan Indonesia.
“Iya ini merupakan momen istimewa atau kado istimewa serta sangat bermakna bagi upaya konservasi satwa dilindungi di Indonesia, ditambah kelahirannya bertepatan di momen bahagia yakni hari kemerdekaan Indonesia,” katanya, Palembang, Rabu (19/8/2026).
Perhatian khusus kini diberikan kepada induk dan anak gajah tersebut. Pasalnya, kondisi cuaca di kawasan ruang terbuka PKG Jalur 21 sedang cukup panas.
Tim medis BKSDA Sumsel kemudian melakukan sejumlah tindakan untuk menjaga kondisi keduanya. Petugas menyediakan naungan atau shelter yang memadai, sekaligus memastikan ketersediaan air minum dan fasilitas mandi guna membantu menjaga suhu tubuh serta daya tahan induk dan anak pascalahiran.
Pengawasan juga dilakukan oleh dokter hewan bersama para mahout. Nutrisi pakan harian diperketat dan ditambah dengan suplemen berupa buah-buahan guna membantu mempercepat pemulihan fisik gajah Lestari.
Sementara terhadap bayi gajah, pemantauan dilakukan secara intensif selama 7×24 jam. Tim lapangan secara berkala memeriksa perkembangan perilaku, respons fisik hingga kondisi fisiologis induk dan anak dengan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) kesehatan satwa captive di PKG Jalur 21.
Kelahiran anak gajah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Kementerian Kehutanan bersama BKSDA Sumatera Selatan dalam menjaga keberlangsungan populasi gajah Sumatera agar dapat berkembang biak dan tetap terlindungi secara berkelanjutan di habitatnya.
Daniwari mengatakan, bayi gajah betina tersebut hingga kini belum memiliki nama. BKSDA Sumsel akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan terkait pemberian nama untuk anak gajah tersebut.
“Ini momen yang sangat menggembirakan, mudah-mudahan ini menjadi satu harapan cerah kedepan bagi populasi gajah bisa meningkat dan habitatnya tetap terjaga. (Apakah ada nama khusus untuk gajah tersebut?) Saat ini belum diberi nama, kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan terlebih dahulu,” ujarnya.
Karena usianya baru 3 hari, pengamanan dan pengawasan terhadap bayi gajah masih terus diperketat. Tim juga memastikan kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi serta memberikan tambahan suplemen buah-buahan untuk membantu mempercepat pemulihan fisik gajah Lestari sebagai induknya.
“Guna memastikan tumbuh kembang bayi gajah berjalan optimal, BKSDA Sumsel memberlakukan pemantauan intensif selama 7×24 jam penuh,” katanya.














